Home PENDIDIKAN Sekolah di Alam Bebas, Anak-anak Lebih Percaya Diri

Sekolah di Alam Bebas, Anak-anak Lebih Percaya Diri

0
SHARE
KEMAH: Peserta Ekspedisi Bhineka Bagi Bangsa 2018 diajak berinteraksi dengan masyarakat di kawasan sekitar Jatiluhur, mengibarkan bendera Merah Putih di Gunung Parang, berkemah, dan menempuh ekspedisi air. FOTO: JPNN

BANDUNG – Sebanyak 35 siswa SMP dan SMA dari berbagai daerah Indonesia mengikuti Ekspedisi Bhinneka Bagi Bangsa Membangun Generasi Duta Perdamaian di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Ekspedisi tersebut digelar empat hari oleh Outward Bound Indonesia (OBI) mulai 24 sampai 28 Oktober 2018.

“Ekspedisi ini memang program beasiswa untuk pengembangan karakter, semangat kebangsaan dan kebhinekaan para pelajar dengan metode pembelajaran di alam bebas. Naik gunung, main di danau dengan bermacam tantangan diharapkan membangun rasa percaya diri, kemandirian dan semangat toleransi dan solidaritas mereka sehingga saat pulang ke daerah masing-masing mereka bisa menjadi duta perdamaian,” ujar Wendy Kusumowidagdo, Direktur Eksekutif OBI di Jatiluhur.

Para peserta ekspedisi ini beragam. Mereka datang dari 13 provinsi dari barat sampai timur Indonesia, mulai Aceh hingga Papua, dengan beragam kepercayaan seperti Islam, Kristen Protestan, Katholik, dan Hindu. Jumlah peserta terbesar datang dari Papua dengan 14 siswa.

Dari Jakarta, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan terdiri dari 3 peserta, sedangkan dari Riau, Yogyakarta dan NTT masing-masing terdapat 2 peserta. Adapun dari Aceh, Sumatera Barat Lampung, Banten, Bali, dan NTB masing-masing satu peserta.

Selama empat hari pelaksanaan ekspedisi para peserta diajak berinteraksi dengan masyarakat di kawasan sekitar Jatiluhur, memanjat tebing dan membaca ikrar Sumpah Pemuda di Gunung Parang, mengibarkan bendera Merah Putih, berkemah, dan menempuh ekspedisi air menggunakan rakit yang dibuat secara bergotong-royong.

“Jiwa kebhinekaan para peserta kami tempa dengan mengombinasikan ke dalam tiga kelompok yang berbeda baik etnis, suku, atau agama. Ini bukan sekadar ajang petualangan, tapi juga cara yang disengaja untuk memupuk kebhinekaan dan toleransi antarpeserta,” tutur Wendy.

“Untuk itu, kelompoknya kami bagi dan campur dari beragam suku, etnis dan keyakinan. Seperti anak Aceh berkelompok dengan anak dari Papua yang beragama Islam, satu kelompok dengan yang beragama Kristen, Katolik maupun Hindu,” tambahnya.

Septi Khairullah, siswa SMAN Unggul Benermeriah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, mengaku bahwa ajang paling berkesan adalah saat bekerja sama dengan sesama peserta dan melakukan ekspedisi air.

“Kami dibuat untuk pantang menyerah. Kami dibiasakan untuk merundingkan segala perbedaan pendapat yang ada dalam tim. Yang menarik, dalam satu tim agamanya berbeda-beda Hindu, Kristen, Islam, tapi kami bisa tetap saling beribadah tanpa mengganggu dan bahkan disediakan tempat khusus untuk ibadah, bahkan saat tengah mendaki,” papar Septi.

Pendidikan luar ruang berbasis petualangan, akan memperkuat nilai-nilai itu, yakni menumbuhkembangkan karakter pesertanya untuk semakin kencang memegang nilai-nilai kebhinekaan, toleransi dan perdamaian. (jpnn/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here