Home ADVERTORIAL Sering Tidur Bersama Temannya Harus Diwaspadai

Sering Tidur Bersama Temannya Harus Diwaspadai

122
0
SHARE

SERANG-Psikolog Sake Pramawisakti mengatakan, berdasarkan ilmu pengetahuan, pada diri setiap orang terdapat sifat kelelakian dan keperempuanan. Saat baligh, normalnya seorang laki-laki akan menjadi laki-laki, sedangkan perempuan akan menjadi perempuan.
“Namun, (homoseksual bisa terjadi apabila-red) sebelum mereka baligh, ada semacam ujicoba atau eksperimen,” ujar Sake, Minggu (3/1).

Selain itu, homoseksual itu juga bisa terjadi karena faktor lingkungan. Para penderita homoseksual bisa terbawa lingkungan apabila tidak dipagari atau diberikan pendidikan dasar. Apalagi yang saat ini muncul adalah homoseksual di kalangan remaja, bukan pada orang dewasa.

Kata Sake, seorang homoseksual tidak ada tanda-tanda khusus. “Hanya ketertarikan terhadap sesama jenis saja. Jadi secara fisik, tidak terlihat ada tanda-tanda khusus,” tuturnya.

Apabila laki-laki kemayu atau perempuan maskulin, ia mengatakan, hal itu tidak bisa langsung dikatakan pengidap homoseksual. “Tidak melulu seperti itu,” ujar Sake. Namun, saat berperilaku terhadap pasangan, mereka seperti lawan jenis bukan sesama jenis.

Ia mengatakan, selain penyimpangan seksual yang tentu saja berbahaya terhadap kesehatan, saat berhadapan dengan lingkungan yang tidak menerima mereka, homoseksual juga akan menghadapi bahaya. Kata dia, homoseksual akan menimbulkan konflik.

Sake mengatakan, pada dasarnya perilaku homoseksual bisa disembuhkan.
“Perilaku itu bisa diubah,” terangnya.

Kesembuhan itu dapat dilakukan dengan berbagai terapi. Hingga saat ini, ia mengaku selama menjadi psikolog, baru ada satu orang homoseksual yang datang. Hanya saja bukan untuk berobat, tetapi meminta tolong untuk menjelaskan kepada keluarganya. “Tentu saja, saya menolak,” tegasnya.

Agar anak-anak tidak menjadi homoseksual, ia mengimbau agar orangtua mengajarkan norma-norma sejak dini. Orangtua dapat menyampaikan kepada anak-anak, laki-laki harus menjadi anak-anak yang kelak mempunyai istri, lalu menjadi kepala keluarga dan memiliki anak-anak.

“Norma-norma harus ditanamkan,” ujar Sake. Selain itu, orangtua juga harus tetap mengawasi anak-anaknya. “Sekarang anak laki-laki apabila sering tidur bersama temannya harus diwaspadai. Kalau dulu kan biasa main bersama, tetapi sekarang zamanya beda. Pengawasan orangtua sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Forum Waria Provinsi Banten Bunda Endang mengatakan, kasus lelaki seks dengan lelaku (LSL) masih banyak ditemukan terutama di daerah-daerah perkotaan. “Kita tidak bisa mengidentifikasi dia itu orang Serang atau dari luar. Karena nomaden atau berpindah-pindah tempat,” katanya.

Ia menjelaskan, pelaku homosekual bisa saja berasal dari Jakarta atau kota-kota besar lainnya yang memiliki lawan main di Serang. “Jadi mereka itu biasanya datang dari Jakarta terus tinggal di Serang beberapa hari. Setelah itu balik lagi. Di Kabupaten Serang ada, tapi yang banyak itu di perkotaan,” ujarnya.

Endang menuturkan, untuk lokasi mereka melakukan hubungan seksual sesama jenis, tidak mengenal tempat. Di mana saja mereka mau bisa saja dilakukan. “Kalau yang punya duit bisa saja main di hotel, ada juga yang di kos-kosan. Tapi kalau sudah kebelet, ada juga yang main di kamar mandi tempat umum (toilet) yang dinilai aman,” tuturnya.

Perilaku hubungan seksual yang menyimpang diakui Endang berisiko tinggi penularan HIV/AIDS. “Bisa saja orang yang main dengan teman-teman kita waria. Dia juga main dengan laki-laki lain yang sudah terkena HIV/AIDS, akhirnya menular ke kita. Biasanya kalau ada yang ngajak main kita saranin pakai kondom,” paparnya.

Mereka yang melakukan hubungan seksual sesama jenis rata-rata usianya di atas 16 tahun. “Kalau di bawah umur kami belum menemukan. Untuk data LSL kalau di Cilegon ada puluhan, tapi kalau di Kabupaten Serang saya belum terima data, karena itu tadi mereka berpindah-pindah tempat,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang Riris Budiarni mengaku, pada 2020 pihaknya tidak melakukan pendataan kasus HIV/AIDS karena fokus penanganan Covid-19. “Belum ada data terbaru (kasus HIV/AIDS) karena situasi Covid. Kami tidak melakukan mobile VCT (voluntary counselling and testing) ke lapangan,” kata Riris.

Penelusuran Banten Raya (grup Tangerang Ekspres), sejumlah akun grup facebook terdeteksi menggunakan tema gay.

Seperti misalnya akun grup Gay Anak Bapak Serang Banten yang memiliki 5.399 anggota. Grup ini cukup aktif di mana beranda grup selalu dipenuhi postingan setiap hari. Unggahannya, komentar atau konten berbau aktivitas gay banyak ditemukan.

Selanjutnya ada akun dengan nama Gay Tangerang dengan 567 pengikut.
Sama seperti akun sebelumnya, grup ini masih aktif. Dinding akun grup hampir setiap hari diperbarui oleh postingan para anggota.

Kembali ke Ibukota Banten, Kota Serang, di facebook mereka menggunakan akun grup Gay Kawasan Taman Serang yang memiliki 162 pengikut. Meski demikian, aktivitas grup tak sesering dua grup sebelumnya. Postingan terakhir terpantau pada 29 Oktober 2020.

Kemudian ada grup Gay Pandeglang yang memiliki 410 pengikut. Akun ini sepertinya tak aktif lagi. Sebab, postingan terakhir dilakukan pada 28 Oktober 2017. Itu pun postingan dari admin grup. (tanjung/dewa/rahmat/nna/alt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here