Home PENDIDIKAN MANAJEMEN WAKTU

MANAJEMEN WAKTU

0
SHARE

“Orang yang bertanggungjawab tidak akan mengandalkan sesuatu di luar dirinya lebih dahulu.”

Saat berdiskusi dengan teman di kantor atau saat berdialog dengan sejumlah anak muda yang datang, sering muncul pertanyaan, bagaimana mungkin kita bisa kreatif sementara sebagian besar waktu kita digunakan untuk menjalani aktivitas rutin di kantor? Belum lagi macet? Dan beragam pertanyaan lainnya. Saya katakan bahwa jika yang kita lakukan hanya menuding, menyalahkan, atau mencari kambing hitam, sampai hari kiamat tiba pun kita tidak akan menemukan alasan yang tepat untuk menjadi kreatif. Kita akan terus menemukan objek yang kita salahkan. Benar tidak begitu?

Menurut saya, sangat tepat jika ada teori psikologi yang mengatakan bahwa orang yang punya rasa tanggung jawab (sense of selfresponsibility) berpotensi lebih besar untuk menjadi kreatif. Orang yang bertangung jawab tidak akan mengandalkan sesuatu di luar
dirinya lebih dulu atau tidak menuding ke luar terus-menerus. Mereka menyimpulkan bahwa dirinya adalah sumber perubahan paling utama dan bertekad melakukan sesuatu untuk mencapai keinginannya.

Orang yang punya tanggung jawab bagus seperti itu disebut dengan istilah “internal locus of control”. Sebaliknya, orang yang lemah tanggung jawabnya disebut “external locus of control”. Orang seperti ini cenderung mengandalkan kekuatan di luar diri lebih dulu, menunggu keadaan atau orang, menyalahkan terus-menerus, dan semua itu dilakukan agar dirinya tidak berbuat lebih dulu. Orang seperti ini jelas sangat sulit diharapkan menjadi kreatif.

Pak Nasir tetap kreatif mengembangkan pupuk kandang dengan segala perjuangan dan pengorbanannya meskipun tidak didukung pemerintah. Dukungan datang belakangan setelah kreativitas dan inovasinya dipakai banyak orang. Pak Nasir adalah penduduk Probolinggo Jawa Timur, dari kelompok tani Sukotani Desa Jabung Candi, yang mendapatkan anugerah Penghargaan Labdhakretya ke-19 di bidang Inovasi Pangan, tahun 2014 dari negara. Pak Nasir berhasil memproduksi dan mengembangkan pupuk dari bahan-bahan organik yang berguna bagi dunia pertanian. Beliau berhasil mengolah limbah dari kotoran sapi menjadi pupuk pestisida organik yang sangat dibutuhkan bagi kelangsungan pangan di Indonesia.

Selama yang kita lakukan hanya menuding, menyalahkan, lalu mengandalkan, selama itu pula kita akan menemukan deretan kebenaran yang justru membuat kita semakin terpuruk. Kita telah menggadaikan kontrol kita pada objek yang kita tuding dan ini akan membuat kita semakin sulit untuk menggerakkan anggota jiwa dan raga kita untuk berubah.

Bagaimana cara mengatasinya? Langkah pertama memang harus menegaskan tanggung jawab diri. Kita memang membutuhkan orang lain, keadaan yang mendukung, pertolongan manusia, dan Tuhan, tetapi jangan sampai mengandalkan atau menempatkannya sebagai syarat pertama. Justru kitalah yang harus mengandalkan usaha kita dan menjadikannya sebagai syarat pertama. Kedua adalah manajemen waktu. hal yang ingin kita capai. Kita perlu menyediakan waktu untuk memikirkan dan mengerjakan.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan teori-teori kelimuan, otak kita akan kreatif apabila sedang dalam keadaan santai tapi sadar, tidak terlalu tertekan tetapi juga tidak berleha-leha. Terlalu tertekan justru membuat kita mengalami stres kerja, di mana kita tidak optimal mengeluarkan kehebatan kita. Tapi terlalu santai juga membuat kita terlena sehingga otak kita kurang mendapatkan rangsangan untuk bekerja secara kreatif. Dengan kata lain, kita perlu waktu untuk diri sendiri agar kita bisa berpikir, berimajinasi, dan menciptakan kreasi-kreasi mental tertentu. Ini memang perlu pembiasaan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here