Beranda INFO BHAYANGKARA Harga Beras Eceran Turun 0,01%

Harga Beras Eceran Turun 0,01%

0
BERBAGI
PEDAGANG BERAS: harga beras eceran Agustus 2018 menurun tipis 0,01 persen secara bulanan, mengikuti penurunan harga beras di tingkat grosir yang menurun 0,31 persen. Harga beras tidak berkontribusi apapun pada deflasi. (ilustrasi)

Jakarta — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras eceran Agustus 2018 menurun tipis 0,01 persen secara bulanan, mengikuti penurunan harga beras di tingkat grosir yang menurun 0,31 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan penurunan harga beras sudah terjadi dari tingkat penggilingan. Menurut data BPS, harga beras kualitas premium turun 0,65 persen dari Rp9,520 per kilogram (kg) menjadi Rp9.458 per kg. Harga beras kualitas medium pada Agustus kemarin berada di angka Rp9.172 per kg, atau turun 0,28 persen dari posisi Juli Rp9.198 per kg. Terakhir, harga beras kualitas rendah turun 0,42 persen dari Rp9.015 per kg menjadi Rp8.977 per kg.

“Jadi memang harga beras di penggilingan ini tercatat turun dibanding bulan kemarin untuk semua jenis kualitas beras,” jelas Suhariyanto, Senin (3/8).

Menariknya, harga yang menurun tipis ini justru tak berdampak banyak pada deflasi bulan Agustus. Komponen bahan makanan memang mengalami deflasi 1,1 persen, namun itu justru didorong oleh penurunan harga telur ayam ras dan bawang merah dengan andil deflasi masing-masing 0,24 persen dan 0,06 persen.

“Harga beras tidak berkontribusi apapun pada deflasi. Apalagi inflasi,” papar dia.

Meski harga beras terpantau turun, namun harga penjualan Gabah Kering Panen (GKP) justru meningkat. BPS mencatat GKP di tingkat petani naik 3,05 persen dari Rp4.633 per kg menjadi Rp4.744 per kg. Sementara itu, GKP di tingkat penggilingan juga naik 3,27 persen pada periode yang sama.

Suhariyanto mengakui kenaikan harga GKP yang diikuti penurunan harga beras ini merupakan anomali. Ia menduga, anomali ini disebabkan karena gabah yang digiling merupakan stok dari panen bulan-bulan sebelumnya, sehingga kenaikan harga GKP tidak berkorelasi langsung dengan penurunan harga beras.

“Namun harga GKP tinggi ini menunjukkan bahwa panen sudah menurun. Kalau dilihat kenaikan harga gabah, catatan BPS menunjukkan di Lampung sampai 7 persen, Jateng 8,7 persen, Banten 14,09 persen, ini yang harus diwaspadai,” imbuh dia.

Kenaikan GKP ini, lanjut Suhariyanto, juga berimbas pada perbaikan Nilai Tukar Petani (NTP) untuk sektor tanaman pangan yang juga naik 1,28 persen. Meski demikian, pemerintah tak boleh berpangku tangan. Masa tanam padi pada Oktober mendatang disertai stok yang berkurang bisa jadi bikin harga beras melonjak lagi.

“Pemerintah harus waspada menjelang masa tanam ini. Tapi saya yakin pemerintah sudah mengantisipasinya,” pungkas Suhariyanto.(cnn)

Selain itu, BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun atau deflasi 0,05 persen secara bulanan (month to month) pada Agustus. Angka ini berbalik arah dibandingkan bulan sebelumnya yang inflasi 0,28 persen.

Suhariyanto menjelaskan inflasi secara tahun kalender (year to date/ytd) mencapai 2,13 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi ini tercatat 3,2 persen persen secara tahunan (year on year/yoy).

Deflasi ini mengikuti tren seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana harga-harga barang beranjak turun setelah masa-masa hari raya idul fitri. Ia mencontohkan posisi Agustus tahun lalu di mana juga terjadi deflasi sebesar 0,07 persen setelah idul fitri jatuh pada Juli 2017

“Ini menggembirakan karena ini bisa bikin inflasi hingga akhir tahun bisa sesuai target pemerintah, yakni 3,5 persen,” ujarnya di Gedung BPS, Senin (3/8).

Beberapa komoditas yang menjadi kontributor utama deflasi adalah bahan pangan dengan besaran deflasi 1,10 persen dan memberi andil deflasi 0,24 persen. Bahan pangan yang memberi deflasi paling besar adalah telur ayam ras yang mengalami deflasi di 62 kota dan memberi andil 0,06 persen ke deflasi.

Tak hanya telur, bawang merah juga tercatat mengalami deflasi di 75 kota dan memberi andil ke deflasi sebesar 0,05 persen. Sementara, penurunan harga bawang merah paling jauh terjadi di Lhokseumawe dan Merauke dengan penurunan harga sebesar 21 persen secara bulanan.

“Selain itu, daging ayam ras, cabai merah, dan cabai rawit juga menyumbang deflasi masing-masing 0,01 persen,” paparnya.

Meski begitu, Suhariyanto menilai masih ada inflasi di beberapa kelompok pengeluaran. Inflasi terbesar disumbang oleh kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga dengan inflasi sebesar 1,03 persen dan memberi andil 0,08 persen terhadap inflasi. Ini lantaran biaya pendidikan masih melonjak seiring masuknya tahun ajaran baru.(cnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here