Home OLAHRAGA Efek Teror Bom

Efek Teror Bom

0
SHARE

MONACO – Teror bom yang menerjang bus Borussia Dortmund, ketika menjamu AS Monaco di leg pertama perempat final Liga Champions, memang telah sepekan berlalu. Namun, hal itu tetap tidak mengurangi pengamanan yang dilakukan aparat keamanan Monaco ketika bertandang ke Stade Louis II, dinihari kemarin (20/4).

Begitu ketatnya pengamanan yang dilakukan kepolisian Monaco pun tak pelak dikeluhkan der trainer Dortmund, Thomas Tuchel. Lho, mengapa? Jadi, Marcel Schmelzer dkk sebenarnya telah bersiap di bus sejak pukul 19.15 waktu setempat, atau 00.15 WIB. Namun, kepolisian Monaco yang mengawal mereka tidak bergerak selama setidaknya 17 menit.

“Demi alasan keamanan.” Begitulah yang dikatakan oleh polisi yang mengawal mereka, ketika Tuchel menanyakan mengapa mereka tidak segera bergerak. Walhasil, mereka pun terlambat datang ke stadion, dan kickoff pun harus molor selama lima menit. Imbasnya, Dortmund pun harus menyerah 1-3 kepada tuan rumah, sehingga Monaco lolos ke semifinal dengan agregat 6-3.

Gol-gol Les Rouges et Blancs, sebutan Monaco, dicetak oleh Kylian Mbappe (3), Radamel Falcao (17), dan Valere Germain (81). Dortmund hanya mampu mendapat hiburan Marco Reus ketika paro kedua berlangsung selama tiga menit. Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Tuchel mengatakan molornya keberangkatan Die Borussen, julukan Dortmund, langsung menghancurkan mental pasukannya.

“Padahal, kami sudah menatap laga tersebut dengan semangat dan keceriaan tinggi,” keluh Tuchel dilansir dari ESPN. Namun, tatkala insiden itu terjadi, Tuchel menggambarkan bahwa anak asuhnya mengalami “keheningan mendalam.” “Fokus kami untuk sepak bola seketika sirna,” tutur eks pelatih FSV Mainz 05 itu. ”Harus diakui, ini adalah momen yang paling buruk sepanjang hidupku. Sangat canggung,” cetusnya. Selain menyalahkan cara pihak keamanan Monaco yang sengaja memperlambat mereka, dirinya juga tidak puas dengan permainan dari skuadnya. Padahal, lanjutnya, mereka menurunkan skuad yang hampir sama seperti leg pertama.

Memainkan 3-4-2-1, Tuchel melakukan rotasi dengan memainkan Shinji Kagawa alih-alih Ousmane Dembele, sejak menit pertama untuk bertandem dengan Reus, guna menopang Pierre-Emerick Aubameyang. Strategi ini langsung mereduksi eksplosivitas kecepatan Dortmund dari sisi flank. Indikatornya, pada 20 menit pertama, hanya satu tembakan yang dilakukan oleh klub asal North Rhine-Westphalia itu.

Sudah begitu, tanpa Sven Bender yang selama ini menjadi partner setia Sokratis Papastathopoulos dan Lukasz Piszcek di barisan back three, pertahanan klub kuning-hitam tersebut begitu menganga. Mbappe pun dengan leluasa menghancurkan gawang yang dijaga Roman Buerki pada menit ketiga. Baru ketika Dembele masuk menggantikan Erik Durm di menit 27, karakteristik permainan Dortmund langsung kelihatan. Dembele pun langsung memberikan assist yang mampu diselesaikan dengan cemerlang oleh Reus.

“Kami terlalu banyak melakukan kesalahan di passing dan penempatan posisi,” ujar Tuchel dengan ketus. “Hari ini (kemarin), level permainan kami belum cukup menandingi mereka,” katanya. Terpisah, bagi Monaco, ini adalah semifinal keempat sejak mereka mulai berpartisipasi di kompetisi Eropa, musim 1961-1962 silam. Ini juga menjadi semifinal pertama tim asal Prancis di Liga Champions dalam kurun waktu tujuh musim terakhir, sejak Olympique Lyon melakukannya pada 2009-2010 silam.

Adapun bagi Radamel Falcao, ini merupakan gol ke-45 yang dibukukan dalam 50 kali penampilannya di seluruh ajang Benua Biru. El Tigre, julukan Falcao, pun menjadi striker paling efisien sepanjang sejarah kompetisi yang digagas UEFA. Le Entraineur Monaco, Leonardo Jardim mengatakan meski dia puas dengan pencapaian Monaco yang berhasil menembus empat besar sejak terakhir kali melakukannya 2003-2004 silam, tetap memperingatkan pasukannya untuk tidak jemawa. “Perlu kukatakan, kami bukanlah favorit di ajang ini,” tegas Jardim dikutip dari ESPN. ”Meski begitu, kami tetap memiliki impian menembus final,” jelasnya. Prestasi terbaik Monaco di Liga Champions adalah runner up 2003-2004. Saat itu, mereka kalah 0-3 dari FC Porto yang dilatih oleh Jose Mourinho, via gol Carlos Alberto (39), Deco (71), dan Alenichev 15 menit sebelum bubar. (jpnn/apw)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here