Home BANTEN 12 Warga Banten Korban Sriwijaya Air

12 Warga Banten Korban Sriwijaya Air

157
0
SHARE

SERANG-Warga Banten terdata berada di pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1). Mereka berasal dari Kota Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel. Data sementara tercatat 12 warga menjadi korban. Pihak keluarga pun diminta untuk mendatangi Crisis Center Bandara Soekarno Hatta (BSH) atau Bandara Supadio Pontianak untuk melakukan tes DNA guna keperluan identifikasi korban.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kesebelas warga Banten itu terdiri atas dua kru pesawat dan delapan penumpang. Berdasakan data manifest pesawat, kru pesawat : Dhika asal Kota Tangerang dan Mia Tresetyani Kabupaten Tangerang.

Kemudian, untuk penumpang : Arneta Fauzia, Fao Nuntius Zai, Zurisya Zuar Zai, dan Umbu Kristin Zai asal Kota Serang. Kemudian ada Rusni daerah asal hanya disebut Banten, Grislend Gloria Natalies, Tangerang, Rahmana Ekanada, Kota Tangsel dan Isti Yudha Prastika, Kota Tangsel. Selanjutnya, Iuskandar, Tangerang serta Nelly, Kabupaten Tangerang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten Tri Nurtopo membenarkan daftar nama manifest tersebut. “Kami bersama PT Jasa Raharja sedang melakukan pengecekkan secara langsung ke domisili korban dan keluarganya,” ujarnya, Minggu (10/1).

Ia mengatakan, PT Jasa Raharaja juga sedang cross check lapangan untuk pemberian santunan.

Sementara itu, Sekretaris Dishub Provinsi Banten Herdi Jauhari mengatakan, pihaknya tak ikut menurunkan personel untuk pencairan korban Sriwijaya Air. Operasi pencarian kini ditangani oleh Basarnas, TNI, dan Polri.

Kata dia, pencarian warga Banten bersamaan dengan penumpang SJ 182 lainnya oleh Basarnas dan lain-lain. Terkait peristiwa kecelakaan pesawat tersebut, keluarga diimbau untuk datang ke bandara, di loby keberangkatan maupun kedatangan Sriwijaya Air SJ 182. “Untuk kepentingan identifikasi. Mengingat korban yang ditemukan sebagian besar dalam keadaan tidak utuh,” terangnya.

Ia mengatakan, sehubungan dengan banyaknya korban yang tidak utuh, maka orang tua atau saudara kandungnya diminta datang ke Crisis Center di BSH dan Bandara Supadio Pontianak untuk tes DNA.

Keluarga dari penumpang maupun kru pesawat Sriwijaya Air SJ-182 terus berdatangan di RS Polri Kramat Jati. Mereka mendatangi posko tim DVI Polri yang mulai beroperasi sejak kemarin (10/1) pagi.

Diantaranya adalah keluarga dari kopilot Dieogo Mamahit. Rombongan keluarga Diego tiba di posko DVI RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 08.00 pagi dengan membawa sejumlah dokumen.

’’Saat ini ada di RS Polri Kramat Jati di posko Antemortem lagi buat ngambil sampel DNA dan wawancara denga pihak keluarga,’’ kata Chris Mamahit, kakak dari Diego.

Chris mengatakan rombongan keluarga yang datang saat itu adalah ayah dan ibunya serta kakak Chris. Dia menjelaskan tidak semua anggota keluarga boleh masuk. Karena RS Polri Kramat Jati tetap menerapkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Selain sampel DNA, keluarganya juga dimintai data sidik jari. Menurutnya pihak kepolisian meminta tiga dokumen atau informasi. Yaitu sampel DNA, data dental atau gigi, serta yang ketiga adalah sidik jari. Dokumen tersebut diperlukan untuk proses identifikasi. Chris juga menuturkan keluarga sedang berkoordinasi dengan maskapai untuk meminta hasil pengecekan kesehatan rutin. Termasuk meminta dokumen dental dari Diego.

Kisan korban pesawat Sriwijaya Air yang jatuh di Kepulauan Seribu diceritakan oleh Mohamamd Akbar. Dia adalah saudara sepupu dari Pilot Sriwijaya Air SJ-182 Afwan bin Zamzami. ’’Saya monitor dari grup WA (WhatsApp, Red) keluarga. Hari ini ada yang jalan ke sana (RS Polri Kramat Jati, Red),’’ kata Akbar.

Selain itu dia mengatakan pihak keluarga sudah dihibungi maskapai Sriwijaya Air untuk pengumpulan data dan informasi. Akbar menceritakan pagi harinya sebelum pesawat Sriwijaya Air jatuh Kapten Afwan masih aktif komunikasi di grup WA keluarga.

Saat itu ada kabar salah satu keluarga yang dinyatakan positif Covid-19. Akbar mengatakan adiknya sempat membuka donasi untuk membantu keluarga yang terkena Covid-19 itu. ’’Beliau (Kapten Afwan, Red) sempat komunikasi juga,’’ kata dia.
Di mata Akbar, Kapten Afwan adalah sosok yang dekat dengan keluarga. Kemudian dia juga sangat religius. Dari tampilan kesehariannya, selalu mengenakan kopiah putih. Kemudian dalam beberapa tahun terakhir, sekitar sepuluh tahunan, setiap pagi di rumah Kapten Afwan selalu dikumandangkan murotal Alquran.

Dalam beberapa kesempatan bertemu, Kapten Afwan selalu mengingatkan untuk menunaikan kewajiban salat lima waktu berjamaah di masjid. Selain itu Kapten Afwan juga sempat menjadi ketua pembangunan masjid di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kapten Afwan

Sementara itu Ketua RT Perumahan Bumi Cibinong Endah, Kabupaten Bogor, Agus Pramudibyo menceritakan keseharian Kapten Afwan yang dia terima langsung dari pihak keluarga. Agus mengatakan salah satu kebiasaan Kapten Afwan adalah mengabari keluarga beberapa saat selepas take off maupun setelah landing.

Namun kebiasaan itu tidak dilakukan Kapten Afwan saat memimpin penerbangan Sriwijaya Air SJ-182. Bahkan sebelum take off dia tidak memberikan kabar kepada keluarga. Begitupun ketika Kapten Afwan berangkat bekerja Sabtu paginya, juga tidak ada kejanggalan apapun. Dia pamit salaman dengan istri dan anak-anaknya.

Dalam perkembangannya RS Polri Kramat Jati menerima tujuh kantong jenazah sampai menjelang maghrib kemarin. Kantong jenazah itu adalah hasil dari tim SAR yang dipusatkan di Dermaga JICT. Pada waktu yang sama posko DVI Polri di RS Kramat Jati menerima sebanyak 21 data sampel DNA dari keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Sementara itu usai manifest Sriwijaya Air SJ 182 beredar, Instagram (IG) Ratih Windania salah satu penumpang pesawat rute Jakarta-Pontianak itu langsung dibanjiri warganet. Banyak ungkapan duka cita serta doa yang disampaikan pada perempuan asal Pontianak tersebut.

Beda dengan para nitizen yang langsung menyerbu akun Ratih pasca kabar jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182, Sabtu (9/1). Sahabat Ratih, Adhie Mochammad, justru belum kepikiran untuk membuka akun IG Ratih yang punya banyak kenangan bersamanya. ”Saya gak kuat. Belum saya lihat,” ungkapnya.

Kejadian nahas Sriwijaya Air SJ 182 memang sangat meremukkan hatinya. Ratih dan Adhie sudah seperti saudara. Mereka tinggal satu kompleks dan tumbuh bersama sejak bayi beserta dua sahabat lainnya, Anty dan Tika di Pontianak. Keempatnya bahkan punya grup khusus untuk ngobrol dan berbagi kabar ketika masing-masing tengah sibuk atau pindah luar kota seperti Adhie yang hijrah ke Jakarta. Karenanya, begitu menerima kabar soal tragedi Sriwijaya Air SJ 182, Adhie sontak menelepon ibunya di Pontianak. Dia masih berharap, bahwa daftar manifest Sriwijaya Air SJ 182 salah. Kondisi sahabat kecilnya beserta keluarga baik-baik saja.

Siapa sangka, begitu telepon diangkat, ada suara tangisan di ujung telpon. Sambil terbata, sang ibu mengatakan sudah berada di depan rumah Ratih bersama tetangga lainnya. ”Lutut rasanya lemas sekali. Tangis saya pun pecah,” ungkapnya. Meski begitu, ia masih berupaya mengontak Ratih. Melalui grup pun, ia bersama dua orang sahabat lainnya membombardir Ratih agar segera pulang.

”Sebelum ada pernyataan resmi kami semua masih berharap keajaiban dari Allah,” katanya. Komunikasi terakhir Adhie dengan Ratih terjadi pada momen tahun baru.

Pada 1 Januari 2021, Ratih menghubunginya via Whatsapp untuk bertanya tentang regulasi test swab sebagai persiapan sebelum ia kembali. Ratih, kata dia, minta tolong padanya untuk ditanyakan pada petugas bandara mengenai kewajiban swab PCR setelah tanggal 8 Januari 2020. Apakah masih diwajibkan melakukan swab PCR atau cukup rapid test.

Setelah ditanyakan, Adhie pun mengabari seperti biasa. Tak ada firasat atau pesan apapun saat itu. ”Dia tahu, saya balik ke Jakarta. Pas saya di ruang tunggu, Ratih kirim WA,” kenangnya. Adhie memang tengah berada di bandara Pontianak saat itu. Dia mudik sejak tanggal 23 Desember 2020. Ia pun sempat mengajak ketiga sahabatnya kumpul. Sayangnya, Ratih sudah di Bandung. Menurutnya, Ratih dan keluarganya memang rutin liburan ke Bandung karena sang kakak tinggal di sana.

Selama liburan, Ratih pun hanya sesekali muncul di grup. ”Mungkin karena lagi liburan dan kumpul keluarga jadi tidak pegang handphone,” ungkapnya. Sambil tak kuat menahan tangis, Adhie menceritakan, bahwa sahabatnya itu orang sangat ceria dan memiliki suara ketawa yang khas. Mereka sangat suka kumpul-kumpul di rumah Ratih sambil masak-masak dan bercanda ngalor ngidul. Kebiasaan ini bahkan terus terjadi hingga Ratih, Anty dan Tika punya anak.

Buah hati mereka bahkan jadi dekat karena pertemanan orang tuanya. Mereka sering main sore sambil video call Adhie yang ada di Jakarta. ”Ratih anaknya satu, namanya Yumna. Dan Ratih sedang hamil anak kedua,” katanya tak kuasa menahan tangis. Ratih juga diceritakan olehnya sebagai sosok yang taat. Tidak pernah meninggalkan kewajibannya salat lima waktu. Bahkan ketika janjian jam-jam tanggung salat, ia selalu minta diundur usai salat.

Ia pun punya panggilan sayang darinya dan kedua sahabatnya. ”Kalau dulu waktu kecil karna Ratih ini pipinya tembem, matanya sipit, jadi kita semua manggilnya Bakpau,” tutur Adhie.

Di tempat terpisah Presiden Joko Widodo menyampaikan duka cita atas terjadinya kecelakaan tersebut. “Saya, atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia, menyampaikan dukacita yang mendalam atas terjadinya musibah ini,” ujarnya di teras Istana Kepresidenan Bogor.

Dia menyatakan selalu mendapat laporan dari menteri dan kepala lembaga terkait. Sejak kejadian, Jokowi meminta untuk seluruh pihak serius dalam operasi pencarian. “Kemarin sore (Sabtu sore) telah saya perintahkan kepada Menteri Perhubungan dan Kepala Basarnas (BNPP) yang dibantu oleh TNI dan Polri untuk segera melakukan operasi pencarian dan pertolongan yang secepat-cepatnya kepada para korban,” ucapnya.

Kepala Negara memastikan bahwa pihaknya akan melakukan upaya terbaik bagi operasi pencarian tersebut. Selanjutnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga memerintahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan penyelidikan terkait musibah ini.

Ucapan duka kepada seluruh keluarga korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182 juga disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Selain itu Ma’ruf juga menyampaikan duka cita untuk korban tanah longsor di Garut Selatan dan di Sumedang.

Dia juga menyampaikan doa untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan. ’’Semoga arwah seluruh korban jiwa dari musibah ini diterima dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,’’ tuturnya. Kemudian kepada para keluarga supaya diberi kekuatan dan kesabaran.

Ma’ruf juga memberikan doa dan dukungan kepada seluruh tim penyelamat. Baik dari unsur SAR Nasional, Komite Nasional Keselamatan Transportasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta TNI dan Polri. Kepada para tim di lapangan Ma’ruf mendoakan supaya diberikan kekuatan, kemudahan, dan keselamatan dalam menjalankan tugasnya. (nna/wan/mia/lyn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here