Home TANGERANG HUB Penggali Kuburan Covid Belum Dibayar

Penggali Kuburan Covid Belum Dibayar

0
SHARE
Penggali Kuburan Covid Belum Dibayar
Para penggali makam menguburkan jenazah pasien Covid-19 di TPU Jombang, Ciputat, Kota Tangsel. Di Januari ini, pekerja penggali kuburan yang siaga, belum menerima upah dari Satgas Penanggulangan Covid-19 Kota Tangsel.

CIPUTAT-Penggali kuburan menjadi garda terdepan penanggulangan Covid-19. Tugasnya tidak mudah. Mereka harus siaga 24 jam menggali lubang untuk memakamkan jenazah yang dinyatakan Covid-19. Di Januari ini, para penggali makam di TPU Jombang, Ciputat, Kota Tangsel belum menerima upah.

Kepala Seksi Pemakaman Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta) Kota Tangsel Nazmudin yang dikonfirmasi mengatakan, terdapat 10 penggali yang bekerja bergantian. Ia mengakui pembayaran upah penggali tidak selalu lancar. Upah penggali menjadi tanggung jawab Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Covid-19 yang disalurkan melalui Dinas Perkimta.

Pada 2021 ini, dana upah penggali yang masuk dalam biaya tak terduga (BTT), belum kunjung cair. Pengupahan penggali terpaksa ditalangi dengan berutang sana-sini. Kendati mengungkapkan fakta pengupahan, ia tidak menyebutkan pihak yang diutangi tersebut.

“BTT untuk tahun ini sedang kita ajukan. Mudah-mudahan segera cair agar permasalahan pembayaran tukang gali kubur ini khususnya ini tidak tersendat-sendat. Sementara ini, cari pinjaman sana-sini untuk talangan pembayaran,” tambahnya.

Setiap pasien Covid-19 yang meninggal dunia harus dimakamkan maksimal empat jam setelah dinyatan meninggal dunia. Sehingga para penggali kubur harus bekerja keras berpacu dengan waktu.

“Di TPU Jombang yang khusus memakamkan jenazah korban Covid-19, penggali diupah Rp 1 juta setiap kali memakamkan jenazah. Satu lubang pemakaman digarap oleh lima penggali,” ujarnya.

Sementara itu secara keseluruhan, jumlah korban meninggal dunia di Kota Tangsel semakin meningat. Sejak Maret tahun lalu, sampai saat ini setiap hari terjadi penambahan kasus positif dan meninggal dunia.

Pada Januari ini mencatatkan rekor peningkatan tertinggi selama pandemi Covid-19 di Kota Tangsel. Hal tersebut terlihat dari jumlah jenazah yang dimakamkan di tempat pamakaman umum (TPU) Jombang, Ciputat, dengan protokol Covid-19.

Kepala Pengurus TPU Jombang Tabroni mengatakakan, sejak Maret 2020 sampai kemarin, Selasa (26/1), sudah ratusan jenazah yang dimakamkan dengan protokol Covid-19.

“Pemakaman Covid sampai hari ini (kemarin) total 562 jenazah yang sudah kami makamkan di TPU Jombang,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres.

Tabroni menambahkan, berdasarkan data hingga akhir Januari sudah ada 123 jenazah yang dimakamkan. “Jenazah yang dimakamkan di TPU Jombang seluruhnya berdomisili di Kota Tangsel. Namun, tidak semua ber-KTP Kota Tangsel,” tambahnya.

Virus Corona tak pilih-pilih dalam menginfeksi korbannya. Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Tangsel tercatat positif Covid-19 sejak Maret tahun lalu. Hingga kemarin, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BPKK) Kota Tangsel mencatat 120 ASN menjadi korban virus Corona. Mulanya tercatat lima kasus ASN yang menjadi pasien positif Covid-19. Dari hari ke hari bertambah banyak, seiring meluasnya virus Corona, hingga mencapai 120 ASN dan 4 orang meninggal dunia.

Kepala BPKP) Kota Tangsel Apendi mengatakan, 120 orang yang positif Covid-19 mulai dari kepala dinas, sekretaris, staf dan lainnya. “Ada empat ASN yang meninggal dunia akibat Covid-9,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Selasa (26/1).

Apendi menambahkan, kondisi parah juga dialami Kepala Dinas Perhubungan Tangsel Purnama Wijaya. Ia sempat dirawat di rumah sakit di Kota Tangerang sampai harus menggunakan alat bantu menggunakan ventilator.

“Saat ini kondisi Pak Purnama sudah membaik dan sudah tidak lagi menggunakan ventilator dan sedang pemulihan,” tambanya.

Masih menurutnya, untuk ASN lainnya Apendi sedang menjalani isolasi mandiri baik di rumah dan di tempat karantina khusus Rumah Lawan Covid-19 (RLC) milik Pemkot Tangsel. “ASN yang positif lebih banyak yang orang tanpa gejala (OTG),” jelasnya.

Untuk menekan angka penyebaran Covid-19 di lingkup ASN, Pemkot Tangsel sudah lama menerapkan sistem Work From Home (WFH). Hanya 25 persen pegawai yang boleh datang ke kantor. “Kita masih terapkan pegawai 25 persen saja dari kapasitas masing-masing di kantor dinas. Protokol kesehatan juga kita perketat,” ungkapnya.

Apendi berharap jumlah ASN yang positif tidak bertambah dan pandemi Covid-19 segera berakhir.

“Saya sebagai koordinator Satgas OPD, saya rutin pantau bagaimana keberadaan ASN di masing-masing OPD. Prokes sudah berjalan dengan baik, rapat sudah dikurangi dan rapat pakai zoom,” tuturnya.

Mantan Kepala DPMP3AKB Kota Tangsel ini mengimbau kepada ASN bila sedang WFH tidak pergi ke mana-mana dan jangan sampai kena dan terjadi kluster baru. “Kalau lagi di WFH ya di rumah saja,” tutupnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here