Home NASIONAL Jangan ke Bandung Raya

Jangan ke Bandung Raya

0
SHARE

BANDUNG–Dari Bandung, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyatakan, wilayah Bandung Raya kini berstatus siaga satu Covid-19. Penetapan itu sehubungan dengan adanya zona merah di dua daerah besar, yakni Kabupaten Bandung Barat (KBB) dan Kabupaten Bandung.

Penetapan status tersebut juga dipengaruhi tingginya tingkat keterisian rumah sakit. Di wilayah Bandung Raya, tingkat keterisian RS berada di angka 84,19 persen. Melebihi ambang batas standar aman dari World Health Organization (WHO) 70 persen. ”Wilayah Bandung Raya kami nyatakan sedang siaga satu Covid-19,” kata Ridwan sebagaimana dilansir Radar Bandung. Dia menginstruksikan, pola kerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali diberlakukan di seluruh wilayah Bandung Raya. Hanya 25 persen jumlah pekerja yang diperkenankan masuk kantor.

Ridwan mengimbau agar masyarakat memaksimalkan pelaksanaan ibadah di rumah masing-masing. Kendati tak menyebut secara langsung ihwal penutupan tempat ibadah, Ridwan meminta agar masyarakat dapat memahami kondisi saat ini. Di samping itu, pelaksanaan sekolah tatap muka diminta untuk ditunda.

Ridwan juga mengimbau agar warga luar daerah tak berwisata ke Bandung Raya, khususnya ke Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung, hingga sepekan ke depan. ”Kami sedang menarik rem darurat untuk mengendalikan situasi. Memang terbukti bahwa libur panjang mudik menghasilkan lonjakan (kasus Covid-19) yang luar biasa,” ujarnya.

Di Semarang, tingginya kasus positif Covid-19 membuat kebutuhan lahan makam meningkat. Misalnya, yang terjadi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jatisari, Mijen, Semarang, yang selama ini dikhususkan untuk jenazah Covid-19. Setiap hari Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang menyiapkan 10–15 lubang untuk pasien Covid-19 yang meninggal.

Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman Disperkim Kota Semarang Murni Ediati menjelaskan, tingginya kebutuhan makam bagi pasien Covid-19 yang meninggal itu membuat dirinya bekerja sama dengan dinas pekerjaan umum (DPU) untuk menggali lubang dengan menggunakan alat berat agar pembuatan lubang lebih cepat.

”Kebutuhannya sangat tinggi. Kita siapkan 10–15 lubang. Permintaannya setiap hari mencapai 10 lubang sehingga kita gunakan alat berat untuk menggali liang kubur. Apalagi, lahan di sana banyak material batu sehingga menyulitkan jika digali dengan tenaga manusia. Posisi lahannya juga miring,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang kemarin siang (16/6).

Sampai akhir tahun ini, lanjut dia, TPU Jatisari hanya menyisakan 400 lubang untuk lahan seluas 3 hektare yang saat ini digunakan.

Angka tersebut sesuai dengan pengalaman pada awal Covid-19 yang mencapai angka 400–500 makam yang telah digunakan. Namun, langkah antisipasi juga dilakukan berupa perluasan lahan sesuai dengan detail engineering design (DED).

”Kita belajar dari tahun kemarin untuk menyiapkan 400 lubang ini secara bertahap. Kalau memang dibutuhkan, ya kita siap melakukan perluasan atau membuka lahan yang masih ada,” tambah Kasi Penyelenggaraan Pemakaman Disperkim Kota Semarang Djunaidi.

Sebagaimana diketahui, jumlah daerah zona merah di Jateng kini mencapai 11 wilayah. Keterisian bed tempat isolasi maupun ICU khusus Covid-19 di daerah tersebut juga sudah penuh. Pasien yang tidak memperoleh bed atau tempat isolasi dirujuk ke rumah sakit luar wilayah yang tidak berstatus zona merah. Setidaknya, konversi rumah sakit umum di zona merah tersebut akan memberikan relaksasi bagi rumah sakit di wilayah non-zona merah yang menjadi rujukan. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here