Home TANGERANG HUB Harga Melambung Bikin Buntung, Pedagang Daging Mogok Jualan

Harga Melambung Bikin Buntung, Pedagang Daging Mogok Jualan

0
SHARE
Harga Melambung Bikin Buntung, Pedagang Daging Mogok Jualan
Pedagang daging sapi di Pasar Modern BSD City, tidak berjualan Rabu (20/1). Mogok jualan ini akibat melambungnya harga dari pemasok daging yang membuat mereka sulit menjual ke konsumen umum. FOTO: Tri Budi/Tangerang Ekspres

SERPONG-Pedagang daging sapi di Pasar Modern BSD, Serpong mogok berjualan mulai, Rabu (20/1). Ini terjadi lantaran harganya terus melambung tinggi dan keuntungan yang didapat tipis. Bahkan ada yang buntung. Karena mahal, dagangannya tidak laku.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kios-kios yang biasanya diisi oleh pedagang daging, kemarin tampak kosong. Tak ada pedagang yang menggelar dagangannya.

Salah seorang pemilik kios, Aulia Syahril mengatakan, aksi mogok jualan tersebut dilakukan sebagai puncak kekesalan pedagang daging akan tingginya harga jual.
Ia mengatakan harga daging sapi eceran di tingkat rumah potong sudah naik sejak hari libur Natal lalu.

“Jadi ini memang puncak kekesalan kami. Harga mulai naik sejak Natal dari yang tadinya Rp 110 ribu sampai Rp 150 ribu,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (20/1).

Aulia menambahkan, kondisi tersebut diperparah karena adanya pandemi Covid-19. Sebagai pedagang daging yang sudah berpengalaman sekitar 10 tahun, ia paham betul bahwa daging sapi dinikmati oleh konsumen menengah atas.

“Daging sapi yang beli orang menengah atas. Nah, mereka selama pandemi mengurangi beli daging langsung ke pasar. Bisa dibilang kami itu sudah jatuh tertimpa tangga,” tambahnya.

Hal ini membuat penjualannya anjlok. Dia pun berharap kondisi ini dapat segera berlalu. Rencana mogok jualan dilakukan dari 20-22 Januari. Ia dan pedagang sapi lainnya tentu ingin harga daging sapi dapat kembali normal.

“Di sini ada 12 penjual daging. Sebenarnya kita punya stok daging. Tapi, gak berani jual, karena ada yang ngawasi dari asosiasi,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Ciputat yang melakukan mogok jualan, Suheli (30) mengatakan, ikut tidak berjualan selama tiga hari ke depan. Seperti pedagang-pedagang lainnya. Dia mengaku pada dasarnya aksi mogok yang dilakukan pedagang daging sapi lainnya di Pasar Ciputat agar harga daging sapi yang melambung tinggi bisa kembali normal.

“Intinya semua pedagang daging sapi mogok, supaya harganya bisa normal lagi,” ujarnya.

Suheli menambahkan, kenaikan harga daging sapi dinilai cukup mencekik. Kenaikan harga daging sapi di rumah pemotongan hewan (RPH) mencapai Rp 10 ribu/kg. Dari Rp 85 ribu menjadi Rp 95 ribu/kg. Dengan kenaikan tersebut, ia menjualnya kepada pembeli sekitar Rp 120-Rp 125 ribu.

“Akibat kenaikan ini penjualan saya secara otomatis turun, karena mahal tak ada yang beli. Sebelum kenaikan harga ini, bisa jual 50 kg, bahkan bisa habis satu kuintal. Sekarang paling 40 kilo,” jelasnya.

Dengan adanya penurunan penjualan tersebut, Suheli kehilangan pendapatan cukup dalam dari sebelumnya, Rp 20 juta menjadi Rp 10 juta. “Bisanya dapatnya bisa Rp20 juta sampai Rp 25 juta sehari,” tuturnya.

Sementara itu, kenaikan harga daging sapi tersebut dirasa memberatkan oleh menjual makanan yang memanfaatkan daging sebagai menu utamanya. Seperti yang dirasakan oleh pemilik warung makan Soto Mie Leo Dozan di Pasar Modern BSD.

Leo menuturkan harga daging sapi mengalami kenaikan. Namun, ia memiliki cara sendiri agar tidak kena dampaknya. “Saya punya langganan daging sendiri di daerah Karawaci. Jadi harganya harga langganan,” ujarnya.

Ia menambahkan, terakhir membeli daging sekitar 10 hari lalu dan hanya naik Rp 5 ribu/kg. Yakni harganya dari Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu dan itu tergantung jenis dagingnya. “Penjual daging sapi mogok tapi, saya gak kesulitan daging. Karena sudah ada langganan selama 10 tahun,” tambahnya.

“Satu hari saya habis 3 kilo daging dan sebelum Covid-19 sempat mencapai 10 kilo. Stok daging saya masih cukup untuk tiga hari,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kota Tangsel Maya Mardiana mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Peternakan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Banten dan Kementerian Perdagangan.

Maya memaparkan berdasarkan aplikasi Pagar Tangsel yang berisi tabel harga komoditas di semua pasar di Kota Tangsel, harga daging sapi rata-rata per 19 Januari masih di angka Rp 118 ribu/kg. Ini masih rendah jika dibandingkan dengan harga rata-rata daging sapi di Kota Tangerang yang mencapai Rp 120 ribu/kg, dan harga di Pasar Anyar Bogor Rp133 ribu/kg. Juga masih lebih murah dari harga di Pasar Minggu Jaksel, Rp 130 ribu/kg.

“Berdasarkan informasi kenaikan harga daging sapi tersebut karena harga dari pemasok sudah juga naik,” ujar Maya. Daging sapi yang merupakan sapi yang diimpor dari Australia tersebut naik karena meningkatnya permintaan dari Cina dan Vietnam dan terjadi hukum supply demand.

“Saat ini kita sedang menunggu arahan lebih lanjut dari Provinsi Banten dan Kementerian Perdagangan untuk menangani isu kenaikan harga daging sapi ini,” jelasnya.

“Informasi sementara, dari pusat akan mencari importir daging sapi dari negara lain. Serta percepatan impor daging beku. Pemerintah mengimbau pedagang daging untuk tetap melakukan kegiatan berdagang sambil menunggu kebijakan impor daging sapi,” tutupnya.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Tangerang mencatat adanya aktivitas mogok jualan hanya di beberapa pasar tradisional. Masih ditemukan sejumlah pedagang daging sapi yang berjualan untuk menghabiskan sisa stok.

Kadisperindag Kabupaten Tangerang Ujang Sudiartono memgatakan, aksi mogok jualan disebabkan mahalnya harga beli dari di rumah pemotongan hewan (RPH).
Hal ini, kata dia, menyebabkan pedagang menjual harga lebih mahal dari sebelumnya kepada konsumen.

Ujang menuturkan, perdagangan daging sesuai surat edaran Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) akan mogok hingga Jumat (22/1). Penyebabnya, harga beli daging yang tinggi dari RPH sehingga pedagang kesulitan untuk menjual kepada konsumen.

“Di beberapa pasar mereka sudah tidak dagang. Tetapi di beberapa pasar masih ada yang berdagang menghabiskan sisa stok,” katanya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (20/1).

Ia menjelaskan, stok daging masih aman dan tersedia dari pegadang daging besar. Namun harganya cukup tinggi yakni Rp140 ribu hingga Rp150 ribu/kg.

“Informasinya memang harga daging di RPH dan distributor sudah cukup tinggi. Ini menyebabkan pedagang daging kesulitan untuk menjual lagi kepada konsumen,” jelasnya.

Ujang menuturkan, berdasarkan hasil pantauan yang dilakukan harga daging sapi di setiap pasar berbeda. Yakni, berkisar antara Rp140 ribu hingga Rp150 ribu/kg. Hingga saat ini, kata Ujang, pemerintah daerah menunggu keputusan dari kementerian terkait aksi mogok jualan pedagang daging sapi. “Kami masih menunggu informasi dari pusat. Karena dari sisi stok daging sapi masih tersedia,” pungkasnya.

Pantauan Tangerang Ekspres, pedagang di pasar Gudang Tigaraksa kompak menutup lapak mereka. Hal ini terjadi sejak kemarin. “Iya mogok jualan. Katanya protes harga di distributor mahal,” aku Azizah (35) salah satu pengunjung pasar. (bud/sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here