Home TANGERANG HUB Konservasi Plus Belajar Inggris

Konservasi Plus Belajar Inggris

0
SHARE

SERPONG-Tangsel kini memiliki Kampung Inggris. Lokasinya berada di RT4, Kelurahan Ciater, Kecamatan Serpong, Kota Tangsel. Selain bakal jadi Kampung Inggris, lokasi ini juga sebagai lahan konservasi. Kampung Inggris ini, diberi nama Rakyat Indonesia Membangun (Rimba). Kemarin, keberadaannya diresmikan Walikota Airin Rachmi Diany. Lahan seluas 2,1 hektare tersebut, diharapkan mampu  meningkatkan kualiatas warga dalam berbahasa Inggris.

Pengelola Kampung Konservasi Rimba, Gusri Effendi menjelaskan, Kampung Rimba memiliki konsep ecowisata. Karena selain belajar berbasaha asing, anak-anak juga dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. “Lokasi ini belum genap setahun dibuat. Anak-anak selain dapat belajar juga dapat bermain dan belajar mengenai pertanian,” ujarnya, Minggu (22/10).

Gusri mengatakan, peresmian balai belajar english village bertujuan untuk mendukung perogram Walikota Tangsel di bidang pendidikan. Tepatnya program peningkatan sumber daya manusia dan inovasi pertanian bagi masyarakat. Dia berharap, lokasi ini ke depannya mampu menyaingi Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. “Mudah-mudahan Pare bisa kita pindahkan ke sini,” harapnya seraya mengatakan, kota akan maju jika ada kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

Lebih lanjut, Ketua Perhimpunan Pengusaha Hotel dan Restoran (PHRI) Kota Tangsel ini mengatakan, untuk program tahap pertama pihaknya akan melakukan pembinaan terhadap anak-anak yang berada di sekitar kampung konservasi. “Nanti hanya satu Rukun Tetangga yang dibina, yaitu anak-anak di RT 04 agar Bahasa inggis menjadi hal yang biasa,” tambahnya.

Di lokasi yang sama, Walikota Tangsel Airin Rahmi Diany mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi kehadiran balai belajar english village. Dalam kesempatan tersebut, Airin sempat memuji gagasan Gusri membangun ecowisata di hadapan peserta yang hadir. “Kalau ada tiga Pak Gusri, sudah selesai saya tugasnya,” ujarnya sembari disambut tawa dan tepuk tangan peserta yang hadir.

Mantan Finalis Putri Indonseia ini mencontohkan, program urban farming yang dilakukan Gusri merupakan solusi pemanfaatkan lahan yang minim. Dia menilai, peluang usaha pertanian menggunakan sistem urban farming sangat berpotensi di Tangsel. Karena Kota Tangsel memiliki konsumen akhir hasil pertanian masyarakat, yaitu hotel dan restoran. “Yang penting kuncinya satu yaitu masyarakat tidak terlena karena ingin mendapatkan uang secara cepat, akhirnya kerja kerasnya berbeda. Ini menjadi tantangan bagi saya” ujarnya.

Airin menginginkan keberdaan Kampung Konservasi Rimba Agar menjadi destinasi wisata Kota Tangsel. Pihaknya juga meminta Kepala Dinas Pariwisata untuk me masukan Kampung Konservasi Rimba ke dalam website Dinas Pariwisata. Sehingga dapat dikunjungi oleh masyarakat baik yang berasal dari Tangsel maupun luar daerah.

Tingginya animo masyarakat akan area ruang terbuka, membuat Pemkot Tangsel berencana akan membuat civic canter sebagai bagian dari RPJMD. Sekadar diketahui di tahun 2018 pihaknya berencana membuat civic center di Pamulang dan 2019 di Ciater. “Tapi, kalau hanya menggunakan dana APBD mungkin terbatas hingga tahun 2021,” tambahnya.

Sesuai visi dan misi agar Kota Tangsel menjadi sebuah kota yang cerdas, berkualitas, berdaya saing berbasis teknologi dan inovasi membuat setiap masyarakat wajib memiliki keterampilan. Dia mencontohkan, akibat tidak memiliki daya saing, membuat salah seorang warga mengeluh kepadanya karena anaknya bekerja sebagai cleaning service di sebuah mal di Serpong.

“Agar memiliki daya saing, di RPJMD saya akan fokuskan di bahasa asing dan komputer. Alhamdulilah, sedini mungkin anak kita diajarkan bahasa lain selain bahasa Indonesia,” tambahnya, seraya meminta untuk dilakukan penyeleksian terhadap orang tua yang mau ikut pelatihan, tujuannya agar pesertanya tidak monoton.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel Taryono mengatakan, mencetak generasi cerdas, berkualitas dan berdaya saing itu diperlukan di Kota Tangsel. “Sementara di sini dulu tempat belajar masyarakat, mamun jika dimungkinkan, akan dilakukan di tempat lain, akan bagus juga,” pungkas lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah ini. (mg-6/esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here