Home NASIONAL Wawancara dengan Jozeph Paul Zhang di Jerman, ‘Mengapa Harus Sakit Hati?’

Wawancara dengan Jozeph Paul Zhang di Jerman, ‘Mengapa Harus Sakit Hati?’

0
SHARE
Wawancara dengan Jozeph Paul Zhang di Jerman 'Mengapa Harus Sakit Hati?
Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoelyono telah ditetapkan sebagai tersangka.

Jozeph Paul Zhang alias Shindy Paul Soerjomoelyono telah ditetapkan jadi tersangka. Ia diduga melakukan ujaran kebencian melalui video di YouTube. Selain itu, Jozeph melontarkan sejumlah kalimat yang bersifat penodaan agama. Pernyataan Jozeph memantik kemarahan warganet dan sejumlah tokoh Islam.

Wartawan Jawa Pos Dinarsa Kurniawan yang berada di Berlin, Jerman, berhasil mewawancarai Jozeph Paul Zhang secara eksklusif melalui Zoom yang juga disiarkan langsung di kanal YouTube Hagios Europe. Hingga saat ini keberadaan Jozeph belum diketahui. Bareskrim Polri bekerjasama dengan Interpol, sedang memburu Jozeph. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak ”terkenal”, Bapak merasa takut tidak?

Nggak tahu, Pak. Saya malah nggak tahu yang saya rasakan. Saya jalani hidup seperti biasa.

Apa betul sudah menanggalkan status WNI?

Di Eropa ini, ada berbagai cara untuk menempuh prosedur supaya legal. Dan, saya legal di sini.

WN Jerman atau stateless?

Nggak dong, saya nggak stateless dong. Itu distop dulu, Pak, karena itu nggak boleh. Itu biar dari lawyer.

Apa tujuan yang mau dicapai?

Agar semua rakyat minoritas, terutama dobel minoritas, bisa hidup layak dan beribadah tanpa rasa takut. Hak dan kewajiban sejajar setara. Sama dengan di Eropa, saya Tionghoa tidak dianggap minoritas, muslim pun tidak dianggap minoritas. Bukankah itu Pancasila yang sejati?

Bapak merasa nggak bahwa ini (pernyataan) Bapak menyakiti pihak lain?

Mengapa harus sakit hati? Kita itu boleh menyuarakan yang kita anggap benar. Yang kita nggak boleh adalah kita bunuh orang atau kita bacok orang atau kita ancam orang.

Bapak mengaku Pancasilais, tapi kenapa melepaskan status WNI kalau Pancasilais?

Kalau nggak melepaskan, saya ditangkep dong, dipulangin. Itu namanya berkhidmat. Saya harus korbankan nggak ketemu keluarga. Pak, kalau orang tua saya mati sekarang, saya nggak boleh pulang. Eropa lebih Pancasila daripada Indonesia. Iya kan?

Maksud Bapak seperti apa?

Ketuhanan Yang Maha Esa, apa di Eropa dengar persekusi agama di sini? Justru orang-orang yang dipersekusi agama larinya ke sini, orang-orang dari Timur Tengah, muslim-muslim. Apa semua dilakukan dengan anarkistis? Tidak ada. Satu-dua oknum itu dikit sekali. Masjid Ahmadiyah gede tuh, sementara masjidnya orang Syiah juga gede, di Indonesia weh dibakar seorang-orangnya Pak. Itu fakta. Jadi, lebih Pancasila mana? Lebih Pancasila Eropa daripada Indonesia.

Bapak kan menantang Menag Gus Yaqut untuk debat. Kalau ada orang lain yang menjawab tantangan Anda, bagaimana?

Saat ini yang menghendaki saya paling top adalah menteri agama. Jadi, yang saya tantang adalah menteri agama. Yang ikut bicara untuk tangkap saya adalah Ketua PBNU Pak Robikin (Emhas) dan Ketua MUI Pak Anwar Abbas juga saya tantang berdebat tentang kebenaran agama secara universal. Yang lainnya, maaf tidak akan berdampak dan tidak berguna karena tidak merepresentasikan agama mayoritas di Indonesia. (*/c14/ttg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here