Beranda TANGERANG HUB Musim Angin Timur, Nelayan Nekad Berlayar

Musim Angin Timur, Nelayan Nekad Berlayar

0
BERBAGI
NELAYAN: Nelayan sedang merapihkan barang-barang yang akan dikirim ke Kepulauan Seribu DKI Jakarta, melalui Dermaga Cituis, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Selasa (26/6). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

PAKUHAJI – Gelombang tinggi akibat pengaruh angin timur, membuat ratusan nelayan tradisional di Kabupaten Tangerang sebagian tak bisa melaut. Mereka harus berlindung di pulau-pulau kecil jika terpaksa harus melaut demi memenuhi kebutuhan hidup.

Nelayan Kampung Cituis RT 02/01, Desa Surya Bahari, Kecamatan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang mengaku tetap berlayar meskipun sudah memasuki musim angin timur di laut Jawa. Mereka mengaku merasa terpaksa melakukan kegiatan mencari ikan, serta dan mengantar wisatawan menuju Kepualauan Seribu, DKI Jakarta.

Ketua RT 02/01, Desa Surya Bahari Al Ihyani mengatakan, mayoritas warga berprofesi sebagai nelayan. Sekarang, sambungnya meskipun sudah masuk musim angin timur para nelayan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

“Bulan Juni, Juli dan Agustus sudah masuk musim angin timur. Jadi angin laut bertiup kencang, kemudian gelombang air laut jadi tidak tenang. Tetapi, kalau belum ada instruksi dilarang melaut dari TNI AL, Pol Air dan lain-lain, kami tetap melaut meski risiko terjadi hal yang tidak diinginkan cukup tinggi,” kata Al Ihyan, kepada Tangerang Ekspres, Selasa (26/6).

Ia menyebutkan, nelayan tetap menjalankan aktivitas melaut dan mengantarkan wisatawan menuju Kepulauan Seribu seperti Pulau Tidung, Pulau Pancang, Pulau Pari, Pulau Panggang, Pulau Tongga, Pulau Kelapa, Pulau Pramuka dan lain-lain.

“Intinya instansi terkait bisa memprediksi, kemudian memberikan instruksi ke kami kalau tidak boleh beroperasi,” ujarnya.

Al Ihyani menuturkan, pihaknya tidak mengiriman komoditas kebutuhan pokok selama dua hari ke Kepulauan Seribu pada pekan lalu. Ini karena para nelayan menerima instruksi agar tidak ada yang melakukan aktivitas di laut pada saat itu.

“Beruntung, selama dua hari itu tidak terlalu mempengaruhi kebutuhan sehari-hari masyarakat di Kepulauan Seribu,” tegasnya.

Selama sehari, Al Ihyani menambahkan, ia tidak bisa merincikan berapa banyak perahu nelayan yang mengirimkan kebutuhan pokok atau komoditas melalui Dermaga Cituis, menuju Kepulauan Seribu, serta wisatawan atau penumpang yang menyeberang. (mg-2/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here