Home NASIONAL Stasiun KA Dipadati Pemudik

Stasiun KA Dipadati Pemudik

0
SHARE
Petugas memeriksa kelengkapan dokumen calon penumpang kereta api di stasiun Senen, Jakarta Pusat.

JAKARTA-Seruan pemerintah jelas, dilarang mudik. Namun, masih banyak yang tetap nekat demi bisa berlebaran di kampung halaman. Mereka memanfaatkan waktu sebelum masa larangan mudik pada 6-17 Mei diberlakukan.

Di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, kemarin (2/5) misalnya. Tampak puluhan penumpang ramai memadati area tunggu. Antrean panjang bahkan terlihat di area pemeriksaan kesehatan.

Penumpang tersebut rata-rata bertiket Jawa Tengah dan Jawa Timur. Maratus Sholihah, 51, salah satunya. Ia beserta lima anggota keluarganya berencana pulang ke Lamongan, Jawa Timur. Layaknya tradisi mudik, Sholihah tampak membawa banyak barang bawaan. Mulai dari tas ransel besar, koper, hingga kardus bekas mie instan. ”Baju sama oleh-oleh,” ungkapnya sambil memegang barang bawaannya.

Sebagai perantau, ia mengaku sudah sangat rindu dengan kedua orang tuanya di kampung halaman. Pasalnya, lebih dari satu tahun ia tak pulang. ”Makanya tahun ini nekat pulang aja. Bismillah. Mumpung belum ditutup (aksesnya, red),” tuturnya. Diakuinya, kepulangannya kali ini tak seperti biasanya. Ia harus pulang lebih awal dibanding lebaran dua tahun lalu. ”Biasanya lima hari sebelum Lebaran baru pulang,” katanya.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Kepala Humas PT KAI DAOP 1 Jakarta Eva Chairunisa mengungkapkan, sejuah ini tak ada kenaikan berarti untuk penumpang kereta api (KA). Pasalnya, jumlah KA yang dioperasikan pun sama seperti minggu-minggu sebelumnya. ”Hari ini 20 KA di Senen, 17 dari Gambir. Kemarin juga sama,” jelasnya.

Rata-rata jumlah penumpang pun tidak jauh. Kemarin, jumlah penumpang sekitar 6.500. sementara sehari sebelumnya, 6.800 penumpang. ”Tapi ini kan masih dinamis, pemesanan masih dibuka. Namun tidak akan jauh dari itu,” ungkap Eva.

Disinggung soal operasional pada tanggal pelarangan mudik, Eva mengaku bakal taat dengan aturan pemerintah. Meski nantinya tetap ada sejumlah KA yang dioperasikan.
Kalaupun ada yang diberangkatkan, dia memastikan bahwa KA tidak akan digunakan untuk mudik. Tapi hanya untuk kebutuhan khusus. Itu pun, pemeriksaan kelengkapan berkas akan betul-betul dicek oleh petugas. ”Nanti akan dilihat pola operasinya seperti apa, ini masih dibahas bersama,” katanya. VP Public Relations PT KAI Joni Martinus mengamini. Secara umum dapat kami sampaikan bahwa Sejauh ini tidak ada lonjakan penumpang pada angkutan kereta api.

Penjualan tiket keberangkatan KA jarak jauh pada periode mulai Jumat (30/4) hingga 5 Mei 2021 baru mencapai 51 persen dari kapasitas yang disediakan. “Jumlah tiket yang terjual adalah rata-rata 28 ribu tiket per hari,” tuturnya.

PT KAI Sendiri menyediakan total 338.658 lembar tiket yang dijual selama periode 30 April sampai 5 Mei. Dari jumlah tersebut, tiket yang sudah terjual baru 173.949 lembar atau sekitar 51 persen yang sudah terjual.

Sebagai perbandingan, pada periode 1-29 April 2021, rata-rata KAI memberangkatkan 30 ribu pelanggan KA Jarak Jauh perhari. “Sehingga dapat dikatakan jumlah pelanggan masih normal, belum ada peningkatan yang signifikan,” jelas Joni.

Sementara itu, dalam simulasi penyekatan di Gerbang Tol Palimanan kemarin,
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo berpesan jangan sampai ada posko yang kosong. Doni meminta petugas yang berjaga diatur agar tidak menyebabkan kendornya penjagaan, sehingga tidak ada kendaraan yang lolos. “Mohon diperhatikan sehingga posko penyekatan ini terus dijaga selama 24 jam,” Kata Doni.

Dalam kesempatan itu, Doni juga meninjau simulasi penyekatan di GT Palimanan yang dilaksanakan petugas gabungan dari Polresta Cirebon, Dishub, BPBD, dan lainnya. Petugas akan memberhentikan sejumlah kendaraan berplat nomor dari luar cirebon kemudian menanyakan daerah asal dan tujuannya.

Kemudian akan dilakukan pengecekan sesuai prosedur yang ada, apabila tidak memenuhi, selanjutnya petugas langsung memutar balikkan ke daerah asalnya.

Bagi para pengendara yang masuk dalam pengecualian yang diperbolehkan mudik, maka petugas akan memasang stiker sebagai tanda sudah dilakukan pengecekan.
Tidak hanya itu, pos penyekatan juga akan melakukan pengambilan sample swab secara acak kepada para pengendara.

Aktivitas mudik warga Ibukota dan sekitarnya juga terpantau di sejumlah terminal bayangan. Seperti yang tampak di terminal bayangan di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Puluhan pemudik memadati area ruang tunggu penumpang. Ada sekitar 50 kursi yang disiapkan, seluruhnya terisi. Calon penumpang juga memadati bagian teras dan beberapa toko kaki lima di dalam terminal.

Salah satu perusahaan bus yang membuka loket penjualan tiket di terminal bayangan Lebak Bulus adalah Lorena. Petugas tiket Lorena yang tidak mau disebutkan namanya mengakui bahwa ada peningkatan jumlah calon penumpang di terminal yg berada tidak jauh dari Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri itu.

“Harga tiket juga sudah naik,” kata perempuan yang rambutnya mulai memutih itu. Dia mencontohkan untuk tiket menuju Jember pada hari biasa dipatok Rp 390 ribu/orang. Tetapi saat ini harganya sudah naik menjadi Rp 720 ribu atau naik hampir 85 persen.
Begitupun harga tiket untuk ke kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur juga mengalaminya. Beberapa armada bus lainnya mematok tarif ke Surabaya dengan haraganya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribuan. Dia mengatakan kenaikan harga tiket bus itu sudah berlaku sejak 30 April lalu. “Kenaikannya dimajukan,” katanya.

Rencananya kenaikan harga tiket bus di masa mudik lebaran 2021 berlaku mulai 6 Mei mendatang. Tetapi pemerintah menetapkan aturan larangan mudik pada rentang 6-17 Mei. Sehingga supaya tetap mengantongi keuntungan dan menekan kerugian, pengusaha bus mulai menaikkan harga tiket.

Sejumlah penumpang tidak mempersoalkan kenaikan harga tersebut. Meskipun kenaikannya cukup signifikan. Tetapi naik bus di masa pandemi lebih sederhana atau tidak ribet seperti naik kereta api atau pesawat. Penumpang langsung naik bus begitu armadanya sampai di lokasi.

“Tidak ada cek kesehatan seperti swab atau GeNose,” kata Hariadi, salah satu penumpang tujuan Jawa Tengah.

Dia mengaku sengaja pulang sekarang untuk antisipasi adanya pelarangan mudik. Dia berharap kepulangannya berjalan lancar. Dia juga mengaku dalam kondisi sehat. Sementara itu, Pantauan di Terminal Pulogebang, Jakarta Timur, terlihat cukup ramai dibanding hari sebelumnya. Dimana kenaikan jumlah penumpang terlihat di tanggal 29 April 2021 mencapai 1.382 penumpang dibanding hari sebelumnya hanya 943 penumpang.

Kasatpel Terminal Pulogebang Prasarana Wahyu Hidayat mengatakan, terminal Pulogebang memang mengalami lonjakan jumlah penumpang. Namun, ia menyebut kenaikan itu tidak signifikan dibanding sebelumnya. Apalagi dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19, sangat jauh turun. Saat ini jumlah penumpang maaih didominasi tujuan Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura.

“Kalau sebelum pandemi di hari week day rata-rata bisa memberangkatkan 2.000 sampai 3.000 penumpang per hari. Nah untuk di weekend bisa mencapai 4.000 sampai 5.000 penumpang per hari. Untuk sekarang ini, kemarin pas Mayday ada kenaikan keberangkatan sekitar 1.418 penumpang. Jadi memang jauh dibanding tahun sebelum pandemi, setengahnya,” kata Wahyu, kemarin (2/5).

Dikatakan Wahyu, saat ini Terminal Pulogebang memiliki 92 bus antar kota antar provinsi (AKAP). Namun, semenjak pandemi Covid-19, Perusahaan Otobus (PO) bus memutuskan untuk tidak mengoprasikan seluruh armadanya. Sebab, biaya operasional lebih tinggi dibanding pemasukan. Wahyu memprediksi lonjakan penumpang akan terjadi pada tanggal 4 serta 5 Mei 2021. Hal itu disebabkan masa berlaku surat hasil tes antigen serta GeNose yang diperketat menjadi 1×24 jam. Disamping itu, waktu perjalanan yang ditempuh oleh pemudik hanya satu hari.

“Karena kita memperkirakan pada saat larangan mudik itu bisa benar-benar minim penumpang. Karena memang persyaratan yang bisa dibilang cukup sulit untuk dipenuhi. Ini berkaca pada pengalaman kita tahun lalu, harus ada SIKM (surat izin keluar masuk) segala macam,” jelasnya.

Terkait pemasangan stiker pada bus yang beroperasi pada saat larangan mudik, Wahyu mengaku hingga saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub. Namun, ia memperkirakan untuk rahun ini akan berbeda.

“Sampai saat ini kita masih belum tau rencananya, kalau tahun lalu kita pakai stiker yang beroperasi pada saat kondisi arus mudik lebaran dari Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub. Untuk tahun ini belum dapat informasi,” terangnya.

Sementara di Terminal Pulogebang sendiri sudah menyiapkan layanan GeNose untuk para penumpang. Tapi, layanan GeNose hanya bersifat pemeriksaan secara acak atau sampling. Dimana, setiap harinya Terminal menyediakan sampling sekitar 10 sampai 15 GeNose untuk calon penumpang. Layanan GeNose sudah tersedia sejak tanggal 22 April, sampai nanti tanggal 24 Mei.

Sedangkan pelayanan kesehatan lainnya seperti tes antigen tidak ada. “Jadi kita memang hanya melakukan GeNose. Kemudian untuk calon penumpang kita bebaskan mereka mau bawa hasil tes dari luar, tidak harus di sini karena kita hanya menyediakan GeNose,” jelasnya.

Wahyu mengaku saat ini pihaknya masih menerapkan pembatasan jumlah penumpang yakni hanya boleh mengangkut 50 persen dari kapasitas bus. “Itu sesuai dengan Pergub 51 tahun 2020. Jadi kita masih tetap memberlakukan itu, jadi kalaupun nanti ada bus yang melebihi kapasitas dari 50 persen, kita tidak bisa berangkatkan. Nah kelebihan penumpang ini nanti kita minta perusahaan tersebut menyediakan bus lain dan dinaikkan di keberangkatan berikutnya,” tutupnya.

Seiring pelarangan mudik, DPP organisasi angkutan darat (Organda) meminta pemerintah serius menindak mobil travel gelap. Alasannya, travel ilegal ini memasang tarif mahal dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Penumpang pun tak terjamin asuransi. Sekjen Organda Ateng Aryono menyatakan saat ini adalah momen yang paling tetap untuk membuktikan komitmen pemerintah di saat pandemi. ” Jika pemerintah terlalu banyak memberikan dispensasi, kesannya pemerintah kurang serius mengurangi penyebaran Covid 19 disaat ada larangan mudik,” ungkapnya. Di sisi lain, menurut Ateng DPP Organda bersama pengusaha bus yang paling terdampak besar justru disiplin menaati pemerintah.

Upaya penindakan travel ilegal sudah dilakukan Kepolisian. Terkait hal ini, Ateng menyatakan merasakan kehadiran pemerintah sebagai bentuk rasa keadilan. Dia juga berharap penindakan angkutan gelap semestinya dapat dilakukan berkelanjutan. Hal ini guna memberikan tingkat kepastian dan kualitas angkutan umum jalan yang harus semakin baik. “Usaha transportasi agar tetap dijaga keberadaanya oleh semua stakeholder termasuk pemerintah sebagai regulator”, tambah Ateng.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pergerakan mudik sebelum dan sesudah tanggal pelarangan mudik. Ini untuk tersebut guna mengurangi risiko penyebaran penularan Covid-19. Pihaknya bersama dengan Kepolisian dan instansi terkait lainnya telah melakukan koordinasi khususnya dalam hal pengendalian transportasi selama masa peniadaan mudik nanti. “Saya mengajak seluruh pihak khususnya pemerintah daerah untuk menelaah kembali SE Nomor 13/2021 dan Permenhub Nomor 13/2021,” katanya. Untuk menindaklanjuti hal itu, Kemenhub telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 13 Tahun 2021 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Idul Fitri Tahun 1442 dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here