Home TANGERANG HUB Kombes Pol Harry Kurniawan: Air Cisadane, Berat Meninggalkan Tangerang

Kombes Pol Harry Kurniawan: Air Cisadane, Berat Meninggalkan Tangerang

1
SHARE
DARI KIRI: Kasubag Humas Polres Metro Tangerang Kota Kompol Abdul Rochim, GM Tangerang Ekspres Rudi Susanto, Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Harry Kurniawan dan Manajer Iklan dan Keuangan Tangerang Ekspres berfoto bersama di mapolres, kemarin. FOTO: Rizki Maulana/Tangerang Ekspres

KOTA-Tongkat komando Polres Metro Tangerang Kota akan segera berganti. Kombes Pol Harry Kurniawan akan meninggalkan Kota Tangerang dan menjalankan tugas baru sebagai Kapolres Metro Jakarta Pusat. Kombes Pol Abdul Karim yang akan memimpin Polres Metro Tangerang Kota.

Di Kota Tangerang, Harry telah bertugas selama 2,5 tahun. Menjaga keamanan warga serta memberantas tindak kejahatan. Tak hanya itu, Harry juga rajin turun ke masyarakat. Bertemu dengan warga dan tokoh-tokoh masyarakat untuk mendengarkan apa yang menjadi keinginan warga. Kondisi Kota Tangerang dengan berbagai aspek, telah membuatnya jatuh hati. Ia sebenarnya tak ingin meninggalkan kota ini. Namun, apa daya, sebagai anggota Polri, Harry siap ditugaskan di mana saja, saat negara membutuhkannya.

“Kalau ini (pindah tugas) bukan perintah negara, jujur saya masih ingin di Kota Tangerang,” ungkapnya saat berbincang dengan kru Tangerang Ekspres di Mapolres, Selasa (29/1). Ia lantas teringat atas petuah seniornya beberapa tahun lalu. Ketika ia harus pindah tugas dari Kapolrestro Depok, menjadi Kapolres Metro Tangerang Kota, seniornya memberi resep manjur agar bisa nyaman bertugas di Kota Tangerang. “Senior saya itu bilang, kalau sudah meminum air sungai Cisadane, akan nyaman bertugas di sana,” kata Harry. Kota Tangerang memang dilintasi sungai Cisadane. Sungai ini menjadi bahan baku air bersih dua perusahaan air minum. PDAM TKR milik Pemkab Tangerang dan PDAM Tirta Benteng, milik Pemkot Tangerang.

Kenyamanan di hatinya itu, karena karakteristik warga Kota Tangerang ramah, mudah diajak komunikasi dan tidak banyak gejolak sosial. Untuk urusan kemacetan, Harry menilai dari sisi postifnya. Menurutnya, jika sebuah kota itu macet, kondisi ekonominya maju. Kemacetan di Kota Tangerang menurutnya, masalah utamanya kendaraan bertambah banyak, tapi luas jalan tidak bertambah. “Kota Tangerang menurut saya saat ini terus menunjukan eskistensinya, sebagai kota maju. Kenapa saya bilang seperti itu, kerena pembangunannya pesat, pertumbuhan penduduknya juga padat, ekonominya juga tumbuh,”ungkapnya.

Walau nanti bertugas di Jakarta Pusat, Harry tak akan bisa melupakan satu kasus yang berhasil diungkapnya. Yakni, kasus penembakan Italia Chandara Kirana Putri (23) pada 2017. Ita-panggilan Italia Chandara Kirana Putri- meninggal dunia ditembak penjahat di depan rumahnya, kompleks Perumahan Bugel Indah, Karawaci, Kota Tangerang. Calon dokter itu, memergoki perampok yang hendak mencuri sepeda motor yang diparkir di depan rumahnya. Kedua pelakunya akhirnya tertangkap. Satu pelaku ditembak mati karena melawan saat hendak ditangkap. Sementara satu pelaku menyerah. Harry dan timnya bekerja keras untuk mengungkap kasus ini. Ia terus mengomandoi anak buah dalam mencari pelakunya. Ia juga terus mendatangi Suryani, ibu korban, untuk memberi moivasi dan semangat. Juga menginformasikan perkembangan pencarian pelaku. Saat kedua pelaku tertangkap, plong hati Harry.

Pelaku saat itu diamankan di Polda Metro Jaya. Harry kemudian menawarkan kepada Suryani, apakah bersedia melihat pelakunya. Ibu korban, seketika menjawab’ Iya pak saya mau,” ujarnya. Tentu bukan perkara mudah, mempertemukan pelaku dengan ibu korban. Dengan usaha Harry, akhirnya Kapolda Metro Jaya mengizinkan. Bertemulah ibu korban dengan pelaku. “Sebelum bertemu, saya bilang ke ibu. Nanti jangan terlalu emosi ya bu,” ungkap Harry. Saat bertemu dengan pelaku, Harry terus berada di samping ibu korban. Begitu melihat pelakunya, ibu korban tak bisa menahan emosinya. Ia meluapkan kekesalahan dan kemarahan. Namun, masih sebatas kata-kata. “Gini aja, kamu ditembak aja ya, gantiin anak saya. Nyawa anak saya itu tak tergantikan loh. Sudah mending ditembak aja deh,” ujar Suryani kepada pelaku.

Bisa mempertemukan pelaku dengan Suryani inilah kesan yang tak bisa dilupakan. Harry bisa memberikan ruang dan kesempatan kepada ibu korban untuk meluapkan emosinya. “Waktu itu kita tetap jaga, agar ibu tidak sampai kelewat batas. Sebatas mengungkapkan kemarahan, itu manusiawi. Seorang ibu punya anak putri yang tak lama lagi akan menjadi dokter, ternyata meninggal dunia di tangan penjahat, bagaimana rasanya? kenangnya. Dalam hitungan hari, Harry akan menyerahkan tugas-tugasnya kepada Kombes Pol Abdul Karim, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Banten. Selamat bertugas Pak Harry..Selamat datang di Kota Tangerang Pak Abdul. (*)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here