Home TANGERANG HUB Warga Perum Griya Islam Bikin Tungku Pemusnah Sampah

Warga Perum Griya Islam Bikin Tungku Pemusnah Sampah

0
SHARE
KUNJUNGAN: Ketua RT 16/06, Desa Kresek, Edi Cahyadinata (ke dua dari kiri) memaparkan sistem pemusnahan sampah kepada sejumlah aparatur pemerintah desa di TPS-S di Perumahan Griya Islam RT 16/06, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Jumat (18/9). FOTO: Zakky Adnan/Tangerang Ekspres

KRESEK – Warga Perumahan Griya Islam, RT 16/06, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, membuat tungku pembakaran sampah. Sementara, tempat ini dianggap ampuh menanggulangi penumpukan sampah di perumahan tersebut sejak Januari 2019.

Edi Cahyadinata, Ketua RT 16/06 mengatakan, tungku pembakaran sampah dibuat berukuran panjang tiga meter, lebar tiga meter dan tinggi satu setengah meter. Tungku pembakaran sampah dibuat dari bata merah, pasir dan semen. Sistem kerja tungku sama seperti tungku masak biasa. Pakai bahan bakar kayu yang diletakan dibawah tungku.

“Berawal dari pemusnahan sampah ini, nanti kami akan meningkatkan ke arah kegiatan pengelolaan sampah. Kami sudah menerima bantuan dari pemerintah desa berupa mesin pencacak sampah, walaupun belum lengkap sarana dan prasarana lainnya. Misalkan, kesiapan SDM dan peralatan pembuatan pupuk,” kata Edi, kepada Tangerang Ekspres, Jumat (18/10).

Dikatakan Edi, sampah dibakar setiap dua hari. Dalam waktu tiga jam, sampah sudah musnah menjadi abu. Sebelum dibakar, sampah disortir sesuai kategori. Ada kategori sampah organik dan anorganik.

Edi memaparkan, contoh limbah organik seperti, sisa sayuran, daun-daun, tulang hewan sisa makanan, kertas dan lain-lain. Sedangkan contoh limbah anorganik diantarnya, kaleng, logam, plastik, pecahan kaca, plastik, sterofom, botol ataupun gelas plastik air mineral.

“Setelah pemilahan, sampah yang bernilai jual seperti plastik, kemasan air mineral dan kaleng, dikumpulkan. Sedangkan sampah yang tidak bernilai jual dibakar hingga menjadi abu di dalam tungku,” jelasnya.

Edi menuturkan, alasannya membuat tungku pembakaran sampah adalah guna menata tempat pembuangan sampah sementara (TPS-S). Dahulu, tumpukan sampah di TPS-S menggunung. Sehingga lingkungan sekitar TPS-S terlihat kumuh.

“Sekarang setelah kami buat tungku pembakaran, kondisi lingkungan sekitar TPS-S jauh lebih baik dibandingngkan sebelumnya,” kata pria yang juga menjabat Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Gunung Kaler.

Edi menambahkan, sesuai kesepakatan warganya membayar iuran kebersihan senilai Rp5.000 per bulan. Uang yang terkumpul dari sekitar 131 kepala keluarga (KK) diberikan kepada orang yang khusus bekerja membakar sampah dua hari sekali selama sebulan.

“Sesuai persetujuan bersama, bagi warga yang ingin sampahnya diambilin ke rumah masing-masing, dikenakan tambahan iuran senilai Rp2.000,” ucapnya. “Nanti target kami kedepan bukan sekedar pemusnahan sampah. Tapi, punya tempat pengelolaan sampah untuk membuat pupuk,” pungkasnya. (zky/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here