Home NASIONAL Manajer Hotel Pakons Tersangka Kasus Pembuangan Limbah Medis APD di Bogor

Manajer Hotel Pakons Tersangka Kasus Pembuangan Limbah Medis APD di Bogor

0
SHARE
Manajer Hotel Pakons Tersangka Kasus Pembuangan Limbah Medis APD di Bogor
Penyidik Polres Bogor memakai baju hazmat saat mengecek limbah medis yang dibuang di kebun sawit di Kecamatan Tenjo, Bogor, beberapa waktu lalu.

BOGOR-Polres Bogor menetapkan pihak manajemen Pakons Prime Hotel (PPH) sebagai tersangka, kasus pembuangan limbah medis alat pelindung diri (APD) di Kecamatan Cigudeg dan Tenjo, Bogor. Selaian, dua sopir laundry yang sudah ditangkap dan menjadi tersangka, polisi mengejar dua pelaku yang identitasnya masih dirahasiakan polisi ini.

“Masih dalam pengejaran,” kata Kapolres Bogor AKBP Harun, Senin (15/2). Dalam kasus ini polisi menemukan 120 karung limbah medis yang berisi masker, baju hazmat, dan APD lainnya. Berdasarkan penyelidikan polisi, limbah medis ini berasal dari PPH yang berada di Jalan Daan Mogot, Kota Tangerang, tak jauh dari SMAN 1 Kota Tangerang. Hotel tersebut dikontrak Pemkot Tangerang sebagai tempat isolasi bagi pasien Covid-19 tanpa gejala.

Harun menyebut kedua tersangka melarikan diri usai polisi menetapkan tersangka sebelumnya. “Jadi total ada empat pelaku. Dua sopir, satu manajemen hotel dan satu lainnya dari pihak laundry. Yang dua saat ini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO),” ujar Harun seperti dikutip Radar Bogor. Kapolres belum mau merinci peran dan identitas tersangka dari pihak PPH.

Dia menjelaskan, kedua pelaku awal, WD dan IP, berhasil diamankan setelah proses penyidikan yang dilakukan Polres Bogor berdasarkan temuan Polsek Parung Panjang dan Polsek Parung pada 3-4 Februari 2021. Berawal dari laporan tersebut, Polres Bogor melaksanakan penyelidikan dan menemukan fakta bahwa sampah limbah medis tersebut berasal dari salah satu hotel, yang ditunjuk Pemerintah Kota Tangerang, sebagai pusat isolasi penanganan pasien Covid-19. “Limbah APD ini berasal dari Hotel PPH di Kota Tangerang, yang menjadi pusat isolasi Covid-19 Kota Tangerang,” katanya.

Berdasarkan pengakuan kedua pelaku WD dan IP, limbah tersebut memang sengaja dibuang di Kecamatan Tenjo dan Kecamatan Cigudeg. Kedua tempat tersebut dipilih, lantaran dinilai aman dan sepi sekaligus jauh dari pemukiman warga. Seharusnya, kata Harun, pihak hotel membuang limbah kepada PT AP, yang sudah bekerja sama dalam pembuangan limbah medis, dengan biaya Rp10 juta setiap kali pengambilan. Pengambilan pertama dilakukan sejak 21 Januari seberat 300 kilogram limbah medis, kemudian diolah oleh PT AP.

Pengambilan sampah kedua dilakukan 23 Januari dengan total sampah seberat 400 kilogram. Berdasarkan pengakuan tersangka, pihak hotel beralasan untuk menekan pengeluaran, maka dalam mengelola limbah medis, menyuruh tukang laundry untuk membuang limbah medis, tanpa sepengetahuan PT AP. ”Karena mahal, tanpa sepengetahuan PT AP, pihak hotel mengajak tukang laundry untuk menangani limbah medis tersebut. Dengan kontrak Rp1 juta untuk setiap kali angkut limbah medis. Kan bedanya lumayan. Kalau sama PT AP Rp10 juta, kalau sama pihak laundry hanya Rp1 juta. Bedanya kan jauh. Makanya kejadian lah hal ini (limbah dibuang di sawah),” tuturnya.

Berdasarkan keterangan kedua pelaku, mereka hanya bertugas sebagai driver laundry. Keduanya bersedia menjadi driver pembuang limbah medis tersebut lantaran diiming-imingi uang Rp1 juta untuk satu kali membuang limbah medis. Polres Bogor menjerat para tersangka dengan Pasal 40 ayat (1) UU 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda antara Rp100 juta hingga Rp5 miliar. Serta menjerat dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (UU PPLH) dalam Pasal 103, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat satu tahun dan paling lama 3 tahun dan denda Rp1 miliar hingga Rp 3 miliar.

Kepala Bagian Humas Pemkot Tangerang Buce Gartina menjelaskan, urusan pengelolaan limbah medis di hotel Pakons menjadi tanggungjawab manajemen hotel. Karena, pengelolaan limbah medis masuk dalam perjanjian kontrak. “Semua ada di kontrak.

Pemkot Tangerang memang menunjuk hotel Pakons menjadi tempat isolasi pasien Covid orang tanpa gejala (OTG). Segala limbah dan sampah, dalam kontrak memang pihak hotel yang menanganinya. Pemkot Tangerang mendukung Polres Bogor untuk mengusut tuntas kasus ini,” jelasnya. Nilai kontrak antara Pemkot Tangerang dengan PPH sebesar Rp 830 juta untuk 113 kamar. (rst)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here