Home NASIONAL Terduga Teroris di Condet Siapkan 100 Bom

Terduga Teroris di Condet Siapkan 100 Bom

77
0
SHARE

JAKARTA-Penangkapan terduga teroris setelah bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3) masih berlanjut. Kemarin (30/3) Densus 88 Antiteror kembali mengamankan tiga orang yang diduga berkaitan dengan aksi teror tersebut.
Dengan demikian, densus telah menangkap tujuh terduga teroris di Makassar.

Sebelumnya, pada Senin (29/3), petugas mengamankan empat orang, yaitu AS, SAS, MR, dan AA, yang satu kelompok dengan pelaku bom bunuh diri, L dan YSF (sebelumnya disebut YSM).

Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadhan menjelaskan, tiga terduga teroris yang ditangkap kemarin adalah MM, M, dan MAN. Ketiganya perempuan. Perannya berbeda-beda dalam aksi teror di Gereja Katedral. ’’Semua inisialnya M ya. Yang terakhir saya bikin MAN,’’ terangnya.

MM, kata dia, berperan memotivasi dua pelaku bom bunuh diri, L dan YSF. Motivasi itu tidak lain untuk melakukan amaliyah. ’’Karena itu, MM tahu persis bagaimana rencana aksi tersebut,’’ ujarnya.

MM ternyata juga dimotivasi SAS untuk bisa menjadi pelaku aksi teror. SAS merupakan terduga teroris yang ditangkap pada gelombang pertama setelah aksi bom bunuh diri. ’’Memotivasi sekaligus disiapkan melakukan aksi,’’ kata Ahmad.

Selanjutnya, M merupakan kakak ipar SAS. M tahu persis bahwa SAS mengikuti kajian di Villa Mutiara. ’’Yang inisial MAN bahkan mengetahui keberangkatan L dan YSF menuju Gereja Katedral. Dia juga tahu SAS ikut kajian di Villa Mutiara,’’ paparnya.

Peran empat terduga teroris yang ditangkap lebih dulu juga dijelaskan. Yakni, SAS, S alias AS alias Eka, R alias MR, dan Andre alias AN alias AA. SAS mengetahui perencanaan aksi teror L dan YSF. Dia juga mengikuti kajian di Villa Mutiara. ’’Ikut juga baiat ke ISIS yang dipimpin Basri, terduga teroris yang ditangkap Januari lalu,’’ jelasnya.

S alias Eka ikut bersama pelaku bom bunuh diri dalam merencanakan aksi teror. R merupakan surveyor lokasi aksi. Ahmad, R, bersama L dan YSF menyurvei Gereja Katedral Makassar. ’’Terakhir, Andre mengikuti kajian dan baiat ke Abu Bakar Al Baghdadi,’’ imbuhnya.

Untuk penangkapan empat terduga teroris di Jakarta dan Bekasi, Polri masih melakukan pendalaman. Hingga ini, belum ada benang merah antara kelompok di Jakarta dengan Makassar. ’’Masih didalami hubungannya,’’ tutur Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Yusri Yunus.

Sementara itu, perkembangan untuk penangkapan empat terduga teroris di Condet, Jakarta, dan Bekasi mulai diketahui. ZA yang ditangkap di Bekasi berperan membuat dan merakit bom. ’’Ditemukan lima bom aktif yang dinamai bom botol,’’ ungkapnya.

Bom tersebut menggunakan TATP yang dipastikan berdaya ledak high explosive. Selanjutnya, ditemukan 1,5 kg TATP. Padahal, satu bom botol membutuhkan 100–200 gram. ’’Bisa dihitung sendiri nanti bisa jadi berapa bom,’’ katanya. Menurut Yusri, di rumah ZA juga ditemukan bahan TATP lainnya.

Dari penangkapan itu, tim mengembangkan ke HH yang juga ditangkap di Condet. Dia memiliki usaha jual beli mobil. HH berperan sebagai penyedia dana, motivator, dan fasilitator pembuatan bom. Yusri menyebutkan, di rumah HH ditemukan 2 kg TATP. Bahan peledak itu telah diledakkan oleh tim gegana.

Bom juga dirakit di rumah HH. Karena itu, ditemukan bom lain yang dibuat dari pipa. Di dalamnya terdapat paku dan gotri.

Yusri mengungkapkan, selain bom botol dan bom pipa, ada bom kecil yang dinamai takjil. Lalu, ditemukan bom panci. ’’Kalau diprediksi dari bahan peledaknya, kemungkinan mereka menyiapkan sampai 100 bom,’’ terangnya di kantor Divhumas Polri kemarin.

Dua terduga teroris lainnya, AJ dan BS, berperan membantu ZA dalam merakit bom. Yusri mengatakan, ditemukan kartu anggota dan kaus sebuah ormas yang telah dilarang pemerintah beberapa waktu lalu. ’’Namun, kami masih menyelidiki hubungannya,’’ paparnya.

Di sisi lain, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, pintu masuk dari ideologi radikal yang membuahkan aksi terorisme adalah ajaran Salafi-Wahabi. Menurut Said, jika benar-benar ingin secara serentak dan komitmen seragam, menghabisi jaringan terorisme adalah dengan menghabisi benihnya. ’’Pintu masuknya yang harus kita habisi. Apa itu? Wahabi,’’ ujarnya kemarin.

Ajaran Wahabi, kata Said, adalah pintu masuk terorisme. Meski Wahabi sendiri bukan termasuk organisasi terorisme. ’’Tapi, kalau sudah Wahabi, ini musyrik, ini bid’ah, ini nggak boleh, sesat, ini dolal, kafir. Itu selangkah lagi sudah (menyatakan orang lain, Red) halal darahnya dan boleh dibunuh,’’ jelasnya.

Said mendorong untuk melakukan perubahan terhadap kelas ajaran agama yang disampaikan di perguruan-perguruan tinggi nonagama alias kampus-kampus umum. Dalam 14 kali pertemuan pelajaran agama itu, kata Said, jangan semuanya diisi akidah-syariah. Sebab, masih ada bidang ajaran agama yang tak kalah penting, yaitu akhlak. ’’Akidah syariah cukup empat kali pertemuan. Ajarkan rukun iman dan rukun Islam udah cukup, nggak usah diulang-ulang,’’ ujarnya.

Said melanjutkan, kajian soal akidah dan syariah sebaiknya hanya dilakukan mendalam di fakultas ushuluddin. Sementara itu, kajian soal tafsir, hadis, dan fikih sebaiknya dilakukan di fakultas syariah.

Setelah 4 pertemuan membahas akidah dan syariah, 10 pertemuan sebaiknya diisi dengan pelajaran soal akhlakul karimah. Misalnya, menghormati orang tua (birrul walidain), tolong-menolong (ta’awun), silaturahmi, membantu orang susah, menghormati tamu dan tetangga, menengok orang sakit dan meninggal, serta mendoakan orang lain.
(jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here