Home TANGERANG HUB Abah Uci di Mata Ketua NU Kabupaten Tangerang: ‘Disiplin, Humoris dan Penuh...

Abah Uci di Mata Ketua NU Kabupaten Tangerang: ‘Disiplin, Humoris dan Penuh Semangat’

0
SHARE
Abah Uci di Mata Ketua NU Kabupaten Tangerang: 'Disiplin, Humoris dan Penuh Semangat'
Karangan bunga duka cita atas wafatnya Abuya KH Uci Turtusi dari Wakil Presiden, kepala daerah hingga politisi berderet di depan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Istiqlaliyyah di Kampung Cilongok, Desa Sukamantri, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.

TIGARAKSA – Warga Nahdiyin sebutan bagi penganut Nahdlatul Ulama (NU) kehilangan sosok ulama penuh semangat dan karismatik KH. Abuya Uci Thurtusi. Khususnya warga NU di Kabupaten Tangerang. Diketahui, Abah Uci merupakan guru besar di Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah, Kampung Cilongok, Desa Cilongok, Kecamatan Pasar kemis. Ulama besar tersebut meninggal pada Selasa (6/4) usai melaksanakan Salat Subuh.
Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Tangerang Kiai Encep Subandi mengatakan, kehilangan sosok ulama karismatik dan penuh semangat.

Ia menuturkan, sosok Abah Uci merupakan pendakwah sekaligus pengayom umat. “Kalau diundang ceramah oleh umat (di luar warga ponpes -red) di akhir ceramah selalu bilang. ‘Jangan undang saya lagi ke sini, karena kasihan, kalau mau (mengaji -red) datang ke ponpes ikut di sana’. Namun karena beliau punya karomah tetap saja umat banyak yang mengundang,” katanya kepada Tangerang Ekspres saat diwawancara, Kamis (8/4).

Sebelum mendengar kabar Abah Uci meninggal, ia sempat bertemu di Ponpes Cilongok dan diberikan nasihat. “Hendak mengundang ke acara haul di ponpes kami. Beliau menasihati agar tidak usah ada acara-acara karena pandemi. Kecuali buat warga pondok dan kerabat,” paparnya.

Kiai Encep mengungkapkan, kenal dengan sosok Abuya Uci ketika menjadi santri di salah satu Pondok Pesantren Salafi di Sukabumi. Di mana, ia merupakan adik angkatan almarhum. Hal ini yang membuat dirinya memiliki kedekatan tersendiri.

“Kalau sudah mengobrol itu bukan seperti santri kepada gurunya. Beda obrolannya. Pernah berbincang-bincang dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB,” jelasnya.
Lanjutnya, karakter semangat, disiplin, humoris dan pengayom santri maupun warga ponpes perlu menjadi panutan bagi ustaz atau ulama muda.

Menurutnya, jarang ditemukan ulama dan pendakwah yang disiplin mengurus santri dan warga ponpes. Ia sudah tiga kali mengajak Abah Uci untuk ikut bergabung ke dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Namun selalu berujung penolakan. “Beliau memilih berjuang dari luar struktural organisasi. Inginnya beliau tetap bersama warga ponpes dan santri,” jelasnya.

Ia menirukan jawaban Abah Uci. “Kita berjuang bersama-sama. Kamu dari organisasi, saya di luar. Saya doakan dan dukung perjuangan kamu,” kata Encep menirukan jawaban Abah Uci. “Semoga perjuangan dan jejak langkah almarhum diikuti dan diteruskan oleh anak-anaknya, keluarga dan santri-santri beliau. Kami warga Kabupaten Tangerang tentu berduka dan kehilangan sosok ulama karismatik dan pengayom umat,” pungkasnya. (sep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here