Home TANGERANG HUB Protes Suami, Siksa Anak

Protes Suami, Siksa Anak

0
SHARE
Protes Suami, Siksa Anak
Ibu muda berinisial LQ tega menyiksa anaknya yang berusia 1 tahun 8 bulan, karena kesal kepada suami yang tak memberikan perhatian.

SERPONG-Seorang ibu muda berinisial LQ (23) warga Rempoa, Ciputat Timur menyiksa anaknya sendiri. LQ memasukkan kepala anaknya yang berusia 1 tahun 8 bulan, ke dalam ember berisi air, berulang kali. Ia pun merekam aksinya itu menggunakan telepon genggam. Lantas mengirim video ke suaminya. Untungnya, bayi perempuan berinisial AJ itu selamat.

Polisi bergerak cepat menangkap LQ. Setelah video penyiksaan terhadap anak itu menyebar di media sosial (medsos). Kapolres Tangsel AKBP Iman Setia Setiawan mengatakan, kejadian tersebut dilakukan LQ pada 25 Juni 2020 sekitar pukul 14.30 WIB di rumahnya di Rempoa, Ciputat Timur.

“Tersangka melakukan perbuatan di dalam kamar mandi rumah kontrakannya, dengan cara memasukkan kepala anaknya ke dalam ember warna hijau yang berisi air selama sekitar 10 detik, berkali-kali,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di Mapolres, Senin (23/11).

Kepada polisi LQ melakukan perbuatannya itu karena kesal dengan suaminya. Suaminya lebih perhatian dengan suami pertama, daripada dengan LQ yang merupakan istri siri. Sehingga untuk melampiaskan kekesalannya, tersangka melakukan kekerasan terhadap korban yang merupakan anak kandungnya sendiri. Iman menambahkan, saat melakukan aksinya tangan kiri tersangka memegang handphone untuk merekam perbuatannya kepada korban.

Dalam rekeman video itu, AJ menangis sejadi-jadinya setelah berulang kali kepalanya dicelupkan ke dalam ember. Namun, LQ tak mempedulikannya dan tetap meneruskan penyiksaan itu. Setelah merekam, LQ mengirimkan video tersebut ke suaminya.

“Dengan tujuan agar suaminya bisa adil antara istri pertama dan juga tersangka (LQ),” kata Imam. Setelah mendapat kiriman video itu, suaminya menemui LQ. Pria itu kesal dan langsung membanting handphone yang gunakan untuk merekam perbuatannya itu.

“Karena perbuatan tersangka yang telah melakukan kekerasan terhadap anak kandungnya ini, membuat tersangka dan suami menjadi lebih sering bertengkar soal masalah ini. Lalu pada 19 November 2020 sekitar pukul 05.00 WIB suami tersangka meng-upload video ini ke media sosial Instagram miliknya melalui akun bernama ( lylq23),” tambahnya.

Iman menjelaskan, tak lama video kekerasan tersebut ramai di media sosial dan sampai ke telinga anggotanya. “Sat Reskrim kemudian melakukan penyelidikan. Pada Kamis 19 November sekitar pukul 21.00 WIB tersangka dapat kita amankan dan dibawa ke mapolres untuk penyidikan,” tuturnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Angga Surya Saputra mengatakan, dalam proses penyidikan polisi juga berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia. “Saya mengimbau kepada masyarakat agar video ini tidak diviralkan, karena kalau memviralkan itu pelanggan UU ITE,” ujarnya.

“Pelaku dalam kasus ini diancam Pasal 80 UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Komisioner KPAI Bidang Pornografi dan Cybercrime, Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, yang masuk kategori anak adalah, mulai usia 0-18 tahun. Menurutnya, KPAI berkewajiban memberi perlindungan kepada anak. Yakni bagaimana kita bisa mengkondisikan semua aktivitas agar anak bisa hidup tumbuh dan berkembang dan tidak mengalami kekerasan dan diskriminasi.

“Yang punya kewajiban memberi perlindungan terhadap anak adalah negara, pemerintah, masyarakat, dan terutama orangtua,” ujarnya.

Menurutnya, anak-anak berada pada titik rentan kekerasan. Baik di sekolah, rumah, lingkungan dan lainnya. Kekerasan tersebut mulai dari psikis maupun seksual.

Wanita berkerudung ini menjelaskan, pelaku akan menjalani proses hukum. KPAI akan konsen terhadap anak, karena harus mendapatkan rehabilitasi, pendampingan, dari kasus kekerasan baik psikis dan fisik yang dialaminya. “Ini jadi perhatian bersama yakni anak bukan menjadi pelampiasan bagi apapun kondisi orangtua. Jangan mudah men-share apapun di medsos,” jelasnya.

Margaret menuturkan, anak harus dilindungi tumbuh kembangnya supaya tidak mengalami kekerasan dan diskriminasi. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here