Home TANGERANG HUB Tanpa Barcode BST Tak Cair, Penerima Kebingungan

Tanpa Barcode BST Tak Cair, Penerima Kebingungan

0
SHARE
Tanpa Barcode BST Tak Cair, Penerima Kebingungan
BANSOS: Bantuan sosial tunai Rp 300 ribu mulai disalurkan. Tetapi penerima yang mendapat undangan tanpa ada barcode-nya akan ditolak petugas, Rabu (13/1). FOTO: Randy Yastiawan/Tangerang Ekspres

TANGERANG – Penyaluran Bantuan Sosial Tunai (BST) disoal. Undangan yang mereka terima tidak tertera barcode dari PT Pos Indonesia. Hal ini membuat bingung penerima.

Sumi Asih, warga Kelurahan Poris Gagabaru tidak bisa mencairkan BST karena undangan yang diterima tidak ada barcode-nya. Padahal, nama dia termasuk dalam penerima BST dari Kementerian Sosial.

“Di undangan jadwalnya pukul 09.00 WIB, setelah sampai di sana petugas yang mencairkan uang mengatakan saya tidak bisa karena harus ada undangan yang ada barcode dari PT Pos Indonesia. Jadi saya bingung sebenarnya saya dapat atau tidak,”ujarnya saat ditemui Tangerang Ekspres di lokasi pembagian BST, Rabu (13/1).

Sumi menambahkan, bantuan sebesar Rp 300 ribu sangat berarti. Karena kondisinya saat ini sangat membutuhkan.

“Saya jualan ketoprak, buka pukul 18.00 WIB dan harus tutup pukul 19.00 WIB. Padahal selama ini saya jualan buat sehari-hari, ditambah BST ini saya bingung apakah dapat atau tidak. Bansos UMKM saya juga tidak dapat,”paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Kota Tangerang Suli Rosadi menilai terjadi miskomunikasi antara Kemensos dan PT Pos. Sehingga ketika pelaksanaanya ada yang dapat undangan dengan barcode dan ada yang tidak dapat barcode.

“Beberapa waktu lalu saya melakukan rapat di Kemensos. Aaya pertanyakan masalah undangan itu. Kalau memang terdata seharunya semua dapat, tetapi kenapa ada yang tidak dapat barcode. Sehingga membuat resah masyarakat yang datang dan bertanya-tanya,”ungkapnya.

Suli menuturkan, mekanisme dapat atau tidaknya ditentukan Kemensos yang selanjutnya data tersebut diberikan kepada PT Pos Indonesia. Dinsos Kota Tangerang, kata Suli, hanya memfasilitasi tempat saja karena data sudah sejak awal diberikan.

“Kita tidak bisa mengatasinya, karena kebijakan dan keputusan ada di pusat. Tetapi saya terus mempertanyakan dan meminta agar sistem tersebut beres. Karena kasihan, warga punya harapan dapat bantuan,”tutupnya. (ran)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here