Home TANGERANG HUB 150 Hektare Tanah Veteran Dicaplok Pengembang

150 Hektare Tanah Veteran Dicaplok Pengembang

0
SHARE
150 Hektare Tanah Veteran Dicaplok Pengembang
TINJAU: Pengurus dan ahli waris veteran perang kemerdekaan menunjukkan tanah miliknya yang dicaplok pengembang di Kampung Jaha, Desa Lengkong Kulon, Kecamatan Pagedangan, seluas 150 hektare, Kamis (25/2). FOTO: Veteran Perang for Tangerang Ekspres

PAGEDANGAN-Ahli waris veteran perang kemerdekaan 1945 di Kecamatan Pagedangan mengaku tanahnya dicaplok pengembang. Lokasinya di Kampung Jaha, Desa Lengkong Kulon, Pagedangan. Pencaplokan diketahui ketika akan mengurus sertifikat hak milik (SHM) di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang pada 2011.

Ahli waris tanah veteran Sri Ika yang juga pengurus Dewan Harian Veteran Perang mengatakan, orangtuanya kesulitan mengurus sertifikat tanah. Hal ini terjadi sejak 2000 hingga 2011. Ia mengungkapkan, pengurusan sertifikat dilanjutkan pada 2012 dan ditemukan sudah dimiliki pengembang. “Luas tanahnya ada 150 hektare dengan bukti kita punya girik. Kita urus untuk mendapatkan sertifikat, ternyata sudah ada yang menerbitkan sertifikat. Atas nama perusahaan pengembang perumahan,” katanya kepada Tangerang Ekspres saat dikonfirmasi, Kamis (25/2).

Sri menuturkan, petugas kantor pertanahan sudah menerima pengajuan sertifikat hak milik. Namun, pegawai kantor pertanahan melakukan pengukuran tanah, ada oknum sekuriti yang menghalangi. Ia mengatakan, sempat terjadi adu mulut dengan petugas keamanan tersebut. “Satpam ini dari perusahaan pengembang. Katanya tanah ini, sudah menjadi milik perusahaan. Kita menghindari keributan, akhirnya pengukuran tidak jadi. Sampai sekarang belum diukur. Kita berusaha dengan segala yang kita punya untuk memperjaungkan hak,” jelasnya.

Lanjutnya, dirinya bersama pengurus veteran enggan menempuh jalur hukum di pengadilan tata usaha negara untuk memperjuangkan kepemilikan tanah. Sebab, secara hukum tanah seluas 150 hektare sudah menjadi milik orangtuanya. Sri menceritakan, tanah seluas itu, didapat dari hasil pemberian Om King Seng. Ia menuturkan, hibah tersebut sebagai bentuk penghargaan atas jasa orang tuanya yang ikut berjuang melawan penjajah. “Jadi dulu pada 12 Juni 1945, orangtua kita diberikan tanah berikut girik. Itu hibah. Dari orang yang memang ingin memberikan penghargaan atas perjuangan orangtua sebagai pejuang. Sekarang giriknya pun masih ada. Kami terus akan menempuh langkah-langkah untuk memperjaungkan hak,” pungkasnya. (sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here