Home TANGERANG HUB 1 Tahun Covid Kota Tangsel, 700 Orang Dikubur Sesuai Prokes

1 Tahun Covid Kota Tangsel, 700 Orang Dikubur Sesuai Prokes

0
SHARE
1 Tahun Covid Kota Tangsel, 700 Orang Dikubur Sesuai Prokes
Petugas pengubur jenazah mengangkat peti jenazah dari dalam ambulans untuk dikubur di TPU Jombang, Kota Tangsel, menggunakan protokol Covid-19.

CIPUTAT-Pada 2 Maret 2020 pertama kali kasus pandemi Covid-19 menyerang Indonesia dan termasuk di Kota Tangsel. Saat itu, kasus Covid-19 pertama ditemukan pada warga Depok, Jawa Barat. Setelahnya, virus ganas itu menyebar ke hampir seluruh kota dan kabupaten se-Indonesia.

Sejak kasus pertama muncul, artinya sudah satu tahun pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Di Kota Tangsel sendiri, kasus Covid-19 pertama adalah warga Kecamatan Pondok Aren dan membuatnya meninggal pada 13 Maret 2020.

Sejak itulah, sejumlah orang meninggal dan dinyatakan positif Covid-19. Catatan Dinas Perkimta Kota Tangsel, sampai saat ini telah memakamkan lebih dari 700 jenazah sesuai protokol Covid-19. Jenazah tersebut dimakamkan di TPU Jombang, Ciputat
. Kepala Seksi Pemakaman pada Disperkimta Kota Tangsel Nazmudin mengatakan, sampai hari ini (kemarin) mencatat sekitar 700 jenazah yang dimakamkan menggunakan protokol Covid-19. Namun, itu pun bukan keseluruhan dari pasien positif Covid-19.

“Jumlah keseluruhan jenazah yang dimakamkan dengan protokol ini merupakan permintaan dari rumah sakit dan puskesmas,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Rabu (3/3).

Nazmudin menambahkan, Januari lalu paling banyak jenazah yang dimakamkan yakni 160. Sedangkan bulan sebelumnya dibawah jumlah tersebut. “Bulan Februari kemarin menurun lagi, yakni dibawah 100 jenazah yang dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19,” tambahnya.

Masih menurutnya, untuk tiga hari diawal Maret ini sudah ada 10 jenazah yang dimakamkan dengan protokol covid-19. “Kita berharap dan mari sama-sam belum doa agar pandemi Covid-19 segera berakhir dan tidak bertambah lagi korbannya,” jelasnya.

Dari jumlah tersebut ada keluarga dari beberapa jenazah yang komplain karena hasil swab testnya negatif dan makamnya minta dipindah. “Jadi ada beberapa jenazah yang di makamkan di TPU Jombang dengan protokol Covid-19 tapi, hasil swab tesnya baru keluar setelah dimakamkan dan keluarnya minta agar dipindahkan,” tambahnya.

Nazmudin menuturkan, keluarga bisa memindahkan makam namun harus menunggu setelah tiga tahun lagi. “Ini kita lakukan untuk menghindari penyakit yang bisa saja ditimbulkan dari jenazah,” tuturnya.

Menurutnya, selama ini tidak ada keluhan warga karena banyak yang dimakamkn dan warga surah terbiasa. Untuk biaya pemakaman semua ditanggung pemerintah, mulai dari ambulans, peti dan gali kubur. “Satu jenazah memerlukan sekitar Rp 2,5 juta,” jelasnya.

Sedangkan untuk lahan pemakaman, Nazmudin mengaku telah memperluas lahan disisi lain. “Luas lahannya mencapai 2000 meter dan bisa digunakan untuk memakamkan sekitar 1000 jenazah,” tutupnya.

Sementara itu, Pemkot Tangsel memutar otak mencari cara menjinakkan virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok itu. Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany, merasakan naik turun emosi dan berbagai ekspresi prihatin sampai kecemasan dalam memimpin sebuah kota di tengah pandemi.

Data korban meninggal yang setiap hari diterimanya tidak henti membuatnya mengelus dada. Ia juga beberapa kali mengganti kebijakan, mulai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dijalankan sudah belasan jilid.

“Luar biasa, karena ini situasi yang baru, tetapi kuncinya adalah bagaimana kita belajar dari yang terjadi sebelumnya. Jadi manakala kita mencoba sesuatu, apa kekurangannya, kekurangannya kita isi dan langsung kita perbaiki,” ujarnya.

Menurutnya, kesehatan menjadi panglima. Setidaknya kata itu tepat menggambarkan arah kebijakan Airin pada awal-awal pandemi melanda. Pembangunan Rumah Lawan Covid-19, penyediaan kamar khusus Covid-19 di RSU Tangsel, sampai pembagian masker ke warga dilakukan.

Namun, Covid-19 bukan perkara kesehatan saja, sektor ekonomi juga dihantam virus ganas itu. Dengan berbagai pembatasan kegiatan dan interaksi warga, sektor pariwisata dari mulai hotel dan restoran kehilangan pendapatan.

Imbasnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Sektor usaha lainnya termasuk ribuan pengusaha UMKM juga gulung tikar. Ibu dua anak ini pun membuat sejumlah pelonggaran pada kebijakan PSBB-nya agar ekonomi bisa kembali bergeliat.

“Pernah ramai kan, saya memilih ekonomi, orang pada protes. Padahal saya tahu persis, padahal kita enggak punya uang. PAD kita berkurang akibat dari pengetatan, jadi oleh karena itu saya mencari formulasi sehat. Orang yang sakit kita sembuhkan tapi, ekonomi harus tetap berjalan, masyarakat harus mandiri tidak bergantung pada bansos, PAD juga naik,” tambahnya. Saat ini, Airin mengikuti pemerintah pusat menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Kebijakan yang menurutnya bisa mengakomodir penanggulangan Covid-19 dari sektor kesehatan pun ekonomi.

“Ternyata PPKM menurut saya jauh lebih efektif dari pada PSBB, karena kita fokus di wilayah mana positif Covid-19 kita sembuhkan yang sakit langsung testing, tracing dan treatment (3T),” tutupnya. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here