Home TANGERANG HUB Budidaya Maggot, Solusi Tanggulangi Sampah

Budidaya Maggot, Solusi Tanggulangi Sampah

0
SHARE
KUNJUNGAN: Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Sepatan Timur Haerudin (kedua) melihat kandang maggot di Kampung Tempe, RT 01/04, Desa Jatimulya, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Rabu (29/1). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

SEPATAN TIMUR – Komunitas Kandang Maggot Tangerang (Kamaggota) dan Tim Pemuda Peduli Lingkungan (TPPL) Desa Gempol Sari, berkolaborasi dalam upaya penaggulangan sampah di Kecamatan Sepatan Timur.

Kamaggota adalah komunitas pembudidaya larva atau maggot. Sebagai media pertumbuhan maggot, komunitas ini membutuhkan sampah organik setiap harinya. Dengan begitu dengan membudidaya maggot dianggap menjadi salah satu solusi dalam menanggulangi persoalan sampah.

Ahmad Ramdani, Koordinator Kamagota mengatakan, saat ini membutuhkan sekitar dua 200 kilogram sampah organik sebagai media pertumbuhan maggot per hari. Dari media pertumbuhan (sampah) sebanyak itu, dapat memproduksi sekitar 10 kilogram maggot.

“Kalau kami ingin meningkatkan jumlah panen maggot, maka jumlah sampah organik yang digunakan akan semakin banyak,” kata pria yang akrab disapa Deni ini, kepada Tangerang Ekspres, dilokasi budidaya maggot, di Kampung Tempe, RT 01/04, Desa Jatimulya, KecamatanSepatan Timur, Rabu (29/1).

Bayangkan kata Deni, apabila komunitasnya ingin memproduksi maggot sebanyak 100 kilogram per hari. Berarti komunitasnya membutuhkan sampah organik sebanyak 2.000 kilogram (dua ton) sampah per hari.

Bayangkan lagi kata Deni, apabila pembudidaya maggot terdapat di delapan desa di Kecamatan Sepatan, berarti membutuhkan 16 ton sampah organik. Dengan demikian itu dapat membantu menanggulangi sampah.

“Di sisi lain, maggot berguna sebagai pakan ternak. Maggot dapat dijual dengan harga Rp7.000 per kilogram. Harga ini lebih murah dari harga pelet antara Rp10 ribu sampai Rp11 ribu per kilogram. Kandungan protein dalam maggot-pun bagus,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Suryono, Koordinator TPPL Desa Gempol Sari mengatakan, kendala dalam peningkatan jumlah produksi maggot adalah dana untuk belanja peralatan budidaya maggot. Diantaranya alat transportasi untuk mengangkut sampah, mesin pencacak sampah dan biopon atau tatakan.

“Kedepan kami ingin bisa bekerja sama dengan pemerintah desa, pemerintah kecamatan dan pemerintah daerah, agar dapat memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan komunitas ini sebagai langkah penanggulangan sampah dan pemberedayaan masyarakat,” ucapnya.

Dikatakan pria yang akrab disapa Capit ini, sementara ini Kamaggota mengambil sampah organik dari Pasar Sepatan. Kedepan ia ingin komunitas ini mengambil sampah organik dari rumah-rumah warga.

“Dengan catatan kami menyediakan tempat sampah untuk warga. Nah pemodalan pengadaan tempat sampahlah yang menjadi salah satu kendala kami juga,” ungkapnya. “Nanti warga-warga yang memberikan sampah organik akan menerima poin. Nah poin-poin ini dapat ditukar dengan barang. misalkan dengan minyak sayur,” pungkasnya.

Haerudin, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Sepatan Timur mengatakan, mendukung langkah inovasi pemuda di Kecamatan Sepatan Timur. Apalagi, tujuan dari inovasi mereka sebagai upaya penanggulangan sampah dan pemberdayaan masyarakat.

“Di lain sisi, harga maggot yang dibawah harga pelet, dapat membantu para peternak di Kecamatan Sepatan Timur,” ujarnya. “Segera saya coba sosialisasikan ide ini ke desa-desa, agar mereka dapat bersinergis dengan pihak pemerintah desa se-Kecamatan Sepatan Timur,” singkatnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here