Home TANGERANG HUB Dinsos Tangsel Latih Disabilitas, Teknik Berjalan di Ruang Publik

Dinsos Tangsel Latih Disabilitas, Teknik Berjalan di Ruang Publik

1
SHARE
BELAJAR JALAN: Sejumlah disabilitas tunanetra dipapah para pejabat Dinsos Kota Tangsel saat pelatihan berjalan di ruang publik yang dilakukan dirumah singgah, kemarin. FOTO: Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

CIPUTAT-Bagi seorang tunanetra, berjalan di tempat ramai bukan perkara mudah. Apalagi, bila berjalan seorang diri tanpa bantuan pendamping. Butuh adaptasi lapangan sebelum ia berjalan di tempat itu.

Dalam keadan seperti ini, biasanya tunanetra mengandalkan tongkat. Namun, dengan catatan tempat yang dikunjunginya sudah dikenali terlebih dahulu. Lalu, bagaimana dengan tunanetra yang datang tanpa pendamping, atau tidak sempat mencari pendamping untuk pergi ke suatu tempat baru?

Untuk itu, Dinas Sosial Kota Tangsel mengadakan pelatihan kepekaan penginderaan untuk disabilitas tunanetra yakni berjalan di ruang publik, bertempat di Aula Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel.

Sekretaris Dinas Sosial Kota Tangsel, Saripudin Prawirya, menjelaskan, kegiatan ini dalam rangka peningkatan kemampuan penginderaan bagi penyandang disabilitas netra, sebanyak 20 peserta tuna netra diberikan pelatihan yang berlangsung selama enam hari kedepan untuk belajar peka akan indera mereka dalam mengenal lingkungan mereka.

“Kita ingin meningkatkan kemampuan penginderaan mereka untuk berjalan di tempat umum.Jika kemampuan indera mereka bagus, maka mereka bisa berjalan sendiri tanpa adanya pendamping,” ungkapnya.

Para disabilitas netra ini selama pelatihan didampingi instruktur, mereka diajarkan bagaimana menggunakan tongkat dan berjalan di keramaian.

“Selama enam hari mereka akan belajar jalan untuk melatih indera mereka, ke stasiun, naik bus dan lainnya,” jelasnya.

Sebanyak 20 peserta ini tidak hanya dilatih kepekaannya. Namun, mereka juga diberikan tongkat dan kaca mata untuk membantu mereka berjalan. “Sebanyak 20 tongkat dan 20 kaca mata kita bagikan buat peserta,” singkatnya.

Salah seorang peserta, Nur Kholik, mengungkapkan, tingkat kesulitan berjalan di keramaian dirasakan jauh lebih berat karena banyak kendaraan bermotor.

Selain itu, tidak semua jalan ramah terhadap penyandang tunanetra, terutama saat mereka menyeberang jalan raya. Belum ada tanda khusus di jalan yang memudahkan bagi penyandang tunanetra.

Untuk itu pelatihan ini sangatlah diperlukan untuk para disabilitas tuna netra. “Terima kasih kepada Dinas Sosial yang audah menyelenggarakan kegiatan ini,dalam rangka melatih kepekaan indera kami untuk mengenal lingkungan sekitar,” ungkapnya. (*)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here