Home PENDIDIKAN PKM Mahasiswa STMIK Eresha, Pelajar Rentan Jadi Penyebar Hoax

PKM Mahasiswa STMIK Eresha, Pelajar Rentan Jadi Penyebar Hoax

0
SHARE
PENYULUHAN: Peserta PKM STMIK Eresha, Kota Tangsel berfoto bersama dengan siswa SMAN 3 Kota Tangsel, seusai melakukan penyuluhan cara millenials menangkal hoax, belum lama ini. FOTO: Humas STMIK Eresha for Tangerang Ekspres

PAMULANG – Anak remaja sangat rentan menjadi pelaku penyebaran hoax atau berita bohong di jagat maya. Mengingat remaja mudah percaya pada hoax karena anak muda memang cenderung emosional. Setiap informasi yang masuk, apalagi yang sensasional, akan langsung disebarkan.

Hal tersebut yang diungkapkan, Riky Susanto, salah seorang mahasiswa yang menjadi peserta pengabdian kepada masyarakat (PKM), STMIK Eresha Kota Tangsel, saat menjadi pembicara sosialisasi kepada siswa SMAN 3 Kota Tangsel, dengan tema “Cara Millenials Menangkal Hoax” belum lama ini.

Kata Riky, berita hoax atau bohong di jagat maya seringkali berdampak langsung pada kehidupan nyata. Misalnya saja aksi kekerasan antar kelompok atau pun hancurnya reputasi seseorang atau perusahaan.

“Remaja seharusnya lebih bijaksana saat posting karena medsos-mu hari ini adalah portofolio di masa depan. Kalau sudah terlanjur menyebar, tidak bisa dihapus lagi,” ujarnya.

Riky mengimbau, agar remaja selalu memverifikasi berita yang didapat dari internet. “Cek kebenarannya dengan membaca sumber beritanya, bandingkan dengan tiga situs berita online lain apakah memuat yang sama,” kata Riky.

Lebih lanjut ia memaparkan, kemudahan untuk mengakses informasi dan penyebaran berita baik dari yang bisa dipertanggung jawabkan, atau bahkan berita bohong yang tersebar begitu mudah.

Nyatanya, banyak masyarakat yang tidak bisa membedakan berita yang beredar tersebut merupakan berita yang valid atau bukan. Berita bohong yang sengaja dibuat oknum tertentu dengan maksud dan tujuan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Riky menjelaskan, sosialisasi yang ingin dicapai dari kegiatan PKM ini secara umum, untuk membantu masyarakat dalam pencegahan diri agar tidak termakan berita palsu atau hoaks. Termasuk didalamnya adalah memberikan informasi mengenai dampak buruk dari berita palsu, hukum yang ada di Indonesia tentang penyebaran berita hoaks.

Oleh karena itu, pengabdian kepada masyarakat harus diarahkan kepada kegiatan yang dampak dan memiliki manfaat dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

“Seharusnya kita sudah bisa memastikan kebenaran berita tersebut, gunakan nalar apakah konten yang akan disebar itu berguna bagi orang lain atau tidak,” tegas Riky, mahasiswa magister komputer STMIK Eresha, Kota Tangsel. (dev/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here