Home PENDIDIKAN MEMBACA ORANG LAIN

MEMBACA ORANG LAIN

0
SHARE

Tantangan
“Dari tokoh yang Anda kagumi, dari orang-orang sekitar yang setiap hari berinteraksi dengan Anda, kira-kira apa kalebihan yang bisa Anda temukan dari mereka? Pelajaran apa yang penting bagi Anda dari mereka? Terhadap kelemahan yang mereka miliki, apa saja yang perlu Anda jadikan pelajaran? Membaca orang lain selalu berguna, tapi membacakan atau menceritakan kejelekan orang lain adalah dosa yang
melemahkan karakter Anda.”

Saya ingin cerita sedikit mengenai kisah seseorang. Tujuannya tidak lain supaya kita juga bisa mengambil pelajaran dari kisah ini untuk hidup kita. Bukankah kita sama-sama murid yang perlu banyak belajar dari siapa pun? Kita semua adalah muridnya Allah Swt, Tuhan penguasa segalanya, dan kita semua juga guru bagi diri kita sendiri. Setiap hari kita diberi pelajaran menurut kurikulum yang spesifik untuk kita. Pelajarannya bermacam-macam; ada yang melalui tulisan dan ada yang melalui peristiwa. Peristiwa ini bisa kita kelompokkan lagi menjadi peristiwa kita sendiri, peristiwa orang lain, dan peristiwa orang banyak, misalnya musibah yang menimpa suatu masyarakat, kelompok, kaum, atau bangsa.

Pelajaran dalam pendidikan Tuhan sering kali baru kita dapatkan setelah kita mengalami atau memaknainya. Ini karena pelajarannya tidak berbunyi. Kematian itu peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi orang tertentu tapi bisa juga hanya menjadi peristiwa biasa biasa bagi orang yang berbeda. Ini tidak tergantung pada kematiannya tapi lebih kepada sejauh mana peristiwa itu dimaknai.

Cerita yang ingin saya sampaikan di sini tentang seseorang yang awalnya memutuskan hidup biasa-biasa saja—dalam arti minimalis, tidak mau lebih kreatif, tidak mau untuk berubah. Sebut saja namanya Taro. Dia memilih hidup mengalah dari realitas. “Sudahlah kita hidup apa adanya saja,” gumamnya. Tentu ada sebabnya kenapa dia memilih seperti itu. Semua berawal ketika dia di-PHK, padahal secara usia belum saatnya. Usianya baru 48, sementara orang lain yang usianya 53 tahun tidak di-PHK. PHK ini baginya memunculkan rasa antara senang dan sedih. Senangnya karena mendapat pesangon dalam jumlah yang selama ini dia belum pernah pegang.

Boro-boro pegang, melihat uang sejumlah itu pun belum pernah. Kantornya menjanjikan pesangon 90 juta-an. Uang itu pun ditabung. Untuk kebutuhan sehari-sehari, Taro memilih freelance menjadi tenaga bantu orang-orang yang pernah dikenalnya
dulu. Pokoknya serabutan. Kalau order sedang sepi, Taro terpaksa menggunakan tabungannya. Biasanya terkait dengan kebutuhan tiga anaknya: satu di SD, satu di SMP, dan satu di SMA. Setelah berjalan dua tahun, Tuhan punya takdir baru untuk Taro. Istrinya sakit parah, sudah dicarikan obat ke mana-mana tapi tidak berhasil hingga akhirnya meninggal. Uang tabungan yang ia rencanakan untuk hari tua ludes, sisanya tinggal 15 juta setelah dipakai berbagai macam kebutuhan mengurusi istri di rumah sakit sampai ke pemakaman.

Dalam posisi sedang tidak punya pekerjaan tetap, ditinggal oleh istri tercintanya, sementara masih punya anak kecil, benar-benar membuat Taro merasa seperti dunia ini gelap. Ia masih belum percaya hidupnya bisa berubah seperti ini. Sesekali ia mau protes kepada Tuhan, kok begini amat takdirnya, tapi ajaran agama yang dipelajarinya sewaktu kecil melarang untuk itu.

Bermodalkan pengetahuan yang ia dapat dari pergaulan dan pengalamannya sendiri selama ini, Taro mulai belajar untuk beradaptasi dengan realitas barunya. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar untuk menerima kenyataan yang sebetulnya tidak ia mau. Ia mulai bangkit karena esok hari matahari harus terbit lagi dan hidup berjalan seperti biasa. Hidup tidak berhenti hanya karena ada seseorang yang sedang gulana. Meskipun sudah mulai beraktivitas, tapi ia merasa kemajuannya tidak bisa diharapkan, bahkan bisa bertahan untuk hidup saja sudah beruntung, karena usianya yang tidak muda lagi, karena persaingan yang begitu ketat dari generasi muda di bawahnya, karena kemampuan yang dimilikinya terbatas.

Dalam sebuah reuni SMP, ia bertemu dengan seorang teman yang sudah menjadi pengusaha di industri kreatif. Omzetnya miliaran. Setelah sering mengobrol, Taro dipersilakan bekerja membantu temannya itu. Betapa kagetnya Taro melihat temannya yang sudah kaya, usianya sama dengan dia, kemampuan teknisnya tidak beda jauh, bahkan temannya itu tidak bisa komputer, namun bekerja jauh lebih keras dari dirinya. Itulah awal perubahan yang ia ciptakan. Ia sadar bahwa selama ini ia telah zalim terhadap dirinya karena memanjakan diri dengan opini-opini yang melemahkan atau meninabobokkan kreativitasnya.

Melihat temannya, Taro mengganti kesimpulan: usia itu hanya perasaan, selalu memperjuangkan perubahan membuat hidup kita sehat, dan aksi adalah bukti. Selalu saya ingatkan, baik kepada diri saya atau anak-anak muda yang datang kepada saya. Jika hidup Anda tengah diselimuti kemalasan, rasa tidak berdaya, atau tidak jelas, berdoalah kepada Tuhan untuk dipertemukan dengan orang yang bisa menjadi guru Anda. Pepatah mengatakan, jika Anda sudah bertekad untuk belajar, Tuhan akan mengirimkan guru kepada Anda. Dalam teori pendidikan atau psikologi, membaca orang lain lalu hasil bacaannya kita gunakan untuk mengubah diri inilah yang disebut social learning (pembelajaran sosial). Pembelajaran ini sangat bagus bagi orang dewasa dan lebih cepat masuk ke hati. Selain memberi inspirasi yang mendorong kreativitas dan inovasi, pembelajaran sosial juga bisa memperkuat rasa percaya diri. Kalau tidak percaya, buktikan sekarang! (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here