Home TANGERANG HUB Dugaan Salah Cetak Tanggal Kedaluwarsa, Polisi Diminta Turun Tangan

Dugaan Salah Cetak Tanggal Kedaluwarsa, Polisi Diminta Turun Tangan

0
SHARE
Dugaan Salah Cetak Tanggal Kedaluwarsa, Polisi Diminta Turun Tangan
SALAH CETAK: Permen yang digemari anak-anak ditemukan salah tanggal cetak kedaluwarsa di Desa Talaga, Kecamatan Cikupa, kemarin. FOTO: LBH for Tangerang Ekspres

TIGARAKSA –Kasus dugaan salah cetak tanggal kedaluwarsa pada permen di Desa Talaga, Kecamatan Cikupa dinilai adanya kejanggalan. Hal ini diungkapkan, Pengamat Kebijakan Pemerintah Universitas Islam Syekh Yusuf Tangerang Adib Miftahudin mengatakan, perlunya penyelidikan lebih mendalam.

“Tidak masuk akal kalau sekelas pabrik salah mencetak tanggal kedaluwarsa produknya. Karena itu, perlunya penyelidikan oleh kepolisian. Di mana, permen merupakan makanan yang juga dikonsumsi anak-anak,” paparnya kepada Tangerang Ekspres, Selasa (6/4).

Adib mendesak adanya keseriusan pemerintah dalam mengungkap kasus salah cetak tanggal kedaluwarsa pada permen anak dengan merek perusahaan ternama itu. Menurutnya, sikap lambat pemerintah bertentangan dengan program anak sehat yang juga digulirkan negara.

“Yang jadi perhatian ini tanggal kedaluwarsa yang baru lebih panjang. Saya kira secara logika nalar (orang awam -red) tidak ketemu. Polisi harus bekerja serius bukan masalah apa-apanya tetapi permen yang dikonsumsi anak. Generasi masa depan perlu diselamatkan dari makanan yang tidak sehat, tidak sesuai standar,” paparnya.

Mendesak keseriusan pemerintah daerah dalam kasus salah cetak tanggal kedaluwarsa. Sebab, guna menyingkap benar atau tidaknya dugaan unsur kesengajaan. “Harus ada penyelidikan lebih dalam. Perlu dipertanyakan alasan salah cetak tanggal kedaluwarsa permen,” tegasnya.

Sementara, Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yayasan Kepedulian Anak Bangsa Heri Rusmianto menuding, badan pengawas obat dan makanan menutupi kesalahan produsen. Sebab, saat hearing perwakilan badan pengawas tidak membawa data dalam berargumen.

“Loka POM mengaku sudah memberikan sanksi tetapi tidak membawa surat sanksi. Tidak membawa dokumen hasil laboratorium. Hanya beralasan perusahaan kelebihan cetak kemasan permen. Jadi kami kira sikap pengawas menutupi perusahaan,” tegasnya.

Heri mengungkapkan, bentuk fisik permen sudah lembek dan pada bungkusnya ada dua tanggal kedaluwarsa. Ia mendesak adanya uji laboratorium terhadap permen yang dicurigai telah kedaluwarsa. “Masih tertutup rapat sampai hari ini. Tidak ada yang membuka bungkusnya. Pada kemasan yang ditutupi tanggal kedaluwarsa tercantum 20 April 2020 dan yang dicetak baru tertulis 8 Oktober 2021. Jelas ini sudah lama,” paparnya.

“Kedua, kami kecewa dengan kinerja dinas perindustrian dan perdagangan. Di mana kami membuat laporan pada Desember tahun lalu tetapi tidak ditindak lanjuti. Jadi wajar kami mengadukan kepada wakil rakyat. Kami perlu usut tuntas kasus ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Organisasi Swadaya dari Yayasan Kepedulian Anak Bangsa mengadukan adanya dugaan jajanan bagi anak berupa permen sudah kadaluarsa namun tetap beredar di pasaran. Hal itu diadukan saat hearing dengan Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang dan Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Tangerang pada Senin (5/4).

Menanggapi hal ini, Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Tangerang Deden Umardani adanya surat aduan dari Yayasan Kepedulian Anak Bangsa menjadi dasar legislatif mendudukan semua pihak terkait. Ia menuturkan, dari aduan warga dipaparkan beredar makanan anak yang sudah kadaluarsa dan ditemukan di warung di Desa Talaga, Kecamatan Cikupa.

Lanjutnya, berdasarkan hasil audensi ada penjelasan dari Loka POM bahwa aduan tersebut sudah ditangani sebelum adanya laporan dari warga. “Sebelumnya juga sudah ada laporan ke BPOM Serang sehingga Loka POM Kabupaten Tangerang sudah melakukan sidak sebelum laporan dari yayasan disampaikan,” katanya, Senin (5/4).

Lanjut Deden, hasil dari audiensi didapat bahwa benar adanya ditemukan makanan berupa jajanan anak dengan kemasan masa kadaluarsanya ditutup kembali oleh kemasan yang tercetak masa kadaluarsa baru.

“Berdasarkan sidaknya loka POM Tangerang itu memang benar dengan adanya penutupan label masa kadaluarsa itu dengan membuat masa kadaluarsa baru.  Dan itu memang kesalahan dari percetakan kemasan makanan tetapi isinya ternyata tidak kadaluarsa. Tetapi kita akan melakukan pengecekan lagi dari hasil sidaknya begitu juga hasil laboratorium. Apakah memang benar atau tidak isi makanan itu tidak kadaluarsa,” paparnya.

Deden menegaskan, ada kelalayan dari perusahaan yang meproduksi makanan dengan menutupi label masa kadaluarsa. Sehingga, menimbulkan keresahan masyarakat terutama pemilik warung yang menjual permen.

“Karena pemilik warung pun itu mengetahui bahwa produk yg dijualnya sudah kadaluarsa itu dari masyarakat. Pada akhirnya pemilik warung itu tidak dipercaya oleh para pembeli atau masyarakat, jadi seolah-olah menjual produk yang tidak layak,” paparnya.

Deden meminta, perusahaan dan Loka POM Tangerang segera mengeluarkan surat klarifikasi kepada semua warung yang menjual produk tersebut dengan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Ia menegaskan, legislatif akan memastikan betul apa tidaknya bahwa produk yang dihasilkan perusahaan itu tidak kadaluarsa.

“Selanjutnya betul apa tidak semua produk itu sudah semua terdaftar ke BPOM. Jangan-jangan hanya sebagian saja yg terdaftar. Intinya kita akan menggali fakta dilapangan nanti sesuai dari pengakuan dari Loka POM dan perusahaan yang mengakui ada kesalahan di percetakanya saja tidak dengan makananya,” jelasnya.

Sementara, Kepala Loka POM Kabupaten Tangerang Wydia Savitri mengatakan, dugaan adanya kadaluarsa pada jajanan anak telah diinvestigasi dan audit secara komprehensif. Ia menegaskan, tidak benar adanya produk kadaluarsa pada jajan anak yang beredar di pasaran.

“Tidak benar bahwa produk kadaluarsa. Namun memang ada kesalahan dalam pencantuman tanggal kadaluarsa pada kemasan yang tidak sesuai pesanan. Sehingga pihak produsen dan suplier kemasan sepakat menutup tangg kadaluarsa yang salah dengan yang benar sesuai tanggal produksi produk,” paparnya.

Wydia menegaskan, atas kelalaian pencetakan tanggal kadaluarsa pada kemasan sudah diberikan sanksi. Ia meminta, produk yang diproduksi agar ditarik dari pasaran.

“Sudah kami berikan sanksi sesuai ketentuan dan telah diminta untuk menarik produk dengan kemasan (salah cetak -red) dari peredaran agar tidak meresahkan dan merugikan masyarakat maupun pedagang.  Produk juga sudah diuji dan telah memenuhi syarat. Jadi tidak ada yang kadaluarsa,” pungkasnya. (sep/din)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here