Home TANGERANG HUB Usai Mogok, Jual Daging di Bawah Harga Pasar

Usai Mogok, Jual Daging di Bawah Harga Pasar

0
SHARE
Usai Mogok, Jual Daging di Bawah Harga Pasar
Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie (kanan) memberikan masker kepada pedagang daging di Pasar Serpong. Pedagang daging sapi di Pasar Serpong mulai jualan lagi, namun menjual di bawah harga pasar kepada pelanggan tetapnya.

SERPONG-Pada 20-22 Januari pedagang daging sapi mogok jualan. Aksi mogok tersebut sebagai bentuk protes karena harga daging dari produsen terlalu tinggi, sedangkan pelanggan tak kuat membeli. Hal tersebut terjadi lantaran margin harga jual daging sapi sudah sangat tipis. Bahkan membuat pedagang sampai rugi. Namun, sejak Sabtu (23/1) pedagang mulai menjajakan daging sapi kembali, seperti di Pasar Serpong.
Namun, usai mogok harga daging tak kunjung menurun.

Pedagang daging di Pasar Serpong, terpaksa berjualan dengan harga di bawah pasaran sampai merugi.

Salah satu pedagang di Pasar Serpong, Ismed (35), mengatakan, permintaan daging sapi tinggi. Namun, pembeli menolak jika harganya terlalu mahal.

“Sebenarnya kita bingung, dari atas belum ada respons. Cuman karena konsumen sudah banyak permintaan bingung juga. Sebenarnya bukan untung untuk jualan yang di pasar ini karena, harganya masih tinggi,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Sabtu (23/1).

Ia mengaku, menjual dagingnya dengan harga Rp 120 ribu per kilogram. Sedangkan harga pasaran mencapai Rp 140 ribu. “Kalau harus ikutin harga pasar itu harus Rp 140 atau Rp 135 ribu. Tapi, mau gimana karena daya penjualan tidak kuat, ya kita ikutin saja kalau mau kuat penjualan ya Rp 120 ribu,” tambahnya.

Lantaran menjual dengn harga di bawah pasaran, sehingga membuatnya rugi. Namun, ia rela merugi karena pembelinya yang mayoritas pedagang bakso, yang menjadi konsumen tetapnya. Pedagang baksi hanya mau harga maksimal Rp 120 ribu per kilogram. “Iya Rp 120 ribu ini bukan untung. Karena ngebelain pelanggan saja. Karena, tidak kuat daya penjualannya, kasihan sama pedagang bakso, warung-warung nasi,” tanbahnya.

Ia merinci, harga modal membeli daging senilai Rp 100 ribu per kilogram. Namun, daging tersebut masih beserta tulang dan gajih yang tidak bernilai. “Harga modalnya kalau sekarang ini dibilang harga daging itu satu potong belinya sama tulang-tulangnya, sama gajihnya sudah Rp 100 ribu. Sedangkan naiknya dari daging doang kaya tulang sumsum kan gratis, enggak jadi duit kasarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Daging Pasar Serpong, Arwan mengatakan, jika pedagang tidak berjualan dikhawatirkan pelanggan akan beralih ke pedagang daging lain. “Sebenarnya kalau mau untung ya jual harga Rp 130 ribu. Tapi, kondisinya lagi gini, kita mau naikin juga nanti konsumen tidak ada pada kabur karena terlalu mahal,” ujarnya.

Pria yang sudah berdagang daging selama 22 tahun tersebut mengaku bisa memahami tukang bakso dan pengusaha kecil lainnya yang tidak mampu mengikuti harga pasaran. Faktornya tidak lain adalah pandemi Covid-19.

Pelanggan bakso, warung makan dan usaha kecil lainnya juga kehilangan pelanggan karena kesulitan ekonomi. “Tidak mau naik, tidak kuat. Iya karena kondisi pandemi Covid-19,” tuturnya. Ia berharap, harga daging dari produsen atau rumah pemotongan hewan (RPH) bisa segera turun, sehingga harga pasaran bisa normal kembali. “Kita berharap RPH jangan sampai naik-naikin harga lagi,” tutupnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here