Home TANGERANG HUB Debat Season 2 Pilkada Tangsel, Serangan Dua Arah

Debat Season 2 Pilkada Tangsel, Serangan Dua Arah

0
SHARE
Serangan Dua Arah
DARI KIRI ; Paslon No.1 Muhamad-Rahayu Saraswati, No.2 Siti Nur Azizah-Ruhamaben dan No.3 Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan saat debat terakhir di salah satu stasiun televisi swasta, kemarin malam. FOTO: Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

JAKARTA-Debat publik terakhir Pilkada Kota Tangsel lumayan menarik. Pasangan calon (paslon) saling ‘serang’. Meski masih kurang garang. Terkesan terlalu hati-hati. Dalam debat yang disiarkan langsung televisi swasta, Kamis (3/12), malam, paslon nomor urut 3, yang merupakan petahana, Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan (Benyamin-Pilar), menjadi sasaran serangan dari kedua lawannya. Bahkan, setiap pertanyaan yang dilontarkan, bisa membidik dua paslon.

Dalam sesi debat, ketiga paslon saling melempar pertanyaan yang secara tidak langsung jawabannya bisa menyerang paslon lain, yang sedang tidak ditanya.

Seperti pada sesi tanya jawab kedua, yang memberi kesempatan kepada paslon No.1 Muhamad-Saraswati (Muhamad-Sara) untuk bertanya kepada paslon No. 2 Azizah-Ruhamaben. Muhamad bertanya soal netralitas ASN selama proses Pilkada. Jawaban dari pertanyaan ini membidik Benyamin Davnie.

“Bicara tentang netralitas ASN, bagaimana menurut paslon nomor dua, saya ingin pendapat Bu Azizah dan pak Ruhama,” tanya Muhamad.

Namun, pertanyaan itu pun dijawab Siti Nur Azizah dengan memaparkan tentang regulasi dan ketentuan yang menjadi payung hukum netralitas ASN. Sehingga, cukup dengan menegakkan regulasi itu agar ASN bisa netral. “ASN sudah punya ketentuan, ada UU ASN No 5/2011, PP 53 tentang disiplin pegawai. Ini harus menjadi satu pegangan, baik oleh kepala pemerintahan, baik birokrat. Kami meyakini, ada dua model ASN ada yang jujur, tapi tertekan. Tapi ada juga yang profesional. Tinggal kita kembali pada aturan yang ada,” jawabnya.

Bukan jawaban itu, yang diinginkan Muhamad. Tak puas dengan jawaban Azizah, Muhamad mengatakan Azizah hanya menjawab secara normatif saja. Padahal yang ia maksud adalah netralitas ASN dalam Pilkada di Kota Tangsel. Akhirnya, Muhamad menjawab pertanyaannya sendiri. “Bukan itu yang saya maksud bu. Tapi, baiklah saya jawab sendiri. Karena saya merasakan banyak ASN, ada kepala dinas yang diarahkan ke salah satu calon. Contoh gambar saya dicopot sementara paslon lain tidak,” ujarnya.

Mendengar umpan serangan dari Muhamad itu, Azizah tetap datar menanggapinya. Ia hanya menekannya, jika untuk menjaga netralitas ASN yang dibibutuhkan adalah integritas pemimpinnya. “Kuncinya integritas pemimpinnya. Pemimpin harus memberikan contoh, harus melayani. Dan dibutuhkan ketegasan seorang pemimpin,” ujarnya. Tak ketinggalan calon wakilnya Ruhamaben menambahkan jika pihaknya sepakat dengan apa yang disampaikan Muhamad.

“Kami sepakat dengan itu. Tapi, kami percaya sudah ada pihak-pihak yang mengawasi, sehingga ketika ada ketidaknetralan pasti akan ditindak,” ujar Ruhama.

Begitu juga saat paslon nomor 3, Benyamin-Pilar diberi kesempatan bertanya kepada paslon nomor 1, Muhamad-Sara. Benyamin kembali melempar jebakan. Ia tidak bertanya kepada Muhamad sebagai Tetapi meminta pendapat Muhamad yang selama bertahun-tahun menjadi kepala dinas dan Sekda Kota Tangsel, tentang ada tidaknya konflik sosial yang menyebabkan pembangunan di Tangsel terganggu.

“Pak Muhamad, kita sudah bersama-sama bertahun-tahun, ada tidak kebijakan-kebijakan Pemkot Tangsel yang menimbulkan konflik sosial,” tanya Benyamin. Muhamad mengakui kebersamaannya dengan Benyamin di dalam pemerintahan memang sejak lama, sejak masih di Pemkab Tangerang. “Tetapi, soal visi, misi dan strategi berbeda-beda. Saya tidak larut dalam pemerintahan yang sekarang, mana yang boleh dan mana yang tidak. Saya melihat banyak ketimpangan, yang memang saya tidak bisa memutuskan. Banyak yang kita perbaiki,” jawabnya.

“Saya tahu banyak di dalam (pemerintahan). Tapi saya tidak wajar mengkritik di dalam. Sekarang bagaimana saya mengubah, yang baik dipertahankan, yang belum kami punya kewajiban memperbaiki ke depan,” jawab Muhamad. Pilar yang diberi kesempatan bertanya, melempar pertanyaan terkait isu SARA dalam pilkada kepada paslon No.2. “Isu kepemimpinan dalam agama, kerap mencuat saat pilkada sehingga ada keharusan memilih pemimpin yang seagama, padahal ini mengancam disorientasi. Bagaimana menurut ibu?” tanya Pilar.

Azizah menjawab bahwa isu memilih kepemimpinan tidak boleh dikaitkan dengan SARA melainkan harus dikembalikan pada semangat. pada visi misinya. “Jadi poin pentingnya, harus untuk semua tanpa diskriminasi,” katanya.

Ruhama menambahkan, yang pokok bagi seorang calon pemimpin adalah integritas. Bisa dilihat Track recordnya. “Kedua kapasitas, lalu akseptibilitas. Siapa yang cocok dipilih dengan yang memilih. Jangan masuk ke isu yang tidak substansial,” ujarnya.

Mendapat jawaban itu, Pilar sumringah. Ia menanggapi dengan mengatakan bahwa jika demikian seorang calon pemimpin harus yang punya pengalaman dan berintegritas. “Sudah terbukti Kota Tangsel mengalami banyak kemajuan sehingga, harus dilanjutkan oleh orang yang punya pengalaman dan punya kapabilitas,” kata Pilar.

Kemudian, paslon No.1 Muhamad-Sara mendapatkan kesempatan bertanya kepada paslon nomor 3, Benyamin. Sara mengungkapkan soal peran BUMD yang semestinya memberikan keuntungan kepada masyarakat Tangsel. Namun, faktanya belum terlihat. “Maka bagaimana penilaian bapak terkait kinerja direksi BUMD yang salah satu direkturnya maju dalam pilkada ini?” tanyanya.

Salah satu direksi itu adalah Ruhamaben, pasangan Siti Nur Azizah. Benyamin tak mau terpancing dengan pertanyaan yang arah serangannya ditujukan ke Ruhamaben.

Benyamin memaparkan, pemilihan direksi BUMD dilakukan melalui proses sangat ketat. Sehingga orang yang duduk sesuai dengan seleksi itu. “Sekarang BUMD begerak di sektor penyediaan air bersih dan lainnya. Dalam bisnis plane seluruhnya dieksekusi direktur utama. Bagaimana penilaian direktur keuangan, tentu direktur utama yang memiliki kewenangan. Kami akan bertanya kepada komisaris sebagai kepanjangan tangan pemerintah sebagai pemilik saham mayoritas,” paparnya.

Sara kemudian menanggapi jika jawaban Benyamin masih sebatas penjabaran soal PT PITS belum menggambarkan penilaian terhadap direksi. “Padahal kami ingin tahu bagaimana kinerja direksi. Karena banyak masukan jika kinerja direksi tidak maksimal. Bahkan kami menyayangkan DPRD tidak mendapatkan akses untuk mengaudit kinerja BUMD,” katanya.

Lalu, paslon nomor 2 bertanya kepada paslon nomor 1. Ruhamaben yang didapuk bertanya menyampaikan bahwa, pilkada digelar pada tanggal 9 Desember, sebagai hari Antikorupsi. “Saya tertarik, ada banner mbak Saras. Itu isinya menarik. Coblos no 1, koruptor ngacir. Apakah saat ini ada koruptor di Tangsel?” tanyanya.

Pertanyaan Ruhamaben ini pun sasaran tembaknya dua arah. Ke petahana Benyamin Davnie dan Muhamad saat masih menjabat Sekda.

Sara pun menjawab bahwa berdasarkan data dan masukan, masih banyak tindak korupsi di Tangsel. Ada rekam jejak korupsi yang terjadi di masa lalu. Salah satunya, kasus korupsi di bidang alat kesehatan (alkes) di 2010. “Kami mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa masih banyak tindakan korupsi,” ujarnya.

Lalu, Muhamad menambahkan jika Kota Tangsel terkenal dengan korupsi di masa lalu. Maka pihaknya tidak akan melanjutkan budaya itu. Ia mengambil contoh banyak kepala daerah yang ditangkap KPK, karena korupsi. “Masih banyak kepala daerah yang tertangkap, masih ada hawa nafsu. Proyek belum terjadi, sudah ada fee duluan,” katanya.

Azizah menanggapi jawaban Muhamad. Azizah mengatakan masih terjadi budaya korupsi di pemerintahan masa lalu. Salah satunya kasus korupsi alkes. Saat ini pun, kata Azizah ada sejumlah kasus korupsi yang terjadi di Kota Tangsel. “Saya mendapat informasi soal kasus tanah Ciputat, pasar dan lain sebagainya, saya kira cukup banyak. Pemimpin harus memiliki ketegasan dalam penegakan hukum,” tegas Azizah. Ruhamaben lantas menimpali. ‘Yang menarik itu bagaimana peran Pak Muhamad sebagai sekda saat itu,” kata Ruhamaben.

Muhamad menjawab, saat ia menjadi sekda tidak punya banyak kewenangan. Kebijakannya tidak bisa dilaksanakan. Karena sebagai sekda, ia merasa sebagai staf, seorang sekretaris. “Betul saya adalah ketua TAPD (tim anggaran pemerintah daerah). Hanya sebagai ketua. Yang memutuskan semuanya adalah pimpinan,” jawabnnya. (esa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here