Home NASIONAL Belanja APBN di Awal Tahun, Jokowi Serahkan Anggaran 2020 di Istana

Belanja APBN di Awal Tahun, Jokowi Serahkan Anggaran 2020 di Istana

0
SHARE
SERAHKAN DIPA: Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kedua kanan) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) serta Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa Tahun 2020 kepada sejumlah Gubernur di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/11). FOTO: Antara Foto/Puspa Perwitasari/Pras.

JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dan penyerahan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) di Istana Negara, Jakarta, Kamis (14/11).

Presiden menyerahkan langsung secara simbolis DIPA kepada 12 Kementerian/Lembaga yang memiliki nilai prioritas belanja pemerintah yang tinggi dan memiliki peran yang strategis. Selain itu, Presiden juga menyerahkan Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) kepada 34 Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daearah.

Presiden menyampaikan belanja negara pada 2020 direncanakan Rp 2.540,4 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 909,6 triliun akan dialokasikan kepada 87 kementerian/lembaga dan Rp 856,9 triliun akan dialokasikan untuk TKDD.

Jokowi pun memerintahkan seluruh pelaksana anggaran untuk menjalankan belanja pemerintah seawal mungkin demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

“Mulai secepat-cepatnya belanja terutama belanja modal dari DIPA yang sudah diserahkan. Segera ini dilakukan lelang, pelaksanaan Januari sudah dilaksanakan, jangan nunggu-nunggu, ini perintah,” ujar Presiden, Kamis (14/11).

Jokowi pun berkaca pada realisasi lelang tahun 2019 ini yang menyisakan Rp 31 triliun proyek belum terlaksana. Jokowi pun sempat menuding bahwa penundaan proses lelang tersebut akan membuat proyek tergesa-gesa. Hasilnya, hasil proyek yang berkualitas rendah seperti gedung sekolah yang mudah ambruk.

Jokowi juga berpesan kepada menteri-menterinya agar menomorsatukan penyampaian manfaat atas program pemerintah. Ia memandang, pemerintah selama ini terlalu berorientasi pada realisasi program saja tanpa memastikan apakah program yang dilakukan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

“Terpenting kita melihat barang berkualitas bagus, program bagus, dan rakyat rasakan manfaatnya. Itu esensinya,” katanya.

Sri Mulyani dalam paparannya menekankan Kondisi global tersebut tidak dipungkiri akan mempengaruhi pada perekonomian Indonesia, kegiatan ekonomi di beberapa sektor riil di Indonesia sudah mengalami perlambatan dan ini terlihat dari penerimaan perpajakan dari korporasi yang mengalami pelemahan.

“Laju pertumbuhan yang lemah ini harus kita bisa hadapi dan netralisir salah satunya, APBN sebagai instrumen fiskal dan sekaligus instrumen untuk melakukan countercyclical terhadap pelemahan,” kata Menkeu.

Sri menyampaikan, belanja negara akan dimanfaatkan untuk pelaksanaan dan penguatan berbagai program pembangunan seperti peningkatan Sumber Daya Manusia dan perlindungan sosial kepada masyarakat, antara lain melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-Kuliah), bantuan iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi masyarakat miskin, kartu sembako, subsidi, Program Keluarga Harapan (PKH), dan Kartu Prakerja.

Menkeu juga menerangkan untuk mendanai program-program pembangunan di tahun 2020, Pemerintah tetap menjaga kemandirian pendanaan APBB dengan memperkenalkan beberapa insentif-insentif perpajakan di dalam rangka mendukung sektor riil dan perbaikan produktivitas serta daya saing.

Insentif perpajakan tersebut, antara lain pengurangan pajak (super deduction) untuk pelatihan vokasi serta Research & Development, pemberian investment allowance untuk proyek padat karya, tax holiday, serta subsidi pajak.

“Kita berharap ini bisa mendukung program-program sektor perekonomian dan meningkatkan investasi,” kata Sri.(rep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here