Home ADVERTORIAL Jadi Gay Sejak SMA, Didominasi Usia 20 Tahun

Jadi Gay Sejak SMA, Didominasi Usia 20 Tahun

0
SHARE
Jadi Gay Sejak SMA Didominasi Usia 20 Tahun

TANGERANG-Kaum gay, atau suka sesama jenis ada di Banten. Tangerang Khususnya. Sebelum pandemi, mereka sering kumpul di kafe atau tempat-tempat keramaian. Untuk bertemu pacar (sesama lak-laki). Atau sekadar ngobrol. Keberadaan mereka sangat tertutup.

Tak mau begitu saja menerima kedatangan ‘orang baru’. Juga tak mau tampil vulgar di depan umum. Seperti bergandengan tangan atau berpelukan. Mereka paham betul, bagaimana cara menyembunyikan identitasnya. Mereka ini gay, bukan banci. Penampilan hingga perilaku, tetap layaknya pria tulen.

Tim investigasi Radar Banten Group (Tangerang Ekspres dan Banten Raya) berhasil memawancarai beberapa gay di sejumlah wilayah di Banten. Butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan mereka, agar mau diwawancari. Pastinya, dengan berbagai syarat. Salah satunya, identitas mereka harus dirahasiakan. Sebut saja namanya Deny. Ia mengakui, suka sesama laki-laki. Ini berawal dari pengalaman pahit. Sakit hati saat berhubungan dengan pasangan wanitanya 4 tahun silam.

Deny yang berkerja di sebuah perusahaan swasta, memilih menjadi gay. Selain tidak merasakan sakit hati karena sebuah hubungan, menjadi gay sangat nyaman dan membuat tenang.

Berawal dari kisah percintaan dengan seorang wanita asal Ciledug, Kota Tangerang, selama 2 tahun. Tetapi hubungannya kandas di tengah jalan. Wanita pujan hatinya itu, berpaling ke pria lain. Sejak itu, ia sakit hati. Lantaran sudah banyak berkorban selama menjalin kasih.

“Awalnya memang saya suka dengan wanita. Sempat punya pacar dan akhirnya putus. Dari situ rasa sakit hati saya timbul, dan saya tekadkan untuk tidak kembali berhubungan dengan wanita. Dalam artian hubungan khusus,”ujarnya kepada Tangerang Ekspres (grup Radar Banten).

Deny menambahkan, awal suka dengan laki-laki dari salah satu aplikasi yang isinya gay. Hanya iseng, tetapi setelah ikut dan coba pasang foto ada salah satu laki-laki yang ajak chatting.

“Dari komunikasi itu saya merasa nyaman, sampai akhir tahun 2018 saya bertemu di salah satu hotel yang ada di Jakarta Barat,”paparnya.

Ia menuturkan, setelah berhubungan selama 3 bulan, coba untuk sesuatu yang lebih. Bahkan, ia sempat menjadi simpanan laki-laki dengan usia yang lebih tua.

“Saya menikmati, bahkan sampai saat ini saya lebih nyaman berhubungan dengan laki-laki. Karena ada keistimewaan dibandingkan berhubungan dengan wanita,”ungkapnya.

Ketika ditanya tanggapan keluarga, kata Deny, sampai saat ini keluarganya tidak mengetahui dirinya suka dengan laki-laki. Beberapa kali teman kencannya datang ke rumah dan menginap pihak keluarga tidak curiga.

“Keluarga tidak tahu. Kalaupun tahu nanti saya tidak takut. Karena saya sudah nyaman, dan saya tidak tahu mau sampai kapan ini dijalani,”tuturnya.

Deny menjelaskan, sampai saat ini masih menerima ajakan kencan dari laki-laki yang ingin mengajaknya. Dalam kencan tersebut, ia sering mendapatkan uang dari teman kencannya.

“Kalau kencan terkadang di kasih Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Kencan semalam di hotel. Saya tidak memikirkan berapa besaran yang dikasih, saya hanya cari kesenangan,”tutupnya.

Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang mendata rata-rata gay berumur antara 20 sampai dengan 40 tahun, yang merupakan usia produktif. Terbanyak berumur 20 tahun atau usia produktif.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Tangerang Hendra Tarmidzi mengatakan, jumlah yang terdata sebanyak 193 orang.

“Laporannya mereka ada di beberapa kafe di Kecamatan Curug, Panongan di kawasan Citra Raya dan Kelapadua. Jumlah yang terdeteksi terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) ada 36 orang,” katanya kepada Tangerang Ekspres (grup Radar Banten) saat dikonfirmasi.

Kata Hendra, kaum gay yang terinfeksi HIV berobat di Puskesmas Curug. Penyebabnya hubungan seks sesama jenis. Sebaran gay di Kabupaten Tangerang ada di 25 kecamatan. Kata Hendra, kasus gay HIV positif tertinggi di Kecamatan Curug dengan 15 orang dan Kelapadua tercatat ada 25 orang. Sedangkan, di kecamatan lain jumlahnya antara satu sampai lima orang.

“Di data dinkes tidak tercantum usia pelajar gay. Usia memang 20 tahun ada, bisa jadi sudah lulus SMA ataupun lulusan mahasiswa. Mereka (gay) ada yang ber-KTP Kabupaten Tangerang, ada juga ber-KTP luar daerah,” jelasnya.

Di Lebak, menjadi gay sejak masih duduk di bangku SMA. Sebut saja namanya Joni. Ia mengaku, tahu ada yang salah dengan kepribadiannya, yang memiliki hasrat pada sesama jenis. Tahu bahwa itu adalah penyimpangan. Namun apa daya dia telanjur menikmati dan perlahan mulai menerimanya sebagai garis hidup. Joni membuka perbincangan dengan Banten Raya saat diwawancara di sekitaran Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, belum lama ini.

Dari sisi penampilan, tidak ada yang aneh. Cara berpakaiannya lelaki tulen. Celana jeans panjang berwarna biru, kaos oblong dan sepatu tanpa tali. Tampilannya rapi dengan rambut setelan pendek bergelombang.

Pasca perkenalan singkat dan tahu tujuan perbincangan tersebut, dia mulai bercerita. Sedikit ragu ia mulai mengaku adalah pelaku lelaki seks dengan lelaki (LSL). “Entahlah tapi saya sukanya sama cowok,” ujarnya sambil tersenyum.

Pria berkulit putih itu bercerita awalnya tidak memiliki orientasi seksual seperti sekarang. Layaknya lelaki normal, bagian tubuhnya akan bereaksi ketika ada hal-hal yang berkaitan dengan wanita. Kondisi itu terjadi hingga menginjak bangku SMP. Joni masih memiliki hasrat kepada lawan jenis. Meski tidak pernah sampai menjalin hubungan spesial.

“Dulu itu, ya kayak cowok saja biasanya. Naksir sama lawan jenis (perempuan), kerangsang kalau lihat yang seksi,” katanya.

Akan tetapi semua berubah ketika dia memasuki jenjang pendidikan SMA. Seiring itu juga lingkaran pertemanannya semakin luas. Temannya bukan hanya para pelajar di sekolahnya. Tapi juga orang-orang dewasa. “Ya, sering main ke rumah teman kan, kenalan sama kakaknya. Kakaknya bawa teman ya kenalan juga sama temannya,” ungkapnya.

Dari lingkaran itu dia akhirnya bertemu dengan seorang pria yang dia sebut sebagai Andre (bukan nama sebenarnya).

Lelaki itu saat pertama berkenalan adalah seorang karyawan swasta berusia 20-an. Tidak ada hal mencurigakan. Orangnya ramah dan tidak gengsi bergaul dengannya yang saat itu masih seorang pelajar.

Perkenalan terjadi saat Joni duduk di kelas 1 SMA. Rupanya perkenalan itu berlanjut dan mereka sering bertemu.

Andre digambarkan sebagai sosok teman sejati. Enak diajak komunikasi. Memilki banyak kesukaan yang sama dan selalu mampu diandalkan ketika dimintai pertolongan.

Satu tahun pertemanan terjalin dan akhirnya hari itu pun tiba. Andre mendatangi sekolah tempat Joni mengenyam pendidikan. Kemudian mengajak bermain selepas jam belajar. Berboncengan menggunakan sepeda motor, Joni dibawa ke rumah Andre.

“Di sana rumah sepi. Di situ mulai dia agak aneh. Badannya nempel ke saya terus sampil usap-usap dan menjurus ke aktivitas seksual,” tuturnya.

Joni mengaku, karena hal itu baru pertama kali dialami tentu dia merasa kaget bukan kepalang. Aksi Andre itu dianggapnya tidak lazim. Maka dia menolak. Namun Andre tetap memaksa. Tak bisa melawan karena kalah tenaga, ia pun pasrah. Hal tersebut terus berulang pada waktu-waktu berikutnya dengan pola yang sama.

Tidak ada ancaman. Namun entah mengapa Joni tak bisa marah kepada Andre. Rupanya pertemanan yang menjadi penyebabnya. Lantaran sering melakukan, akhirnya lama kelamaan Joni mulai menikmati. “Enggak sering, tapi hubungan seperti itu berlanjut sampai lulus sekolah. Dari situ lah saya mulai kehilangan hasrat sama cewek,” akunya.

Kini ketika Joni sudah bekerja, hubungan itu masih tetap berjalan. Bahkan dia terkadang sengaja mendatangi Andre yang kini bekerja di wilayah Tangerang. Pun demikian sebaliknya dengan Andre. Gaya pacarannya diakui Joni tidak aneh-aneh. Aktitivas seksualnya dengan Andre hanya sebatas bercumbu. Berciuman dan saling meraba selayaknya pria dan wanita saat melakukan aktivitas yang sama. “Sampai berhubungan badan sih belum. Kalau yang lain banyak yang sudah,” ungkapnya.

Untuk mengakomodasi orang-orang yang memiliki orientasi serupa, mereka mendirikan sebuah komunitas. Hampir di setiap daerah di Banten ada. Cara untuk masuk ke sana biasanya melalui komunikasi individu sasama gay untuk difasilitasi. Biasanya kegiatan kumpul-kumpul digelar di tempat terbuka seperti alun-alun untuk menghindari kecurigaan.

“Mereka rutin menggelar pertemuan, janjian ketemuan lewat grup chat. Saya sempat ikut tapi tak lama. Sekarang sudah keluar. Kurang nyaman saja. Selain itu Andre seperti enggak suka saya dekat lelaki lain,” paparnya.

Joni tahu apa yang dilakukan adalah sebuah kesalahan. Sudah empat tahun dia menjalin hubungan dengan Andre. Bahkan kerap merasa bersalah kepada orangtuanya. Dia yakin kedua orangtuanya akan merasa sedih jika mengetahui kebenaran orientasi seksualnya.

“Mamah suka tanya kenapa saya belum punya pacar. Di situ saya sedih, takut tahu anaknya begini. Saya suka cowok tapi bukan banci, jadi saya tetap berdandan kayak cowok. Mungkin karena itu juga orangtua enggak tahu saya gay,” tuturnya.

Menurutnya, rasa bersalah tetap menghantui. Namun Joni belum mau meninggalkan orientasi yang diperoleh sejak SMA itu. Dia telanjur menikmati dan merasa baik-baik saja. Bahkan dia tak bisa memberikan jawaban ketika disinggung apakah dari lubuk hatinya yang terdalam ingin kembali normal. “Telanjur menikmati dan saya juga tidak menolaknya. Nanti bagaimana takdir saja yang bawa,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Lebak Mintarsih membenarkan bahwa LSL di Lebak itu ada. Namun ia belum tahu berapa jumlahnya. Mintarsih mengatakan, awal tahun ini pihaknya menerima informasi terkait aktivitas tersebut. Bahkan salah satu sumbernya menyebut kaum LSL sudah menyasar pelajar. Seorang siswa dijadikan perantara oleh pelaku gay untuk mencari mangsa dari kalangan SMP.

“Saat itu, informasi ini kami dalami dan akan kami telusuri kebenarannya. Namun karena terburu pandemi corona terjadi, maka penelusaran kami hentikan. Nanti setelah pandemi berlalu, informasi akan kami tindaklanjuti lagi,” ujar Mintarsih.

Mengingat perilaku LSL menyimpang serta dikhawatirkan korbannya anak-anak di bawah umur, maka pihaknya akan menggandeng aparat penegak hukum dan lembaga lain yang berkaitan dengan perlindungan anak.

“Karena hal ini merupakan hal menyimpang dan membahayakan anak-anak atau pelajar, pasti akan kami tindak lanjuti. Itu setelah pandemi benar-benar aman,” katanya. (ran/sep/dewa/hudaya/rahmat/alt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here