Home TANGERANG HUB Makanan Tradisonal Warga Kedung Digemari

Makanan Tradisonal Warga Kedung Digemari

0
SHARE
BUNGKUS: Umdah, sedang memasukan beras ke dalam bungkus daun pisang di kediamannya di Kampung Kedung Sebrang RT 09/03, Desa Kedung, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, Selasa (22/10). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

GUNUNG KALER — Sejumlah makanan tradisional olahan tangan Umdah, ibu empat anak ini dikenal seantero Desa Kedung, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang. Makanan olahan Umdah diantaranya, lontong, bacang, ketan, lepet dan selimpu.

Warga Kampung Kedung Sebrang RT 09/03, Desa Kedung, ini dapat menghabiskan bahan baku beras sekaligus beras ketan  mencapai 15 liter per hari. Umdah menjajakan makanan-makanan tradisional itu mulai Pukul 05.00 WIB sampai 08.00 WIB.

Umdah menjual lontong seharga Rp2.000 per bungkus. Sedangkan, bacang, ketan, lepet dan selimpu dijual dengan harga Rp1.000 per bungkus. Makanan-makanan tradisonal ini dibungkus menggunakan daun pisang.

Selain dijual untuk memenuhi sarapan bagi warga Desa Kedung, produk makanan Umdah sering dipesan untuk kegiatan-kegiatan peringatan hari besar Islam (PHBI) maupun hari besar nasional (PHBN) di Desa Kedung.

“Siang ini saya dibantu Ibu-ibu sedang buat lontong bacang, ketan, lepet dan selimpu untuk kegiatan peringatan hari santri nasional yang diperingatkan pada 22 Oktober,” kata Umdah, kepada Tangerang Ekspres, Selasa (22/10).

Umdah bersyukur usahanya dapat berjalan lancar sejak 2015. Bahkan, makanan tradisional olahannya sering dipesan pada sejumlah momen peringatan PHBI maupun PHBN dan momen lain. “Jadi, kalau pesanan banyak dapat mempekerjakan sejumlah Ibu-ibu yang lain untuk proses pembungkusan. Sebab, engga kepegang kalau ngerjain sendirian” katanya.

Sementara itu, Nurul Alam, Sekretaris Desa (Sekdes) Kedung mengatakan, ada sejumlah usaha kecil milik warga Desa Kedung, diantaranya usaha milik Bu Umdah. Ia menyebutkan, tidak menutup kemungkinan usaha Bu Umdah dapat berkembang.

“Syaratnya, produksi makanan tradisional dimenejemen  semakin baik. Misalkan, memiliki tim pemasaran sampai proses pengemasan atau pembungkusan yang rapih dan menarik. Kalau soal rasa, produk makanan tradisonal Bu Umdah engga diragukan lagi,” ucapnya.

Nur Alam menambahkan, badan usaha milik desa (BUMDesa) Kedung, belum dibentuk. Ia berharap ketika BUMDesa terbentuk, pengelola dapat melihat potensi usaha kecil milik masyarakat. “Sehingga, tim BUMDesa dapat berbagi ilmu menejemen kepada pemilik usaha kecil di Desa Kedung,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here