Home TANGERANG HUB Harga Telur Tak Kunjung Turun

Harga Telur Tak Kunjung Turun

0
SHARE
CARI YANG BESAR: Dua orang pengunjung supermarket memilih telur yang akan mereka bawa ke petugas timbang. FOTO: Dok. Miladi/Tangerang Ekspres

PAMULANG-Sudah sepekan lebih, harga telur di Kota Tangsel naik. Bahkan, kini kenaikannya hampir mencapai 50 persen. Hal tersebut dikeluhkan warga.

Berdasarkan pantuan Tangerang Ekspres Rabu (18/7) di Pasar Jombang, harga telur per kilogramnya Rp28.350, di Pasar Bintaro Rp29.000, Pasar Ciputat Rp29 ribu, Pasar Serpong Rp29 ribu, Pasar Jengkol Rp29.350 dan Pasar Cimanggis Rp29.650. Harga tersebut dalam sepekan mengalami naik turun mencapai Rp3.000 per kilogram.

Susanto, penjual telur di Pasar Ciputat mengatakan, sudah hampir satu bulan harga telur mengalami kenaikan hampir 50 persen. Sebelumnya harga telur hanya Rp22 ribu. Namun, saat mencapai Rp29 ribu. Menurutnya, kenaikan harga telur pun mempengaruhi penjualan.

“Biasanya sehari habis 90 kilogram, sekarang paling 50 sampai 60 kilogram. Pembeli banyak yang mengeluh. Yang biasanya membeli sampai 20 kilo, sekarang hanya 10 atau 15 kilo,” kata dia Susanto saat ditemui di Pasar Ciputat, Rabu (18/7).

Terpisah, Aldi Lubis, Agen Telur di Pasar Bukit, Kelurahan Pondok Benda mengatakan, sudah satu minggu harga telur naik menjadi Rp26 ribu. Biasanya, kata Aldi, dirinya menjual telur dengan harga Rp20 ribu. Namun, kata Susanto, kenaikan ini tidak mempengaruhi penjualan. “Enggak ngaruh sih, tetap banyak yang beli, kebanyakan warga sekitar dan pedagang yang beli di sini,” kata dia.

Salah seorang pembeli, Sumiyati warga Pamulang mengeluhkan kenaikan telur tersebut. Menurutnya, kenaikan ini tentunya mempengaruhi pengeluaran sehari-hari. “Jadi mahal banget. Biasanya hanya Rp20 ribu, sekarang ko naiknya sampai ada yang jual Rp30 ribu,” kata dia.

Pada bagian lain, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menyatakan, melonjaknya harga telur di pasaran bukan terjadi dalam waktu dekat ini. Namun, dalam beberapa hari terakhir ini kenaikan harganya sangat tinggi.
“Persoalan telur ini sebenarnya bukan satu dua hari saja, melainkan sudah cukup lama. Cuma memang dalam minggu ini kenaikannya lebih agresif dibandingkan sebelumnya yang kenaikannya bisa 300 sampai 500 perak,” tutur Abdullah, seperti dikutip Kompas.com, Senin (16/7).

Abdullah mengakui, kenaikan harga telur ayam tersebut tak hanya merisaukan konsumen, melainkan juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang. Pasalnya, selain semakin sulit menjualnya para pedagang juga mengalami kesulitan dalam memperoleh telur ayam tersebut. Kesulitan itu semakin diperparah dengan tak mampunya para pedagang menambah modal jualannya.

“Semakin mahal harga semakin sedikit jumlah produksi yang kami dapat. Modal kami katakanlah sehari sejuta ya, ya sehari terus sejuta. Kami enggak bisa tambah modal lagi. Produksinya kan semakin berkurang,” ujar Abdullah.

Lebih lanjut dia mengatakan, para pedagang membeli telur ayam dari produsen dengan harga mencapai Rp 26.000 per kilogram. Oleh sebab itu, mereka menjualnya kembali ke konsumen pada kisaran Rp 28.000 hingga Rp 29.000 per kilogram. “Selepas Lebaran sampai sekarang ritmenya naik terus, enggak ada penurunan. Otomatis ya kami naikkan harga karena kami terima itu harganya sudah tinggi, enggak mungkin dong kami jual rugi,” imbuh Abdullah.

Abdullah pun kemudian mengidentifikasi penyebab kenaikan harga telur ayam tersebut. Menurut dia, minimnya produksi komoditas ayam petelur menjadi biang keladi mahalnya harga telur di pasaran. “Yang pertama kalau bicara soal telur itu enggak bisa lepas dari ayam dan ayam ini sebenarnya bermasalah. Ujung pangkal persoalannya ada di ayam sebenarnya,” terangnya.

Persoalan pertama, kata Abdullah, ada pada pembatasan pembibitan dan kedua adalah pembatasan obat yang berujung pada produksi ayam melambat. Jika biasanya dalam waktu tiga bulan ayam sudah besar dan bisa bertelur, dengan pembatasan obat tersebut harus menunggu hingga empat bulan. “Ketiga adalah soal pakan. Pakan ini ada yang mengikuti dollar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah sekarang ini membuat distribusi pakan jadi terganggu,” tutur Abdullah.

Penjualan para pedagang pun diklaim turun selama seminggu terakhir. “Selama seminggu ini penjualan telur ayam turun 30 persen di pasar-pasar. Konsumen beralih ke komoditas lainnya, seperti ikan, tempe, dan tahu. Ketiganya naik 30 persen penjualannya,” sebut Abdullah. (mg-7/kom/esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here