Home TANGERANG HUB Napi Kabur, Banyak Kejanggalan, Komisi III DPR Sidak Lapas Kelas I Tangerang

Napi Kabur, Banyak Kejanggalan, Komisi III DPR Sidak Lapas Kelas I Tangerang

0
SHARE
Napi Kabur, Banyak Kejanggalan, Komisi III DPR Sidak Lapas Kelas I Tangerang
Komisi III DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua Desmond J Mahesa sidak ke Lapas Kelas 1A Tangerang, untuk mempertanyakan kaburnya terpidana mati kasus narkotika warga Tiongkok, Cai Changpan, Rabu (23/9). FOTO: Randy Yastiawan/Tangerang Ekspres

KOTA TANGERANG-Komisi III DPR terusik oleh kaburnya Cai Changpan, terpidana mati kasus narkoba dari Lapas Kelas I Tangerang. Mereka melakukan inspeksi mendadak ke lapas, yang berada di Jalan Veteran, Babakan, Kota Tangerang, Rabu (23/9).

Sidak dipimpin Wakil Ketua Komisi III Desmond J Mahesa. Politisi Gerindra asal Serang itu, menemukan banyak kejanggalan saat melihat langsung kamar tahanan yang ditempati Cai Changpan. Para wakil rakyat itu melihat langsung kondisi terowongan yang digali Cai Changpan dari kamar tahanan yang menembus ke gorong-gorong di luar lapas. Dari terowongan inilah, Cai Changpan kabur pada Senin (14/9) dini hari lalu.

“Ini tidak masuk akal,” kata Desmond. Ia mengatakan kedatangannya ke Lapas Kelas 1 Tangerang, untuk mengetahui kronologis kejadian kaburnya bandar narkoba asal Tiongkok itu. Ia tak sendiri. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Banten R. Andika Dwi Prasetya dan Kepala Lapas Kelas I Tangerang Jumadi, ikut mendampingi. Saat melihat lubang menganga di kamar tahanan Cai Changpan, Desmond geleng-geleng kepala. Ia menemukan banyak kejanggalan.

Saat bertanya kepada kalapas, bagaimana Cai Changpan membuang tanah bekas galiannya, tidak ada yang tahu. Menurut Desmond, sangat tidak masuk akal, tidak ada tanah bekas galian dari lubang sedalam 3 meter di kamar tahanan dan terowongan sepanjang 30 meter. Lalu, ubin dari keramik di kamar tahanan tidak ada yang dicopot.

Hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan Polres Metro Tangerang Kota, Cai Changpan membuat terowongan tidak dalam waktu satu malam. Melainkan sejak 6 bulan lalu. Penyelundup 135 kg sabu yang dijatuhi vonis hukuman mati oleh PN Tangerang itu, menggali lubang setiap malam, mulai pukul 22.00 WIB. Informasi ini berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap teman satu kamar Cai Changpan, yang divonis 17 tahun penjara juga dalam kasus narkoba. Napi tersebut sempat diajak kabur oleh Cai Changpan lewat terowongan tersebut, namun tidak mau.
Desmond banyak melihat kejanggalan dalam kasus ini. Seperti, tidak adanya tanah sisa galian dan ubin keramik yang dicopot untuk membuat lubang.

“Kita lihat tanahnya gak ada, tidak mungkin orang memecahkan keramik kalau keramik tidak ditemukan,” ujarnya usai sidak di Lapas Kelas 1 Tangerang, kemarin (23/9).

Desmond menggambarkan, lubang tersebut berada tepat di bawah tempat tidur. Di mana kedalaman mencapai 3 meter dan panjang sekitar 30 meter. Diameter lubang pun sangat kecil. Hanya muat satu orang. Menurutnya, oksigen pun akan sangat terbatas, jika Cai Changpan kabur melewati lubang itu.

“Jadi untuk menggali 3 meter ke bawah, berapa banyak tanah, oksigen tidak ada, habis itu lurus 30 meter. Itu tidak ada buangan tanah. Jadi ini gimana, kayak manusia cacing,” ungkapnya.

Atas kejanggalan itu, dia meminta agar Polda Metro Jaya dan Polda Banten melakukan investigasi mendalam. “Jadi kita melihat ini kesannya ada direkayasa. Untuk membuktikan apa yang kita temukan hari ini (kemarin) kita minta Polda Metro Jaya, Polda Banten untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” tegasnya.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham Banten Andika Dwi Prasetya menyatakan, terdapat lima petugas yang dianggap bertanggung jawab dalam kasus ini. Mereka saat ini dipindah tugaskan ke Kantor Wilayah Kemenkumham Banten, guna mempermudah pemeriksaan.

“Yang kita anggap sementara bertanggung jawab, kita tarik ke kakanwil itu untuk pendalaman lebih jauh,” katanya.

Andika mengungkapkan, napi tersebut tidak dikirim ke Lapas Nusakambangan, karena tidak masuk dalam kategori berisiko. Ditambah lagi, aksi kaburnya Cai Changpan saat di Rutan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Mabes Polri di Cawang, Jakarta Timur pada 24 Januari 2017, tidak dilaporkan.

“Tidak masuk pada kategori berisiko. Kan metodenya ukuran perilaku. Nah, kita tidak ada informasi (saat kabur pertama kali, Red),” jelasnya. Andika sendiri juga mengaku heran ke mana tanah hasil galian dibuang. Untuk itu pihaknya terus melakukan pendalaman kepada saksi-saksi yang ada. “Itu kita gali terus, agar misteri ini bisa diketahui kan. Sayapun aneh,” ungkapnya.

Andika menuturkan, saat ini pengawasan terhadap lingkungan dan kerabat napi yang kabur sedang dilakukan. Bisa jadi, napi tersebut kabur ke keluarga atau ke kerabatnya. “Kami juga sudah melakukan penyekatan, agar Cai Changpan tidak melarikan diri ke negaranya. Kita sudah menyebar ke seluruh wilayah informasi Daftar Pencarian Orang (DPO),” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Tangerang Jumadi tidak mau memberikan tanggapan. Para wartawan yang memberondongnya dengan pertanyaan, saat keluar dari pintu lapas hingga ke mobilnya, tak satu pun dijawabnya. “Kan sudah sama pak kanwil tadi,” ujarnya. Ia terlihat kebingungan. Jumadi sempat salah arah menuju mobilnya. Mobil Jumadi sejak dari awal di parkir di sisi kanan lapas. Begitu keluar dari pintu lapas dan dicegat wartawan, ia langsung berjalan tegesa-gesa berusaha menghindar, berjalan ke sisi kiri ke tempat parkir mobil. Sadar dia salah jalan, ia berjalan cepat mengubah arah ke kanan. Ke tempat ia memarkirkan mobilnya. Lalu masuk ke dalam mobil. Sang sopir pun tancap gas meninggalkan kerumunan wartawan. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here