Home NASIONAL Ketua MUI Jatim hingga Pelatih Sepakbola Disuntik AstraZeneca

Ketua MUI Jatim hingga Pelatih Sepakbola Disuntik AstraZeneca

0
SHARE
Ketua MUI Jatim hingga Pelatih Sepakbola Disuntik AstraZeneca
Presiden Jokowi (kiri) menghampiri asisten pelatih Persebaya Uston Nawawi yang sedang menunggu disuntik vaksin AstraZeneca di Sidoarjo, kemarin.

Sementara itu, dukungan terhadap penggunaan Vaksin AstraZeneca terus mengalir. Setelah MUI dan Kemenag, Kemarin (22/3) giliran sejumlah tokoh agama di Jawa Timur menyatakan kesiapannya untuk menerima suntikan vaksin yang diragukan kehalalannya tersebut.

Selain para tokoh agama, pernyataan kesiapan juga disampaikan oleh beberapa pimpinan Pondok Pesantren, di Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pernyataannya di sela-sela acara vaksinasi massal di Pendopo Delta Wibawa, Kabupaten Sidoarjo kemarin (22/1).

“Tadi pagi saya sudah bertemu dengan MUI Jawa Timur dan para kiai di Provinsi Jawa Timur mengenai vaksin AstraZeneca. Beliau-beliau tadi menyampaikan bahwa Jawa Timur siap diberi vaksin AstraZeneca dan segera akan digunakan di pondok-pondok pesantren yang ada di Jawa Timur,” paparnya.

Jokowi sangat mengapresiasi hal itu dan segera akan menginstruksikan Menteri Kesehatan untuk mendistribusikan vaksin AstraZeneca ke Jawa Timur dan provinsi-provinsi lain yang membutuhkan. Dalam kesempatan tersebut, Presiden turut menyaksikan pemberian dosis vaksin AstraZeneca kepada Ketua Majelis Ulama Jawa Timur K.H. Hasan Mutawakkil Alallah. Vaksin yang sama juga diberikan kepada di antaranya K.H. Ahmad Rofiq Siraj hingga asisten pelatih Persebaya Uston Nawawi. Vaksinasi massal ini melibatkan sebanyak kurang lebih 150 peserta yang berasal dari kalangan pekerja publik, tokoh agama, hingga para atlet.

Di saat bersamaan, beberapa lokasi lain di Kabupaten Sidoarjo juga akan menggelar vaksinasi massal serupa. Jokowi juga memantau dan memberikan arahan mengenai jalannya proses vaksinasi di beberapa lokasi tersebut melalui konferensi video untuk memastikan kesiapan Kabupaten Sidoarjo, rumah sakit, serta fasilitas puskesmas dalam menyukseskan kebijakan vaksinasi massal ini.

“Saya juga ingin memastikan kesiapan baik dari kabupaten, rumah sakit, puskesmas yang ada sehingga kita harapkan ke depan vaksinasi nasional ini semuanya berjalan dengan baik dan lancar,” ucapnya.

Berdasarkan data Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), hingga 21 Maret, sekitar 9.397 tenaga kesehatan di Kabupaten Sidoarjo telah menerima dua dosis vaksin Covid-19. Sementara sebanyak 19.482 pekerja atau pelayan publik telah menerima dosis kedua vaksin dari keseluruhan 31.902 peserta yang telah menerima suntikan dosis pertama. Ketua MUI Provinsi Jawa Timur, Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah, menegaskan bahwa vaksin AstraZeneca tersebut halal dan tayyib. “Vaksin AstraZeneca ini hukumnya halalan dan tayyiban dan memang seharusnya untuk dimanfaatkan program vaksinasi pemerintah,” ujarnya.

Mantan Ketua PWNU Jatim tersebut juga berpendapat bahwa vaksini ini mendapatkan respons yang baik dari para kiai serta para pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur. Ia mengatakan vaksinasi massal yang diadakan oleh pemerintah tersebut memang bertujuan untuk menjaga jiwa dan keselamatan rakyat dari pandemi Covid-19 yang tidak hanya melanda Indonesia, tapi juga sebagian besar negara-negara di dunia. “Tidak ada pemerintah yang akan mencelakakan rakyatnya sendiri,” imbuh Hasan.

Ia juga menyampaikan permohonan agar para santri, ustaz, ustazah, dan tokoh-tokoh keagamaan lainnya juga segera dapat memperoleh dosis vaksin tersebut.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden apabila para santri juga para ustaz dan ustazah, hafiz dan hafizah, akan segera diberikan vaksin AstraZeneca ini. Kami bersyukur mudah-mudahan nanti dapat ditiru oleh komponen masyarakat lain,” tandasnya.

Wapres Ma’ruf Amin meminta masyarakat tidak mempersoalkan haram-halal vaksin Covid-19 AstraZeneca. Sebab MUI dalam fatwanya membolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Untuk mempercepat terciptanya herd immunity perlu peningkatan vaksinasi di masyarakat.

Keterangan tersebut disampaikan Ma’ruf saat kunjungan kerja ke Provinsi Lampung kemarin (22/3). Untuk diketahui kunjungan itu merupakan kali pertama lawatan Ma’ruf keluar pulau Jawa sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia setahun terakhir.

’’Kalau masalah halal tidak halal (vaksin AstraZeneca, Red), saya kira yang sekarang dipersoalkan itu seharusnya pada boleh atau tidak boleh. Bukan pada halal atau tidak halal,’’ terangnya.

Mantan Ketua MUI itu menjelaskan pada produk yang tidak halal sekalipun MUI bilang boleh digunakan. Untuk itu Ma’ruf mengatakan status tidak halal vaksin AstraZeneca baginya bukan sebuah persoalan.

Dia mengatakan semua pihak saat ini harus mendukung program vaksinasi Covid-19 yang digulirkan pemerintah. Vaksinasi itu untuk menciptakan herd immunity guna melindungi masyarakat dari potensi tertularnya Covid-19. Menurut Ma’ruf kesuksesan program vaksinasi sampai tercipta kekebalan kelompok itu perlu cakupan vaksinasi yang tinggi. Pemerintah terus berupaya keras mempercepat program pemberian vaksin Covid-19 ke masyarakat.

’’Kita berharap bahwa vaksinasi ini yang sekarang 8.000 per hari, kita harapkan bisa supaya terus ditingkatkan,’’ katanya. Apalagi jangka waktu vaksinasi yang ditetapkan pemerintah berjalan sekitar setahun ke depan.

Untuk menjalankan program vaksinasi itu, pemerintah saat ini menyiapkan vaksin Covid-19 dari Sinovac dan AstraZeneca. Kepada masyarakat yang sudah disuntik vaksin Covid-19, Ma’ruf mengingatkan supaya tetap menjalankan protokol kesehatan. Di tengah program vaksinasi Covid-19 itu, pemerintah juga tetap menjalankan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro di sejumlah daerah.(jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here