Home TANGERANG HUB Nyamuk DBD Tak Pilih-Pilih Usia

Nyamuk DBD Tak Pilih-Pilih Usia

0
SHARE

TANGERANG-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang mencatat 21 warga terkena Demam Berdarah Dengue (DBD). Data tersebut di dapatkan Dinkes Kota Tangerang dari seluruh rumah sakit, per Januari.

Menurut Kepala Dinkes Kota Tangerang Liza Puspadewi, virus yang berasal gigitan nyamuk jenis Aedes Aegypti bisa mengakibatkan pembuluh darah bocor.

Dalam penyakit DBD terdapat tiga macam kategori penderita. Pertama, disebut tersangka (suspect) atau masih tahap bergejala. Kemudian penderita demam dengue. Dan terakhir penderita DBD.

“Jadi kita harus bedakan ketiganya. Untuk suspect jumlahnya tidak dilaporkan. Kalau demam dengue penderitanya 57 orang. Kalau DBD itu tadi 21. Ini data per-Januari 2019 kemungkinan bisa bertambah karena memang saat ini cuaca yang sedang tidak stabil,”ujarnya.

Musim hujan, selalu berefek pada meningkatnya penyakit ini. Nyamuk Aedes Aegypti akan berkembang biak dengan cepat dalam genangan air. Terutama air bersih.

Liza menjelaskan, sumber penyakit DBD berawal dari nyamuk Aedes Aegypti yang menggit badan.

“Nyamuknya yang menebar virus ini sangat berbahaya. Karena nyamuknya itu bisa berulang-ulang, gigit ke sana, gigit ke sini. Jadi yang menular adalah nyamuknya. Itu harus dimusnahkan agar tidak ada yang terkena DBD,” lanjutnya.

Liza menambahkan, kebanyakan penderita DBD berasal dari Kecamatan Benda. Selain itu angka peningkatan penderita pun terjadi sejak pekan pertama di Januari.

“Ingat penderitanya bisa dari usia bayi baru lahir sampai usia renta bisa kena DBD. Jadi untuk DBD tidak memilih usia. Untuk itu warga diharapkan untuk tetap melakukan bersih-bersih, memeriksa wadah air dan juga merapikan pakaian kotor agar tidak menjadi sarang nyamuk yang menyebabkan DBD,”ungkapnya.

Sementara di Kabupaten Tangerang, penyakit dampak dari musim hujan mulai muncur. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi, mengatakan, diare, infeksi saluran pernafasan (ISPA), serta laptospira/kencing tikus, menjadi jenis yang perlu diwaspadai. Menurut data per Januari 2019, sebanyak 800 orang terkena penyakit ISPA seperti batuk, pilek, dan influenza. Sedangkan, diare sebanyak 200 orang serta kencing tikus belum ada laporan.

Tahun lalu, jumlah penyakit diare, dan ISPA, sedangkan untuk kencing tikus sebanyak 70 orang. Tahun ini meningkat drastis. “Data tersebut dari hasil laporan yang diterima dari 44 puskesmas se-Kabupaten Tangerang,” katanya kepada Tangerang Ekspres saat dihubungi melalui sambungan seluler, Minggu (3/2). Kata Hendra, kasus kencing tikus didominasi luka pada bagian kaki terkena genangan air yang sudah tercemari kencing tikus sebelumnya.

Untuk diare, lebih cepat tersebar melalui tumpukan sampah, karena bakteri e-coli penyebab diare, berkembang cepat di dalam tumpukan sampah. Sedangkan, ISPA didominasi influenza yang disebabkan Virus Asam ribonukleat (RNA) yang didalam tubuh virus tersebut tersebar melalui udara. Ia menjalaskan, pertumbuhan serta penyebaran penyakit tersebut dikarenakan perubahan cuaca yang begitu cepat, serta pola hidup masyarakat yang cenderung mengabaikan kesehatan.

“Kurang sadarnya akan pola hidup sehat menjadi penyebab penyebaran penyakit tersebut sangat cepat. Mulai dari tumpukan sampah, perubahan cuaca yang cepat serta debu yang menjadi penyebaran utama influenza,” lanjutnya. Penyakit tersebut tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Tangerang. Kata Hendra, daerah pesisir utara Kabupaten Tangerang paling banyak ditemukan kasus serupa. Penyakit kencing tikus, pada 2018, penyumbang paling banyak dari daerah Kronjo, Kresek, Suka Mulya, Jayanti serta Balaraja.

Sedangkan untuk penyakit diare, batuk, serta influenza muncul di daerah pesisir pantai utara Kabupaten Tangerang. Hal tesebut timbul karena kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan masih kurang. “Derah pesisir pantai utara Kabupaten Tangerang merupakan penyebarana tertinggi terdampak penyakit tersebut, karena masyarakat kurang menyadari pola hidup sehat. Untuk kencing tikus dirawat hanya di RSU Balaraja, karena mereka yang punya reagent (senyawa kimia -red) yang bisa memastikan terkena kencing tikus,” paparnya.

Untuk mencegah penyebaran, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, telah mensosialisasikan kepada masyarakat untuk meningkatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Selain itu, mengimbau kepada puskesmas se-Kabupaten Tangerang untuk melaporkan, mendata, serta terus mengamati penyebaran penyakit diare, influenza, serta kencing tikus. “Kita lakukan sosailisasi pola bersih dan sehat ke masyarakat. Mengimbau puskesmas untuk melaporkan, dan mengamati kasus penyakit tersebut. Setelah dapat laporan dari puskesmas kita lakukan penyelidikan penyebab penyakit menular. Dengan penyelidikan tersebut kita bisa menghentikan laju persebaran penyakit dengan efektif,” pungkasnya. (mg-9/mg-10)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here