Home BANTEN Sebelum Terbang Naik Sriwijaya Air SJ182, Wajah Arneta dan Dua Anaknya Terlihat...

Sebelum Terbang Naik Sriwijaya Air SJ182, Wajah Arneta dan Dua Anaknya Terlihat Pucat

0
SHARE
Sebelum Terbang Naik Sriwijaya Air SJ182 Wajah Arneta dan Dua Anaknya Terlihat Pucat
Fazria Aulia (19) memperlihatkan foto pernikahan ibunya, Arneta Fauzi. Arneta terdata sebagai penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. FOTO: Doni Kurniawan/Banten Raya

SERANG-Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh di perairan Kepulauan Seribu menyisakan duka yang mendalam bagi para keluarga korban yang menjadi penumpang pesawat tersebut. Satu keluarga warga Taman Lopang Indah, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Kota Serang tercatat menumpang pesawat naas tersebut. Arneta Fauzi (41) bersama tiga anaknya, Fao Nuntius Zai usia belum genap 1 tahun (laki-laki), Zurisya Zuar Zai 8 tahun (perempuan) dan Umbu Kristin Zai usia 2 tahun (perempuan).

Salah satu kerabat keluarga korban yang ditemui di kediaman korban di Perumahan Taman Lopang Indah, RT 01/13, Blok FU2, No. 27, Ricky F Timporok, mengatakan, salah satu firasat akan terjadinya musibah yang menimpa korban adalah jadwal keberangkatan yang tiga kali ditunda. Karena beberapa alasan. Sejak Kamis (7/1), Ricky mengetahui bahwa Arneta bersama anak-anaknya berencana mengunjungi suami yang bekerja di Kalimantan Barat. Namun, penerbangan yang seharusnya dilakukan pada Jumat, harus ditunda karena hasil swab test korban belum keluar dan kembali dijadwalkan akan terbang pada Sabtu (9/1) pukul 07.00 WIB dengan pesawat Nam Air.

“Malamnya istri saya, Sighi, dapat SMS kalau penerbangan itu ditunda lagi. Tapi diganti hari Sabtu pagi pukul 07.00 WIB dengan pesawat 6R. Setelah di-sms lagi ternyata dituker lagi. Penerbangannya diundur jam 13.20 dengan pesawat Sriwijaya Air SJ182. Dan akhirnya, ibu Arneta berangkat dengan ketiga anaknya. Zurisya, Umbu, Fao,” kata Ricky, kepada Banten Raya, Minggu (11/1).

Firasat buruk pun mulai menyerang Ricky dan keluarganya. Karena pesawat yang ditumpangi Arneta bersama ketiga anaknya tak kunjung tiba di Kalbar.

“Kita mulai bertanya-tanya kenapa kok ini gak ada kabar dari Ibu Arneta. Biasanya dia sudah ngasih kabar kalau sudah sampai. Tapi kok ini gak ada kabar,” ucap Ricky yang juga pendeta Gereja Mangga Dua Pantekosta Serang ini.

Ia mengatakan bahwa rasa cemas pun dirasakan oleh suami Arneta, Yaman Zai. Karena harusnya bila tidak ada aral melintang pesawat Sriwijaya Air SJ182 berangkat dari Jakarta, sampai Pontianak pukul 15.00.

“Suaminya, pak Yaman, nelepon ke kita, bagaimana kok ibu Arneta gak sampai-sampai. Seharusnya sampai di Pontianak jam 3 sore, ini udah hampir jam 6 sore belum nyampai-nyampai. Sementara Bandara Supadio itu kan kalau jam 5 sudah sepi,” katanya menirukan ucapan Yaman.

Ricky beranggapan, penundaan penerbangan berkali-kali tersebut menjadi salah satu firasat atau pertanda bahwa seharusnya korban tidak perlu berangkat pada hari itu. Namun, Ricky tetap berharap terjadi mukjizat dan kabar terbaik dari para korban khususnya Arneta beserta anak-anak.

“Kita berharap ada mukjizat. Karena ini memang belum ada satu pun yang terdeteksi atau ditemukan. Kami berharap yang terbaik, kalaupun memang sudah ketentuan Tuhan sudah seperti itu ya kita serahkan (ikhlas),” katanya.

Arneta ke Bandara Soekarno-Hatta (BSH) diantar Indra Bayu, kerabatnya pada Sabtu (9/1) pukul 08.42. Tiba di SBH pukul 11.40 WIB. Namun ia tidak lekas pulang ke Serang, karena khawatir Arneta gagal berangkat lagi.

“Kita masih menunggu di bandara khawatir tidak lolos tes di bandara. Pukul 11.35 kita ditelepon oleh mama Arneta, lolos tes. Mama Arneta bilang, kalian pulang aja,” kata Indra.

Selama di perjalanan menuju Serang, salah satu pembantunya yang juga ikut mengantar merasa sedih, seolah Arneta akan pergi selamanya. Namun Indra belum ada pemikiran yang macam-macam. Pukul 19.30 Indra mendapat kabar ada pesawat Sriwijaya Air SJ182 jatuh. Mulanya ia sempat tidak mempercayai bahwa pesawat yang jatuh itu adalah pesawat yang ditumpangi Arneta. Karena jadwal keberangkatan berbeda. Setelah ditelusuri dengan mencari informasi ternyata benar pesawat Sriwijaya Air SJ182 yang ditumpangi Arneta jatuh.

Indra mengungkapkan, Arneta sempat meminta sarapan kupat tahu saat di perjalanan menuju BSH. Namun karena tidak ditemukan, akhirnya keinginan Arneta tidak terpenuhi.

Tiga hari sebelum berangkat, ia mengaku sempat merasakan hal yang berbeda terhadap Arneta. “Mama terlihat baik. Biasanya sih jutek sama kita,” katanya.

Namun ketika pagi sebelum berangkat ke BSH, ia melihat raut wajah Arneta dan ketiga anaknya pucat.

“Terus pas mau berangkat pagi, maaf muka mereka semua pucat semua. Saya tidak punya pemikiran apa-apa. Dan kita tidak punya pemikiran apa setelah gagal terbang dua kali. Gagal mungkin karena tes Covid-19, tidak ada pemikiran yang lain-lain. Dan pesawat yang jatuh ini sempat delay dua kali,” ungkap Indra.

Anak pertama Arneta, Fazriah Aulia sedih kehilangan orang-orang yang dicintainya.

“Tau kabar pertama dari tante aku, Tante Sighi, pukul 16.30. Kaget syok dan gak percaya juga. Sampai nyari-nyari info juga. Telepon ke pihak sana juga dan keluarga yang di Pontianak,” ujar Fazriah, dengan mimik wajah sedih.

Ia mengungkapkan, sebelum berangkat ibunya tidak ada pesan khusus untuknya. Hanya saja ia merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang manja kepadanya.

“Gak ngomong apa-apa. Cuman kok tumben sifatnya jadi manja ke saya, dekat-dekat, ramah dan baik, tumben banget biasanya kan berantem, jutek ke saya. Gak ngomong apa-apa lagi. Adik aku sebelum berangkat manja ke aku. Kakak ikut yuk. Gak ikut karena aku jaga rumah, karena kurang fit,” ucap dia.

Fazriah juga menuturkan, pagi sebelum berangkat penampilan Arneta berbeda dari biasanya.

“Biasanya kan gak makeup, hari itu tumben pakai make up, ngaca mulu,” tutur dia.

Ia menjelaskan, tujuan Arneta ke Pontianak selain untuk menemui suaminya, juga ada keperluan bisnis.

“Mau ada bisnis dan sekalian ketemu suaminya di Pontianak. Bisnis membuka kafe saya pernah dengar. Mau bisnis dengan orang sana. Papa pelayar. Kalau pulang gak nentu kadang setahun sekali,” terangnya.

Ia berharap jasad orang-orang tercintanya tersebut segera ditemukan, dan dapat dimakamkan.

“Walaupun jasadnya umpamanya sudah tidak utuh berharap bisa ketemu semua,” harap dia.

Fazriah juga mengungkapkan, sepekan sebelum berangkat ke Kalbar, Arneta telah merestui hubungan anak gadisnya tersebut dengan kekasihnya yakni Indra Bayu. Bahkan, Arneta telah membelikan gelang emas untuknya. Namun impian Arneta untuk menyaksikan putri sulung dari suami pertamanya tersebut tak terealisasi. Karena Arneta keburu dijemput Allah, dalam peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182.
Akhirnya, karena kecelakaan yang dialami sang ibu, pernikahan yang rencananya akan dilaksanakan tahun ini terpaksa diundur tahun 2022 mendatang.

Fazria mengatakan, ia bersama kekasihnya telah bermeminta restu dengan sang ibu dalam menentukan tanggal lamaran dan pernikahan yang direnacakan akan berlangsung tahun ini. Sang ibu telah menetapkan bahwa lamaran dilaksanalan pada April 2021 dan pernikahan dilakukan pasca Idul Fitri tahun ini tepatnya tanggal 14 Juni 2021 bertepatan dengan hari ulang tahun Fazria.

“Itu yang nentuin mama,” ungkap dia.

Meskipun tanggal tersebut telah ditentukan oleh sang ibu, namun Fazria mengaku ingin fokus terlebih dahulu pada kondisi sang ibu beserta adik-adiknya yang belum juga ditemukan oleh tim Basarnas.

“Cuman kan karena kondisi keluarga lagi kayak gini, kayaknya diundur tahun depan,” tandasnya.

Kepergian Arneta Fauzi pun membekas dalam ingatan para tetanganya. Sundiyah salah seorang tetangganya mengatakan, Arneta sempat menitipkan anak sulungnya Fazria Aulia kepada tetangganya di Kompleks Perumahan Taman Lopang Indah, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, Kota Serang. Namun, tetangga Arneta sempat bingung. Lantaran malam sebelum keberangkatannya Arneta sempat bercerita bahwa ia hanya akan membawa satu anak yakni si bungsu yang berusia kurang dari 1 tahun.
Sementara tiga lainnya akan tetal tinggal di rumah.

“Makanya pas jam 09.00 pagi dia berangkat, kok semua anaknya dibawa dan tinggal yang besar di rumah. Dia cuma bilang titip anak saya di rumah, ya itu anak yang besarnya,” ujar Sundiyah yang diamini oleh tetangga lainnya bernama Tati.

Menurut mereka, meskipun baru tinggal di kompleks tersebut selama kurang lebih 4 bulan, namun sosok Arneta bagi para tetangga dikenal baik, ramah dan kerap bercerita tentang anak-anaknya.

Orangnya ramah, selalu sapa, banyak senyum. “Kenal ama saya memang belum lama. Orangnya gak jaim, walaupun tetangga baru. Kalau belanja di warung saya juga sering ngobrol sama saya,” tuturnya.┬áIa berharap, segera ada kabar baik mengenai Arneta beserta anak-anaknya. (brp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here