Home TANGERANG HUB EURO 2020 Format Baru, Juara Baru?

EURO 2020 Format Baru, Juara Baru?

0
SHARE
Stadio Olimpico di Kota Roma, Italia akan menjadi tempat pembukaan Euro 2020, Sabtu (12/6) dini hari WIB. Usai pembukaan akan dilanjutkan dengan pertandingan grup A, Italia melawan Turki.

MICHEL Platini sudah membayangkan betapa megah dan meriahnya penyelenggaraan Euro 2020, yang sekaligus menjadi Euro edisi ke-16 di usia ke-60 tahun. Bayangan itu tersirat sembilan tahun silam. Kala itu, Platini masih menjabat presiden UEFA. Apa yang ada di benak Platini? Mantan kapten timnas Prancis itu membayangkan format Euro 2020 yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya. Yakni, turnamen yang berlangsung di banyak negara di kawasan Eropa.

’’Dengan format ini, Euro 2020 bisa langsung bersentuhan dengan fans sepak bola di banyak negara Eropa. Fans tak perlu datang ke negara tuan rumah. Tapi, Piala Eropa yang akan mendatangi fans,’’ kata Platini kala itu. Beberapa tahun setelah melontarkan gagasan tersebut, Platini harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Dia diamankan pihak berwajib karena terlibat dalam dugaan skandal korupsi Piala Dunia 2022. Meski demikian, gagasan Platini tetap direalisasikan. Bahkan, gagasan ’’Pan-European’’ ala Platini itu kini justru paling relevan di era pandemi saat ini.

Ya, dengan menyebar lokasi pertandingan, diharapkan tidak terjadi konsentrasi fans yang terlalu luas. Ketika venue disebar secara merata, suporter tak bergerombol di satu lokasi. New format yang diterapkan di Euro kali ini juga dianggap paling ideal di era new normal. UEFA memang harus menyesuaikan regulasi pertandingan dan kompetisi saat pandemi. Misalnya saja soal pergantian pemain. Aturan pergantian pemain hingga lima orang akan dipertahankan. Jika pertandingan sampai babak perpanjangan waktu, masing-masing tim boleh melakukan satu pergantian lagi. Skuad setiap kontestan pun semakin gemuk. Sebab, UEFA mengizinkan tim membawa 26 pemain untuk antisipasi jika ada yang positif Covid-19.

Memang, seharusnya pesta sepak bola negara di kawasan Benua Biru itu sudah berlangsung tahun lalu. Namun, badai pandemi Covid-19 merusak semua rencana. Edisi ke-16 Euro harus ditunda setahun kemudian. Tapi, penantian fans bola kini terobati. Kickoff laga pembuka Euro 2020 antara Italia melawan Turki bisa dinikmati dini hari nanti.

Demam Euro juga mulai merasuk di mana-mana. Euro adalah hiburan yang pas kala fisik terpenjara karena harus di rumah saja. Tebak skor dan tebak juara pun telah merebak di berbagai platform media. Tentu, tingkat kesulitan menebak siapa yang menjadi kampiun pada edisi kali ini terasa lebih tinggi. Sebab, pandemi telah merusak peta persaingan. Pandemi juga mereduksi kekuatan sejumlah kontestan. Namun, Prancis yang menjadi kampiun Piala Dunia 2018 termasuk salah satu kontestan yang diunggulkan. Ada pertimbangan teknis dan nonteknis di sana. Penggila Tim Ayam Jantan percaya bahwa Prancis bisa mengulang capaian 21 tahun lalu. Saat itu, mereka bisa mengawinkan gelar Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Tapi, ada juga yang berharap munculnya new champions alias juara baru. Harapan itu tercurah pada skuad The Three Lions alias timnas Inggris. Ya, sejak Euro bergulir pada 1960, belum sekali pun Inggris yang mengklaim sebagai nenek moyangnya sepak bola menjadi jawara. Tapi, fans Inggris yakin puasa gelar itu berakhir tahun ini. Alasannya, klub-klub Inggris merajai pentas antarklub Eropa tahun ini. Terutama Liga Champions yang mempertemukan dua klub Premier League.

Padahal, alasan itu tak bisa dijadikan pertimbangan. Sebab, jelang perhelatan Euro edisi-edisi sebelumnya, final antarklub Eropa juga sering mempertemukan klub satu negara. Pada 2016 misalnya. Final Liga Champions kala itu mempertemukan Real Madrid versus Atletico Madrid. Faktanya, bukan Spanyol yang juara, tapi Portugal. Pada 2008, Chelsea bentrok dengan Manchester United di final Liga Champions. Ironisnya, Inggris malah tak lolos putaran final Euro 2008. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here