Home TANGERANG HUB Bermain Musik Jadi Penghasilan Pemuda Banyu Asih

Bermain Musik Jadi Penghasilan Pemuda Banyu Asih

0
SHARE
LATIHAN: Frayoga Maulana Araisy (kanan) bermain alat musik bersama temannya di markas grup musik La’tahzan, di Kampung Pasar Sore RT 09/02, Desa Banyu Asih, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Rabu (13/11). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

MAUK – Grup musik La’tahzan dianggap menjadi ikon di Desa Banyu Asih, Kecamatan Mauk. Nama grup musik yang digawangi Frayoga Maulana Araisy ini sudah tidak asing lagi di telinga warga desa tersebut.

Grup musik yang bermarkas di Kampung Pasar Sore RT 09/02, ini aktif mengisi acara-acara diantaranya, resepsi pernikahan, resepsi khitanan dan pesta rakyat, anniversary (hari peringatan) dan lain-lain.

Sejarah terbentuk grup musik yang berdiri sejak 2014, ini berawal dari Ahmad Nuraziansyah, pamannya Frayoga Maulana Araisy, yang memiliki hobi musik. Kemudian, Ahmad membentuk grup musik ini bersama teman-temannya saat bekerja di luar negeri.

Singkat cerita, sepulangnya ke Indonesia, Nuraziansyah memberikan alat musik dan peralatan sound system kepada Frayoga Maulana Araisy. Alhasil, pria yang akrab disapa Yoga ini mengajak sejumlah pemuda untuk menyalurkan hobi mereka dalam bermusik.

Hingga akhirnya, grup musik ini diminta untuk mengisi acara-acara di desanya. Seiring berjalan waktu, nama grup inipun semakin dikenal sampai ke luar Desa Banyu Asih. Sehingga grup musik ini sering mengisi acara-acara sampai saat ini. Dengan demikian, dunia musik menjadi penghasilan pemuda Desa Banyu Asih, yang tergabung ke grup musik La’tahzan.

Kepada Tangerang Ekspres, Yoga mengatakan, dia menarif grup musiknya dengan harga Rp4 juta. “Empat juta rupiah itu untuk sistem lesehan. Hanya pakai kibor, gendang, gitar dan suling,” jelasnya.

Lebih lanjut kata Yoga, harga Rp7 juta sampai Rp9 juta, untuk tarif grup musik sekaligus panggung. “Kalau di panggung, kami ada tambahan personil seperti pemain drum, bass, saxsophone, mandolin, dan tenor,” jelasnya.

Di luar hal itu, Yoga mengatakan, membuka diri untuk pemuda Desa Banyu Asih, yang berkeinginan belajar alat musik tanpa ditarif. “Mari ikut kumpul saat grup kami latihan sesuai jadwal yang sudah ada. Saya ingin pemuda Desa Banyu Asih, yang hobi musik dapat mencari penghasilan dari panggung ke panggung,” pungkasnya.

Mahsumi Suki, Penjabat (Pj) Kepala Desa Banyu Asih mengatakan, mendukung dunia usaha kratif yang digeluti sebagian pemuda di desanya. Di samping sebagai pemusik kata Mahsumi, desanya dikenal juga dengan kampung delman.

“Sebab, banyak juga warga yang berprofesi sebagai kusir. Alhamdulillah, delman dari desa kami suka disewa untuk kegiatan-kegiatan pawai karnaval dan lain-lain,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here