Home NASIONAL Akibat Gunung Cycloop Rusak

Akibat Gunung Cycloop Rusak

0
SHARE
BANJIR: Batu besar, lumpur dan batang pohon terbawa arus deras dan menghantam rumah penduduk di Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu malam (16/3).

JAKARTA – Banjir bandang meluluhlantakkan Kecamatan Sentani, Kabupaten Jayapura Sabtu malam (16/3). Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut, rusaknya ekosistem Gunung Cycloop menjadi penyebab datangnya banjir.

Sutopo menjelaskan, hujan lebat mengguyur daerah Pegunungan Cycloop dan Kecamatan Sentani sejak pukul 17.00 hingga 24.00. Puncaknya terjadi mulai pukul 19.00 selama satu jam dengan curah hujan mencapai 52 mm per jam. Kemudian, pukul 22.00 hingga 24.00 curah hujan kembali tinggi dengan 42,5 mm per jam. ”Hingga secara keseluruhan total curah hujan 235,1 mm per jam. Ini sangat ekstrem,” katanya.

Ketika curah hujan di gunung tinggi, palung di sungai yang mengalirkan air sudah tidak mampu menampung lagi. Akibatnya, air meluap. Kemudian mengalir serta mengikis lapisan-lapisan tanah hingga pohon yang dilewatinya.

Tak ayal, air bah yang membawa serta batu-batuan, bongkahan kayu, dan lumpur tersebut tumpah membanjiri daerah pemukiman yang berada di bagian selatan gunung.
Selain itu, lanjut dia, tipikal tanah di daratan Papua juga agak labil. Sehingga mudah mengakibatkan longsor.

Pria asal Boyolali, Jawa Tengah itu mengatakan, lingkungan gunung Cycloop sudah rusak. Banyak daerah yang gundul akibat penebangan pohon dan pembukaan lahan untuk perkebunan maupun pemukiman. Akibatnya tanpa diketahui, kemungkinan terjadi longsor yang mennyumbat aliran air di hulu.

”Nah saat hujan ekstrem seperti itu sumbatan itu pecah karena hantaman debit air yang banyak tadi,” jelas Sutopo. Jika kondisi tersebut tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi bencana serupa ketika cuaca kembali hujan esktrem.

Sutopo menyatakan, hingga pukul 16.00 WIB, jumlah korban jiwa tercatat 58 orang. Rinciannya, 51 orang di Kabupaten Jayapura dan 7 orang di Kota Jayapura.  Selain itu, 74 orang luka-luka dan 4.150 orang mengungsi yang tersebar di enam titik pengungsian. Ada tiga wilayah terdampak paling parah. Yakni, Kelurahan Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe dengan 350 rumah rusak berat diterjang banjir.

Bapak dua anak tersebut menjelaskan, saat ini, kondisi di Kabupaten Jayapura sudah berangsur pulih. Air mulai surut meski lumpur masih menjejaki beberapa bagian. Jalan-jalan sudah bisa digunakan untuk aktivitas warga. Begitu pula akses menuju Kota Jayapura. ”Bandara Sentani yang sudah bisa beroperasi normal seperti biasa,” terang Sutopo.

Di sisi lain, Kodam XVII/Cendrawasih merespons cepat musibah banjir bandang di Jayapura. Evakuasi segera dilakukan setelah air bercampur lumpur dan bebatuan menyapu jalan maupun pemukiman.  Di Kampung Taruna, Distrik Sentani, Batalyon Infanteri Raider Kostrad 751/Vira Jaya Sakti mengevakuasi seorang balita. ”Sudah terjebak banjir di kolong rumah selama kurang lebih enam jam,” terang Kapendam XVII/Cendrawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi kemarin.

Beruntung, nyawa balita tersebut masih bisa diselamatkan. ”Prada Syahril dibantu rekan lainnya menyelamatkan bayi itu,” imbuh Aidi. Dengan sigap mereka memotong kayu yang mengimpit badan balita tersebut. Hujan deras di Jayapura Sabtu (16/3) berdampak signifikan. Beberapa daerah di kabupaten dan kota Jayapura terimbas banjir bandang. Aidi menyebutkan, daerah seperti Kampung Sereh dan Kampung Yahim luluh lantak disapu banjir bandang.

Perwira menengah TNI AD itu menyatakan, informasi awal menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat banjir bandang itu mencapai 42 jiwa.

Angka tersebut lantas bertambah hingga ditemukan 70 korban meninggal dunia. Jumlahnya masih bisa bertambah mengingat proses evakuasi belum selesai. Disamping langkah itu, Kodam XVII/Cendrawasih bersama Polri dan pemerintah daerah sudah membangun posko pengungsian.

Ada beberapa tempat yang dijadikan lokasi pengungsian oleh petugas. Di antaranya kantor Bupati Jayapura, tempat tinggal bupati Jayapura, Gereja Kristen Indonesia Elim, BTN Bintang Timur, serta BTN Gajah Mada. Selain itu, Markas Komando Batalyon Infanteri Raider Kostrad 751/Vira Jaya Sakti juga menjadi posko. ”Dapur umum sudah dibangun dengan kemampuan produksi seribu sampai lima ribu bungkus,” imbuh Aidi.

Lebih lanjut, Aidi menyampaikan bahwa Kodam XVII/Cendrawasih turut mengerahkan alat berat. Terdiri atas satu unit buldoser, grader, alat penjernih air, serta kendaraan angkut. ”Selain pendukung tersebut, TNI juga mengerahkan personel dalam rangka membantu evakuasi korban,” terang dia. Khusus evakuasi korban, jumlah personel yang dikerahkan tidak kurang dari enam satuan setingkat kompi (SSK).

Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan, mereka juga sudah membangun rumah sakit lapangan. Aidi mengungkapkan bahwa jumlah petugas medis yang sudah tersebar sebanyak 40 orang. Termasuk di antaranya dokter. ”Tim kesehatan didukung lima unit ambulans dan satu unit mobil jenazah,” imbuh dia. Selain Kodam XVII/Cendrawasih, Komando Armada III juga turut serta mengirim bantuan untuk korban banjir di Jayapura.

Dari Markas Komando Pangkalan Utama TNI AL X Jayapura, dikerahkan 115 prajurit. Termasuk di antaranya personel dengan kualifikasi penanggulangan bencana untuk urusan medis. Terdiri atas dokter spesialis, dokter umum, dan perawat. Sebagian lainnya mereka kirim untuk membantu pencarian maupun evakuasi korban di lapangan. Bekerja sama dengan petugas BNPB, Basarnas, dan BPBD setempat.

Sementara Polda Papua juga melakukan pendataan jumlah daerah yang terdampak banjir di Sentani, setidaknya ada 15 titik yang terdampak banjir. Diantaranya, BTN Gajah Mada Sentani, BTN Bontang Timur Sentani, komplek Pasar Lama Sentani dan sejumlah perumahan lainnya.

Kabidhumas Polda Papua Kombespol A. M. Kamal menuturkan, untuk korban jiwa tentunya terus didata. Kendati Polda ikut mendata, namun jumlah pastinya berada di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). ”Kami juga berupaya untuk mendata kerugian materil,” ujarnya.

Setidaknya terdapat enam kejadian yang membuat kerugian materil, yakni di Komplek BTN Sosial 4 terdapat empat unit mobil yang hanyut. Di komplek Kali Ular Doyo terdapat sembilan rumah dan satu unit kendaraan yang hanyut terbawa arus. ”Di jalan Makendang lima unit rumah hancur dan hanyut,” tuturnya.

Lalu, di perumahan Pemukiman Komba 5 ada lima unit rumah yang roboh dan hanyut. Selanjutnya, satu unit rumah hanyut.
”Ada juga pesawat Adven yang hanyut hingga terbawa ke jalanan,” terangnya kemarin.

Menurutnya, Polda membantu dengan berbagai cara. Yakni dengan mengerahkan Kabiddokes Polda Papua untuk memberikan pertolongan pertama. ”Kapolda juga menginstruksikan Brimob untuk melakukan penyelamatan terhadap korban-korban yang hanyut menggunakan perahu karet,” tuturnya. (han/syn/idr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here