Home PENDIDIKAN Menjadi Guru Kekinian

Menjadi Guru Kekinian

604
0
SHARE

Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi hal yang urgen dalam rangka menjawab berbagai tantangan abad 21. Pendidikan abad 21 mensyaratkan pembelajaran kooperatif, kolaboratif, menguasai teknologi, informasi, dan komunikasi. Oleh karena itu, setiap satuan pendidikan harus mampu mengantisipasi, sekaligus menyelenggarakan layanan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Satuan pendidikan harus mampu melahirkan output pendidikan yang berkualitas. Memiliki keahlian dan kompetensi profesional yang siap menghadapi kompetisi global.

Untuk menjawab tantangan tersebut, maka bagi guru di SMPN 1 Mauk, Kabupaten Tangerang berkomitmen melaksanakan dan mengimplementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), secara berkelanjutan sampai terpenuhinya Standar Nasional Pendidikan serta bertekad menjadikan SPMI sebagai budaya mutu di lingkungan sekolah.

Tekad tersebut diawali dengan menggoreskan pena untuk menandatangani kesepakatan, menyatakan sebuah komitmen bersama warga sekolah dan seluruh stake holder, terkait untuk memenuhi SNP dan membentuk karakter budaya mutu.

Sistem penjaminan mutu internal yang dilaksanakan di SMPN 1 Mauk, pada awalnya sulit dilakukan karena terus terang saja, sangat susah mengubah budaya dan kebiasaan kami, sebelumnya ketika melakukan pembelajaran di kelas.

Sebagai contoh kesulitan ketika belum mengenal SPMI adalah belum dapat mengoperasionalkan RPP sebagai starter pembelajaran di kelas. Sehingga pengelolaan kelas dirasa belum maksimal, serta tidak dapat menerapkan gaya belajar yang cocok untuk siswa sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman.

Akhirnya refleksi pasca proses pembelajaran menjadi hal yang terlupakan, karena tidak semua guru melaksanakan pembeajaran kolaboratif sesuai yg diamanatkan dalam kurikulum 2013.

Kesulitan selanjutnya adalah lemah dalam menyusun bahan ajar yang menggunakan media berbasis IT. Tentu saja ini menyebabkan siswa bosan dalam pembelajaran di kelas. Hal ini pada akhirnya, berpengaruh pada output hasil penilaian siswa yang belum mencapai standar kriteria belajar minimal.

Melihat kondisi demikian, seakan tidak mengenal kata lelah dan diam, epala sekolah berusaha membangun dan membakar spirit guru dengan menghadirkan suatu program yang belum akrab ditelinga sebagian guru.

Program tersebut dikenalkan kepada kami dengan nama PLC (Professional Learning Community). PLC merupakan inti komunitas pembelajar profesional di sekolah, dengan menerapkan pembelajaran

kreatif, inovatif dan handal (kekinian) ditujukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran siswa.
Dalam PLC terjadi saling tukar informasi, pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman mengajar antar guru dengan guru, guru dengan staf atau guru dengan kepala sekolah ataupun antar guru dengan pengawas sekolah.

PLC di SMPN I Mauk difokuskan pada segala hal yang terjadi dan terkait dengan mutu pembelajaran yang ditujukan, untuk pencapaian standar mutu, proses dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, termasuk dalam aktivitas pemecahan masalah-masalah yang dihadapi para guru di kelas, serta upaya pengembangan model atau strategi-strategi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran kolaboratif ini berlandaskan pada nilai kerjasama dan kolegialitas. Kerjasama berarti anggota komunitas berkemauan untuk saling membantu dan mendukung antara satu dengan lainnya, untuk keberhasilan pencapaian tujuan bersama.

Nilai kerjasama dan kolegialitas yang kuat membuat setiap individu dalam komunitas ini, merasa nyaman tidak hanya dalam hal belajar dari individu yang lain. Namun juga berbagi pengalaman keberhasilan dan kegagalan pada rekan guru lainnya.

Hadirnya PLC bagi guru SMPN I Mauk menjadikan guru terbiasa mengkomunikasikan dan mendiskusikan secara terbuka, berbagai permasalahan atau kesulitan mengajar kepada guru lain tanpa rasa takut, sungkan, atau malu.

Guru juga terbiasa berbagi pengalaman, pengetahuan dan kemampuannya dengan guru lain. Tanpa kekhawatiran akan terjadi kesalahpahaman. Selain itu, Guru-guru juga menghargai perbedaan pendapat. Tidak hanya diskusi, namun juga debat merupakan hal yang dipandang lazim terjadi. Hal ini karena mempertanyakan kebiasaan atau tradisi yang telah lama berjalan kemudian mengkaji dan mendiskusikannya untuk memperoleh pemahaman, pengetahuan dan hal-hal baru yang lebih baik telah menjadi hal yang sering dan biasa untuk kami.

Akhirnya dengan PLC lahir sebagai pembelajar yang baru, yang siap mentransfer bergabagai ilmunya selaras dengan tuntutan abad 21. Guru giat membuat media pembelajaran berbasis IT, agar siswa merasakan pengalaman belajar yang luar biasa dan juga mampu mengadakan penilaian harian secara online, sehingga siswa langsung mengetahui hasilnya.

Penulis Adalah Guru IPS SMPN 1 Mauk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here