Home TANGERANG HUB Gali Kuburan Tengah Malam, Makamkan 9 Jenazah

Gali Kuburan Tengah Malam, Makamkan 9 Jenazah

0
SHARE
Perjuangan Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 Gali Kuburan Tengah Malam, Makamkan 9 Jenazah
Petugas pemakaman jenazah Covid-19 mengangkat peti jenazah dari dalam mobil ambulans dibawa ke TPU Jombang untuk dikuburkan. Sejak pandemi Covid-19, para penggali kuburan bekerja siang malam menguburkan jenazah. FOTO: Miladi Ahmad/Tangerang Ekspres

CIPUTAT-Kuburan dianggap sebagai tempat paling menyeramkan dan menakutkan. Namun, di kuburan ini selama pandemi Covid-19 ada sejumlah orang yang bekerja keras sepanjang waktu. Siang malam. Mereka adalah petugas pemakaman jenazah Covid-19 atau tukang gali kuburan. Kapan pun mendapat perintah menggali, mereka laksanakan. Tak jarang lewat tengah malam, harus menggali lubang. Melawan rasa takut dan dinginnya udara kuburan.

Sejak Maret 2020, hingga Maret 2021 ini, para penggali kubur di Kota Tangsel tiada henti menggali lubang. Hampir setiap hari ada jenazah yang harus dimakamkan. Total sudah 707 jenazah dimakamkan dengan protokol Covid-19.

Di Kota Tangsel makam khusus jenazah Covid-19 di tempat pemakaman umum (TPU) Jombang, Ciputat. Sejak pandemi melanda Kota Tangsel, saban hari Aldi dan teman-temannya harus menyiapkan lubang makam bagi korban Covid-19 dengan protokol kesehatan yang ketat. Dalam sehari bisa menggali puluhan lubang. Pria 19 tahun ini mengatakan, bersama 9 rekannya terkadang harus bekerja dari malam hingga pagi subuh. Rasa takut juga dirasakan Aldi saat memakamkan jenazah pasien Covid-19. Namun, pekerjaan penggali kubur adalah tentang profesionalitas.

Ada atau tidak informasi dari Satgas tentang pasien Covid-19 yang meninggal, tetap menyiapkan lubang. “Kita menyiapkan paling empat lubang. Tapi kita pernah sampai belasan lubang, gara-gara yang meninggal banyak. Itu rekor yang pernah kita lakukan,” ujarnya kepada Tangerang Ekspres, Kamis (4/3). Namun, Aldi pernah sehari harus menggali lubang untuk 9 jenazah.

“Dulu malam hari juga sering makamin, karena setelah meninggal, jenazah empat jam kemudian harus sudah dimakamin. Itu aturan dari satgas,” ungkapnya. Aldi mengakui memiliki rasa takut terpapar dan membawa virus Corona ke keluarganya. Ketakutan terbesarnya, bukan terpapar dari jenazah. Namun, dari kerabat korban yang ikut di pemakaman.

Jenazah yang telah dibawa ke permakaman telah melewati protokol yang ketat. Jenazah dan peti terbungkus plastik. Namun, pengantar jenazah belum tentu aman dari virus tersebut. Dan selalu memakai peralatan untuk melindungi diri. Selain baju hazmat, mereka membekali diri dengan cairan pembersih tangan, sarung tangan, dan plastik steril. Usai memakamkan jenazah, baju hazmat disemprot menggunakan disinfektan.
“Saat tiba di rumah, sebelum berkumpul dengan keluarga, mandi,” tambahnya.

Aldi mengaku, petugas penggali makam di TPU Jombang ada 10 orang dan dibagi menjadi dua tim. Tiap lubang dikerjakan oleh satu tim atau lima orang. Menggali lubang membutuhkan waktu 2-3 jam. Namun, bila dibantu dengan mesin Beko, selesai dalam 15 menit saja.

Pemerintah juga memberikan perhatian khusus bagi mereka. Dengan besarnya risiko pekerjaan tersebut, mereka mendapat upah Rp 1 juta per lubang dan dibayar seminggu sekali.

“Selain insentif sih. Sebenarnya pengennya Covid-19 buru-buru selesai. Dan tolong yang pada nganter jenazah jaga jarak, pada pake masker, dan ikutin protokol kesehatan,” jelasnya.

“Kerjaan saya ya gali aja. Peti masuk lubang, lalu uruk. Covid-19 ini sih yang bikin kadang terharu, gak bayangin gitu kalau yang meninggal anggota keluarga saya sendiri. Dulu banyak banget jenazahnya, jadi ngerasa hari-hari lihat orang nangis mulu, kasihan,” ungkapnya.

Ia mengaku menjadi tukang gali kuburan sudah dijalani selama setahun tahun sejak TPU Jombang dijadikan makam khusus jenazah Covid-19. Saat ini jenazah Covid-19 yang dimakamkan sudah berkurang.

Ia mengaku, dahulu pernah mendapat upah menggali lubang lebih Rp 500 ribu per hari. Bila dilihat dari sisi ekonomi tentu senang. Tapi, karena pandemi Covid-19 membuatnya sedih saat melihat keluarga jenazah yang akan dimakamkan. “Pas nurunin peti gak tega lihat keluarganya. Pada nangis, ikut sedih,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemakaman Disperkimta Kota Tangsel Nazmudin mengatakan, dari Maret 2020 sampai 4 Maret 2021, Pukul 14.00 WIB sudah ada 707 jenazah yang dimakamkan dengan prokes Covid-19.

“Jadi dari Maret 2020 sampai Maret 2021 kita sudah memakamkan 707 jenazah di TPU Jombang dengn prokes. Di TPU dan TBPU lain ada sekitar 100 yang dimakamkan dengan prokes,” ujarnya.

Nazmudin menambahkan, mulai Februari lalu jenazah yang dimakamkan mulai turun dan maksimal per hari empat jenazah. “Februari di TPU Jombang 93 jenazah, Januari 48 jenazah yang dimakamkan,” tambahnya.

Sedangkan terkait lahan makam, Nazmudin menjelaskan lahan pemakaman masih luas dan bisa dibuat sekitar 1000 lubang lagi. “Total luas lahan TPU Jombang ini 2,4 hektare,” jelasnya.

Petugas pemakaman jenazah di TPU Buni Ayu, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang juga berjibaku menantang maut. Meski hujan lebat di malam hari, harus tetap menguburkan jenazah Covid-19. Walaupun honor untuk sekali memakamkan berkisar di angka Rp600 ribu untuk empat orang. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi mereka menguburkan jenazah.

Bunyi sirine mobil jenazah dari kejahuan, menjadi pertanda sebentar lagi sampai di lokasi TPU Buni Ayu di Kecamatan Sukamulya. “Ayo pakai baju hazmatnya. Sebentar lagi datang,” kata salah satu petugas pemakaman mengingatkan kawannya, Jumat malam pukul 21.00 WIB. Cuaca kala itu masih gerimis, sehabis hujan lebat. Tanah merah di pemakaman becek dan banyak genangan. Mobil jenazah diiringi satu unit mobil keluarga almarhum tiba. Namun, hanya tiga orang perwakilan keluarga yang diperbolehkan mengikuti proses pemakaman.

Di liang lahat, dua orang petugas makam dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap menguras air. “Akibat hujan tadi jadi banyak air. Kita kuras dahulu,” kata salah seorang petugas menjelaskan. Memang beban kerja bertambah saat memakamkan jenazah di kala musim penghujan.

“Dukanya ketika memakamkan jenazah di tengah malam dan kondisi hujan. Tetapi ini sudah menjadi tugas dan harus dijalankan,” kata Aon Suryanto perwakilan tim penguburan di TPU Buni Ayu kepada Tangerang Ekspres, ketika diwawancarai usai memakamkan jenazah, Jumat malam (5/3).

Aon mengaku pernah satu hari menguburkan tujuh jenazah korban Covid-19. Mulai dari pukul 09.00 dan selesai memakamkan pada 03.00 WIB dini hari. Malam itu hujan deras disertai petir. “Kondisi apa pun sudah menjadi bagian dari tugas sebagai petugas makam,” katanya.

Diketahui, Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan tempat pemakaman umum (TPU) Buni Ayu untuk menguburkan korban virus Covid-19. Lokasinya di Desa Buni Ayu, Kecamatan Sukamulya. Jarak ke pemukiman warga sejauh satu kilometer.

Luasnya secara keseluruhan 40 hektare. Di mana 3.000 meter persegi disiapkan untuk memakamkan korban jiwa virus Corona. Sekarang luasan pemakaman khusus korban Corona diperluas sebanyak 7.000 meter persegi.

Sementara, Kepala Dinas Perumahan Permukiman dan Pemakaman Kabupaten Tangerang Iwan Firmansah mengatakan, petugas pemakaman diberikan suplemen dan vitamin serta makanan yang cukup bergizi untuk memperkuat imun tubuh. Hal tersebut diberikan pemerintah diluar honor memakamkan jenazah pasien Covid-19.

Iwan menuturkan, pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) dijalankan baik saat pemakaman maupun ketika petugas hendak pulang ke rumah. Protap tersebut dilaksanakan sesuai dengan panduan prokes dari dinas kesehatan.

“Tidak hanya itu, petugas pemakaman Covid-19 juga sudah disuntik vaksin tahap pertama dan selanjutnya tinggal tahap kedua. Hal ini supaya imun petugas pemakaman tetap terjaga dan terhindar dari penularan virus Corona,” pungkasnya. (bud/sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here