Home NASIONAL Klaster Baru Bermunculan, Dampak Libur Lebaran, Kasus Positif Terus Naik

Klaster Baru Bermunculan, Dampak Libur Lebaran, Kasus Positif Terus Naik

0
SHARE
Pasien Covid 19 melakukan senam dan olahraga sore di RS Darurat Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (26/5). Usai libur Lebaran terjadi kenaikan jumlah pasien yang masuk RS Darurat Wisma Antlet. FOTO: Fedrik Tarigan/Jawa Pos

JAKARTA-Satgas Covid-19 melakukan perpanjangan terhadap Adendum Surat Edaran (SE) Kepala Satgas Penanganan Covid-19, Nomor 13 tahun 2021 tentang pengetatan pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) pasca periode peniadaan mudik pada 6 hingga 17 Mei kemarin.

Sejatinya, masa pengetatan pasca periode tersebut akan berlangsung mulai 18 hingga 24 Mei. Namun, Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, melihat kondisi penularan dan masih tingginya mobilitas masyarakat antar wilayah, maka masa pengetatan diperpanjang hingga 31 Mei.

Perpanjangan ini khusus bagi PPDN antar wilayah di Pulau Sumatera. Maupun dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa.

Wiku menyebut saat ini sudah mulai bermunculan klaster-klaster baru di berbagai wilayah. “Di antaranya klaster halalbihalal, klaster salat tarawih serta klaster yang dipicu oleh perjalanan pemudik,” jelas Wiku kemarin (25/5).

Wiku menyebut, seperti yang telah peringatkan sebelumnya, bahwa kegiatan-kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kenaikan angka kasus. Namun nyatanya kita belum bisa sepenuhnya mencegah penularan. “Sebagus apapun kebijakan dibuat, jika tidak diiringi partisipasi aktif dari masyarakat, maka tidak akan memberi dampak positif,” katanya. Dalam perkembangan kasus mingguan per 23 Mei, dampak dari peningkatan aktivitas masyarakat selama periode Idul Fitri 1442 H mulai terlihat.

Menurut catatan satgas, kasus positif mingguan mengalami kenaikan hingga 36,1 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya. Padahal, minggu sebelumnya kasus positif tercatat turun hingga 28 persen. Kemudian hal ini juga diikuti oleh peningkatan kasus kematian mingguan sebesar 13,8 persen dari minggu sebelumnya. Disusul oleh penurunan kasus sembuh sebesar 2,7 persen dari minggu lalu. Hal ini kata Wiku menjadi alarm bagi semua pihak untuk waspada.

Karena kenaikan ini terekam pada satu minggu pasca peningkatan aktivitas Idul Fitri. Padahal secara umum, peningkatan kasus biasanya terjadi 2-3 minggu setelah kerumunan atau mobilitas terjadi. “Belum sampai dua minggu saja kasus sudah menunjukkan peningkatan signifikan. Ini adalah alarm bagi kita semua,” katanya.

Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta mengalami peningkatan keterhunian hingga 10 persen dalam kurun waktu 9 hari terakhir. Data Satgas penanganan Covid-19 menunjukkan, pada periode Selasa, 18 Mei, tingkat hunian RSDC Wisma Atlet sebesar 15,02 persen. Kemudian meningkat menjadi 25,21 persen pada hari Rabu 26 Mei kemarin. “Pengalaman yang lalu sehabis libur panjang lonjakan kasus akan meningkat, oleh karena itu kehadiran saya ingin memastikan kesiapan baik dari aspek personil maupun sarana dan prasarana pendukung lainnya,” ujar Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ganip Warsito saat berkunjung ke RSDC Wisma Atlet kemarin.

Ganip menegaskan RSDC Wisma Atlet sudah siap menghadapi jika terjadi potensi kenaikan kasus. “Kesiapan personil tidak ada masalah, daya tampung bisa diantisipasi, sarana dan obat-obatan siap hingga dua bulan ke depan dan terus menerus akan ditambah mengikuti kondisi nantinya,” tegas Ganip yang baru menjabat Kepala BNPB dua hari ini. Ia menjelaskan, sejak libur Idul Fitri hingga saat ini terjadi lonjakan pasien di RSDC Wisma Atlet rata-rata 100 orang per hari dan akan terus dilakukan pemantauan secara ketat hingga beberapa minggu ke depan.

“Sejak 18 Mei hingga hari ini (26/5) terjadi peningkatan pasien dengan kenaikan perhari sekitar 100 orang, hari ini 175 orang, sedangkan kemarin 175 orang. Kami berharap tidak akan semakin meningkat, hingga dua minggu ke depan akan terus dipantau perkembangan di sini,” ucapnya.

Sementara itu, 8 juta dosis vaksin tahap ke 13 kembali mendarat di tanah air pada selasa (25/5). Vaksin ini bermerk Sinovac adalam bentuk bulk.

Dengan demikian, jumlah total vaksin yang telah diterima Indonesia menjadi 83,9 juta dosis yang merupakan kombinasi antara vaksin jadi dan bulk. Untuk mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, perlu total vaksinasi terhadap 70 persen penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia. Realisasi pelaksanaan vaksinasi sampai hari ini adalah sekitar 25,2 juta. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here