Home TANGERANG HUB Tikar Daun Pandan Diproduksi di Ranca Gede

Tikar Daun Pandan Diproduksi di Ranca Gede

0
SHARE
NGANYAM: Aminah, sedang menganyam tikar berbahan daun pandan duri di kediamannya, di Kampung Wadas RT 04/01, Desa Ranca Gede, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, Selasa (22/10). FOTO: Zakky Adnan/Banten Ekspres

GUNUNG KALER — Banyak pohon pandan duri tumbuh di Desa Ranca Gede, Kecamatan Gunung Kaler. Melimpahnya daun pandan duri di pemukiman warga, dimanfaatkan pemilik lahan untuk menjadi bahan baku pembuatan tikar.

Tikar dibuat berukuran paling kecil dengan panjang tiga meter dan lebar dua meter. Pembuatan tikar dimulai dari pengumpulan daun pandan duri, pemotongan duri dari daun pandan dan pemotongan daun pandan sesuai ukuran yang dibutuhkan.

Kemudian, potongan daun pandan duri direndam menggunakan air. Lalu, daun pandan dijemur hingga kering. Terakhir proses penganyaman daun pandan menjadi tikar.

Aminah, salah seorang penganyam tikar, mengaku dapat menganyam daun pandan duri menjadi satu tikar dalam sehari. “Pagi sampai sore, saya bisa nganyam daun pandan menjadi satu tikar. Kalau yang muda-muda bisa lebih dari itu,” kara perempuan berusia 70 tahun ini, kepada Tangerang Ekspres, Selasa (22/10).

Warga Kampung Wadas, RT 04/01, Desa Rancan Gede mengatakan, menjual satu tikar daun pandan duri berukuran panjang tiga meter dengan lebar dua meter seharga Rp150 ribu. Tikar dijual kepada pedagang di pasar-pasar tradisional. Atau, dijual kepada konsumen lain. Misalkan, pengurus majlis talim hingga pondok pesantren (ponpes).

Menurut Aminah, keunggulan tikar berhahan daun pandan duri, dibandingkan tikar berbahan plastik adalah lebih nyaman digunakan sebagai alas untuk duduk. Sehingga, tikar daun pandan masih laku dijual sampai sekarang.

Di tempat yang sama, Sutisna, Sekretaris Desa (Sekdes) Ranca Gede mengatakan, ada sejumlah RT di Kampung Wadas. Sebagian warga di kampung itu masih eksis membuat tikar dari daun pandan duri. “Jadi, di kampung ini masih dikenal sebagai tempat produksi tikar dari daun pandan duri di wilayah Kecamatan Gunung Kaler,” ujarnya.

Lebih lanjut kata Sutisna, tikar produksi hasil karya warganya dijual masih ke wilayah Kecamatan Gunung Kaler dan sekitar saja. Kata Sutisna, tikar daun pandan duri asli prouksi Desa Ranca Gede, belum dikenal ke masyarakat di luar wilayah Kecamatan Gunung Kaler.

Sutisna menambahkan, proses penganyaman daun pandan duri oleh satu orang dapat memproduki tikar satu sampai dua lembar per hari, pagi sampai sore. Sehari sebelum proses penganyaman tikar, ada proses pemotongan daun pandan duri hingga penjemuran. “Proses sebelum penganyaman dapat memakan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.

Jadi dikatakan Sutisna, harga Rp150 ribu per tikar ukuran kecil, sebanding dengan proses panjang yang dilakukan pengrajin pembuatan tikar daun pandan duri. “Warga memiliki keahlian menganyam tikar didapatkan secara turun-menurun,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here