Home PENDIDIKAN Pelajar Indonesia Juara Kompetisi “Coding” di Singapura

Pelajar Indonesia Juara Kompetisi “Coding” di Singapura

0
SHARE
KEBERSAMAAN: Michael Hamonangan Sitorus (tengah) ditemani kakak perempuannya dan Kepala SMAN 1 Ungaran, dalam kunjungan di Kantor Microsoft pada 23 Januari 2019.

JAKARTA – Pelajar Indonesia kembali menorehkan prestasi di ajang perlombaan internasional. Michael Hamonangan Sitorus, pelajar SMAN 1 Ungaran, Jawa Tengah, meraih juara pertama dalam ajang Asia Pacific Top Coders Minecraft Competition.

Adapun kejuaraan ini digelar oleh Empire Code Singapura yang merupakan salah satu pusat pendidikan koding di Singapura, yang bekerja sama dengan Microsoft dan Lenovo.

“Pada kejuaraan ini peserta disuruh membuat semacam world (dunia virtual) menggunakan aplikasi Minecraft Education Edition. World yang dibuat ini di-enhance pakai coding,” ujar Michael.

Kompetisi ini bertemakan “Teach Time in History” dengan pengujian dari aspek visualisasi, kesesuaian tema, coding, dan deskripsi karya.

“Kalau untuk penilaiannya itu 40 persen visualisasi, 50 persen coding, dan 10 persen diskripsi,” ujarnya.

Michael bercerita bahwa ia mengetahui adanya kompetisi ini karena ajakan salah satu gurunya di sekolah, yang merupakan anggota komunitas Microsoft di Jakarta.

Dilansir dari situs Empire Code, kompetisi ini berlangsung secara online dengan ketentuan peserta berumur 13-19 tahun. Tahapan kompetisi ini, yakni mendaftarkan diri dan mempelajari ketentuannya, buat karya Minecraft world menggunakan aplikasi Microsoft MakeCode, kirimkan karya dengan deskripsi sekitar 150-200 kata dalam Bahasa Inggris.

Kemudian, pihak Microsoft, Lenovo, dan Empire Code akan mengumumkan ketiga pemenang untuk mendapatkan hadiah menarik. “Tanggal 3 Desember baru diberi tema dari pihak penyelenggara, kemudian diminta membikin world dengan batas waktu lima hari,” ujar Michael.

“Saya membuat world tentang perkembangan Indonesia. Ide itu saya dapat dari kehidupan sehari-hari kita yang sekarang ini sudah serba teknologi, sepertigadget, dan media sosial,” tambah dia.

Kemudian, dari ide itulah timbul pemikiran bahwa Michael ingin membuat konsep kehidupan ketika teknologi itu belum seheboh sekarang ini. Ia pun membuat world dengan konsep era prasejarah, kemudian dikembangkan sampai era globalisasi yang berkembang pesat hingga sekarang ini.

Beberapa cerita dalam aplikasinya juga menampilkan Candi Borobudur yang merupakan situs sejarah dan candi Buddha terbesar di dunia. “Untuk Candi Borobudur itu sendiri bukti nyata kalau Indonesia pada era tersebut sudah mulai memiliki kepercayaan,” ujar Michael.

Untuk memenangkan kompetisi, Michael harus melawan kurang lebih 1.500 peserta dari 20 negara se-Asia Pasifik dengan pengerjaan seorang diri. (jpnn/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here