Home TANGERANG HUB Warga Buka Paksa Pintu Air Pondok Jaya

Warga Buka Paksa Pintu Air Pondok Jaya

1
SHARE
PINTU AIR: Pintu air jembatan Desa Pondok Jaya menjadi tempat pengaturan suplai air ke persawahan para petani. FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

SEPATAN – Para petani Kelurahan Sepatan dan Desa Sarakan, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang mengeruduk petugas pintu air jembatan Desa Pondok Jaya. Pasalnya, petugas menutup pintu air. Alhasil, debit saluran air tersier Sungai Cisadane tidak mengalir sampai ke lahan persawahan milik petani

Anwar, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sepatan mengatakan, selama ini petani mengandalkan saluran air tersier Sungai Cisadane untuk mengairi lahan persawahan. Sebenarnya saluran ini bukan hanya digunakan untuk petani di kedua wilayah tersebut.

“Saat itu, sawah yang dikelola petani mengalami kekeringan, karena debit saluran air tersier Sungai Cisadane mengering. Setelah ditelusuri, ternyata petugas menutup pintu air jembatan Desa Pondok Jaya, sehingga dapat disimpulkan hal tersebut menjadi penyebab sawah kekeringan,” tutur Anwar, Kamis (27/9).

Puncaknya, para petani yang berasal dari kelompok tani (poktan) Subur dan Oja Mandiri, berkumpul di pintu air jembatan Desa Pondok Jaya mencari oknum petugas pintu air untuk membuka kunci pintu air tersebut.

Setelah anggota Polisi dan TNI berkoordinasi dengan petugas pintu air, maka pintu air jembatan Desa Pondok Jaya dibuka. Dalam proses pembukaan pintu air yang dilakukan seorang petugas, petani mengutarakan kekecewaan, mereka nyaris melampiaskan kekecewaan secara berlebihan kepada petugas pintu air. Beruntung, beberapa personil Polisi dan TNI yang bersiaga dapat mengendalikan suasana.

Berdasarkan informasi yang diterima, ia menyebutkan, para petani sudah meminta kepada instansi terkait untuk memindahkan oknum petugas pintu air jembatan Desa Pondok Jaya, ke tempat lain. Sebab, petani selalu diminta uang bila ingin mendapatkan suplai air saluran tersier Sungai Cisadane. “Tapi, kalau saya tanya yang bersangkutan tidak ngaku kalau suka mintain uang ke petani,” ujarnya.

Sebelum petani menggeruduk petugas pintu air jembatan Desa Pondok Jaya, ia mnegungkapakan, seluas lima belas hektare lahan persawahan padi nyaris puso atau gagal panen karena kekeringan.

“Masa tanam padi sudah berumur satu bulan, kalau kekeringan bisa puso. Tetapi sekarang, setelah tersuplai air maka tanaman padi tidak mati dan bisa panen pada November mendatang,” imbuhnya.

Ditanya berapa luas lahan pesawahan yang kekeringan saat musim kemarau berkepanjangan saat ini, ia tidak bisa menjelaskan berapa luas lahan persawahan yang kekeringan. Sebab, kewenangan yang menjawab hal tersebut berada di Unit Pelaksana Teknis Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (UPT POPT) Sepatan. (mg-2/mas)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here