Home TANGERANG HUB Dampak Vaksin Covid-19 Belum Sepenuhnya Diketahui, Ge Nose Akan Dipakai di Kereta...

Dampak Vaksin Covid-19 Belum Sepenuhnya Diketahui, Ge Nose Akan Dipakai di Kereta Mulai 5 Februari

0
SHARE
Dampak Vaksin Covid-19 Belum Sepenuhnya Diketahui Ge Nose Akan Dipakai di Kereta Mulai 5 Februari
Dinas Perhubungan DKI Jakarta tes Covid menggunakan Ge Nose, alat deteksi Covid buatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta. Alat ini mendeteksi vrus Corona dari udara yang ditiupkan ke dalam plastik khusus.

JAKARTA-Pemerintah akan mulai menggunakan alat deteksi Covid-19 Ge Nose untuk pada perjalanan moda kereta api dan bus mulai 5 Februari mendatang. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengungkapkan bahwa bahwa pada 5 Februari nanti, penggunaan Ge Nose akan diterapkan secara wajib pada moda kereta api. Sementara moda bus tidak wajib. Namun pemerintah akan menerapkan pengujian acak (random testing).

“Akan dimulai di pulau Jawa terlebih dahulu,” jelas Menhub kemarin (24/1). GeNose adalah alat pendeteksi Covid-19 buatan Indonesia, yang diinisiasi oleh tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta. Alat ini telah mendapatkan persetujuan edar dari Kemenkes dan Satgas Penanganan Covid-19.

Budi mengatakan, pihaknya akan segera membuat surat edaran kepada para operator transportasi kereta api. Sementara transportasi udara akan menyusul. Budi mengatakan, sudah meminta Dirjen Perhubungan Darat untuk berkoordinasi dengan para Kadishub di seluruh Indonesia untuk persiapan pengecekan secara acak (random). ”Seseorang dinyatakan positif maka yang bersangkutan tidak dibolehkan untuk berangkat,” katanya.

Budi mengimbau kepada masyarakat yang akan bepergian menggunakan transportasi bus agar tidak memaksakan diri untuk berangkat jika merasa tidak enak badan atau sakit. Karena di terminal-terminal bus dilakukan pengecekan secara acak.

“Keinginan dari bapak Presiden yaitu untuk memastikan konektivitas itu tetap berjalan, tetapi protokol kesehatan juga dijalankan secara baik. Kita ingin semua masyarakat tertib dan membantu pemerintah untuk menjaga protokol kesehatan dengan baik,” jelas Menhub.

Budi mengatakan, alasan mengapa moda transportasi kereta api dan bus menjadi yang pertama untuk diterapkan pengecekan Covid-19 menggunakan Ge Nose, karena harga tiket bus pada rute tertentu lebih murah daripada tes Covid-19 Rapid Antigen atau PCR Test. Sehingga moda bus diprediksi lebih diminati oleh masyrakat. “Karena kereta api ada jarak-jarak tertentu, katakan Jakarta-Bandung 100 ribu, kalau mesti antigen 100 ribu lagi itu kan mahal. Apalagi tarif bus yang lebih murah lagi, ada yang cuma 40-50 ribu,” katanya.

Budi mengatakan dengan Ge Nose ini, harga tes hanya 20 ribu (sekali cek). ”Apalagi kalau nanti dengan skala besar bisa lebih murah menjadi 15 ribu, jadi lebih terjangkau. Kami sudah pesan 200 unit untuk 44 titik stasiun di seluruh Jawa dan Sumatera,” tutur Menhub.

Sementara itu Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan bahwa terminal pertama yang akan menggunakan Ge Nose adalah Terminal Pulo Gebang.

“Merujuk SE Satgas Penanganan Covid-19, kita masih sepakat untuk masyarakat yang berpergian dengan bus itu sifatnya hanya random sampling. Untuk di Jakarta yang pertama kali dilaksanakan adalah di terminal Pulogebang, dan secara bertahap kita sudah pesan 100 alat Ge Nose yang akan segera kita distribusikan ke daerah-daerah,” kata Budi.

Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah vaksinasi. Setelah vaksinasi pertama yang dilakukan pada 13 Januari lalu, kini tahapan pertama akan dilakukan vaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan. Mereka yang berhak menerima vaksin akan dikirimi SMS lalu melakukan registrasi. Target nakes yang divaksi adalah 1,48 juta orang. ”Saat ini sudah 174 ribu (nakes) yang datang dan mendapat vaksin 146 ribu (nakes),” kata Jubir Kemenkes untuk Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi kemarin. Data tersebut sesuai yang dilaporkan kepada Kemenkes hingga kemarin pukul 13.24.

Pemerintah menargetkan untuk vaksinasi ini diberikan kepada 181,5 juta orang. Jumlah itu menurut Nadia sudah mengeluarkan kelompok berisiko seperti memiliki penyakit komorbid. Meski sudah mengeluarkan mereka yang berisiko sebagai target vaksinasi, masih ada yang tidak bisa atau ditunda vaksin. Mereka ini merupakan orang yang tak lolos assesment. Lalu apakah ini akan mempengaruhi target untuk memperoleh herd imunnity? Nadia menjelaskan bahwa ini sudah diantisipasi oleh pemerintah. ”Jumlah sasasran bisa bertambah,” ucapnya. Dia mencontohkan, pada awalnya nakes yang mendapatkan vaksin hanya 1,3 juta. Namun kini ditambah menjadi 1,48 juta.

Di kesempatan lain Pakar Kesehatan Masyarakat Anung Sugihantono menyatakan bahwa vaksin Covid-19 ini merupakan barang baru. Sehingga belum sepenuhnya diketahui. Baik manfaat vaksin, efek simpang, hingga lama perlindungan. Sehingga pemerintah mencoba melindungi masyarakat dengan tindakan yang hati-hati. Selain itu, vaksin ini masih terus diteliti untuk mendapatkan data. ”Makanya diberi registrasi, tahapan, dan tempat vaksinasinya ditentukan,” ungkapnya.

Ketika vaksin tersebut sudah diketahui secara pasti efeknya, maka sebenarnya pemerintah bisa melakukan dengan cepat. Dia mencontohkan pengalamannya melakukan vaksinasi Measles Rubella (MR) ketika menjadi Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) penyuntikan vaksinnya bisa diselesaikan dalam sebulan. ”Asal dikatakan everiting its ok ya berani sehari 1000 (orang),” katanya.

Anung menjelaskan lebih lanjut terkait efikasi yang sebelumnya dikeluarkan oleh BPOM. Vaksin Covid-19 dari Sinovac dikatakan memiliki efikasi 63,3 persen. Jumlah ini menurutnya didapat ketika yang diuji adalah orang sehat yang terkontrol oleh peneliti. ”Sekarang untuk masyarakat umum dan belum tahu efeknya gimana,” ujarnya.

Selain itu terkait jumlah vaksinator. Menurutnya jika dirasa kurang maka daerah seharusnya diberikan wewenang untuk melakukan pelatihan vaksinator. Sehingga jumlahnya bisa tercukupi. Jika nanti tidak tercapai 181,5 juta orang divaksin maka Anung meminta agar tidak melihat satu sisi saja. Ada banyak problem yang dialami. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here