Home BISNIS Konektivitas 5G dan e-Dagang Indonesia

Konektivitas 5G dan e-Dagang Indonesia

0
SHARE

Teknologi koneksi internet terus melaju cepat. Indonesia yang belum lama menjalani pergeseran dari konektivitas 3G ke 4G, sejak diresmikan secara nasional pada Desember 2015, kini sudah dihadapkan pada era 5G. Era 5G sudah di depan mata untuk juga diadopsi.

Penerapan konektivitas 5G ini diperkirakan akan memberi dukungan bagi ritel berjejaring besar, yang memanfaatkan e-dagang (e-commerce) di Indonesia. Pemasaran produk ritel kita tahu kini tidak hanya lewat warung, minimarket, hipermarket, dan mal. Tetapi juga di “warung-warung digital,” serta laman perdagangan secara elektronik atau digital (e-dagang) di telepon pintar.

Untuk persiapan memasuki era 5G, ada operator di Indonesia yang sudah melakukan uji coba teknologi massive MIMO (Multiple Input and Multiple Output) base stations dan multiple-antenna SDMA (Space Division Multiple Access). Teknologi tersebut mampu menghasilkan jaringan dan koneksi yang lebih stabil untuk para pengguna.

MIMO base stations dan SDMA adalah alat yang dipasang berdampingan dengan BTS (Base Transceiver Station). Pemasangan itu lazimnya akan dilakukan di wilayah dengan lalu lintas penggunaan internet yang padat dan tinggi.

Lokasi yang padat itu umumnya adalah ruang publik, seperti mal, terminal bus, stasiun kereta api, bandara, dan pusat keramaian lainnya. Untuk penerapan teknologi massive MIMO, teknologi yang sudah ada tak perlu diganti, namun hanya ditambahkan alat pendukung teknologi baru tersebut.

Ketika memasuki era 5G, semua jaringan harus masuk pada tahap stabilitas tinggi. Tuntutan stabilitas jaringan itu tidak bisa ditawar lagi dan harus terpenuhi dalam era 5G.

Selain massive MIMO, sebetulnya masih ada lagi teknologi 4X4 MIMO. Bedanya, massive MIMO mampu bekerja massal dan menghasilkan hingga 64 lajur, sedangkan 4X4 MIMO hanya 16 lajur.

Untuk memahami perbedaan sebelum dan sesudah penerapan MIMO dan SDMA, bayangkanlah bahwa koneksi internet ini ibarat jalan tol. Sebelumnya, jalan tol itu begitu lebar sehingga mobil-mobil berebutan mengambil lajur yang kosong. Ada mobil yang bisa ngebut dengan kecepatan tinggi, ada juga yang terpaksa berjalan lambat. Satu pelanggan bisa mendapat koneksi internet lebih cepat, tetapi yang lain tidak. Padahal, mereka berada di lokasi yang sama.

Kini jalan tol dibuat lebih sempit sehingga mobil-mobil bisa melewatinya tanpa berebut lajur. Dengan teknologi MIMO dan SDMA, koneksi internet yang dirasakan akan merata dan adil, sehingga kestabilan kecepatan akan lebih dirasakan.

Meski massive MIMO diterapkan untuk menghasilkan kecepatan yang lebih tinggi dan terjamin, para pelanggan tak perlu khawatir harus mengganti ponsel pintar (smartphone) mereka. Perangkat 4G yang kini banyak beredar di pasar masih bisa digunakan untuk mengadopsi teknologi baru tersebut.

Sementara itu, meski belum masuk ke era 5G, internet Indonesia di tahun 2017 ini akan diwarnai oleh peluasan implementasi teknologi 4.5G. Melalui teknologi ini, masyarakat akan dapat merasakan akses data dengan jaringan yang lebih stabil. Dengan teknologi 4.5G, pelanggan akan bisa menikmati kecepatan hingga 1 Gbps.

Jaringan 4.5G akan memberikan kecepatan unduh yang tinggi, pengunaan aplikasi pintar di kehidupan sehari-hari, dan tingkat latensi yang rendah. Sehingga memungkinkan transfer data secara cepat tanpa menggunakan kabel.

Penjualan e-dagang

Kembali ke soal e-dagang, penerapan konektivitas 5G diharapkan akan makin mengembangkan penjualan produk. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan, jumlah peritel yang memanfaatkan e-dagang saat ini sekitar 60 persen dari sekitar 600 anggota Aprindo.

Mayoritas peritel yang belum masuk dalam sektor e-dagang adalah peritel lokal. Mereka umumnya berada di daerah-daerah dan belum siap dengan sistem, sumber daya manusia (SDM), dan permodalan untuk masuk ke e-dagang.

Angka penjualan menunjukkan, kontribusi ritel e-dagang masih kecil dan jauh di bawah potensi sebenarnya. Dari rata-rata omzet ritel nasional sebesar Rp 200 triliun per tahun, kontribusi ritel e-dagang cuma 8-9 persen, atau antara Rp 16 triliun sampai Rp 18 triliun per tahun.

Padahal potensi pasar e-dagang di Asia Tenggara relatif besar. Pengguna internet pada tahun 2017 ada 260 juta orang, dan diperkirakan meningkat jadi 489 juta orang pada tahun 2020. Untuk Indonesia, pada 2030 diprediksi jumlah warga yang memiliki pekerjaan meningkat menjadi 280 juta, yang merupakan generasi pengguna internet.

Data Global Retail Development Index (GRDI) AT Kearney pada 2016 menunjukkan, penjualan ritel Indonesia, baik yang modern maupun yang tradisional, mencapai 324 miliar dollar AS (setara Rp 4.318 triliun). Pertumbuhan ritel tersebut 2,3 persen per tahun, dengan kontribusi sektor e-dagang kurang dari 1 persen. Jadi, masih banyak sekali potensi e-dagang yang bisa kita perjuangkan dan optimalkan.(akt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here