Home TANGERANG HUB Mikrolockdown, Pemda Harus Tegas

Mikrolockdown, Pemda Harus Tegas

0
SHARE
Sejumlah pasien Covid 19 berjemur dan berolahraga di lingkungan RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/6). Rumah sakit darurat ini, mengalami lonjakan jumlah pasien Covid-19. FOTO: Fedrik Tarigan/Jawa Pos

JAKARTA-Secara nasional, kasus yang terkonfirmasi Covid-19 meningkat dari sebelumnya 8.161 menjadi 9.944 kasus. Penyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat diikuti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di sisi lain, penelitian vaksin dalam negeri juga tengah digenjot.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan terkait Covid-19 Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan pentingnya komitmen dari pemerintah daerah (pemda) dalam penanganan Covid-19. Pemda bisa melaksanakan PPKM Mikro dengan serius sesuai aturan. “Testing dan tracing harus diperluas juga. Pelaksanaan mikrolockdown harus tegas,” bebernya. Jika daerah berzona merah dan berpotensi penularan komunitas maka harus segera ambil tindakan.
Ini perlu diawasi juga. “Keluar masuk warga harus termonitor,” ucapnya.

Dia menyayangkan masih ada pemda yang tidak melaporkan kasus secara realtime. Alasannya bermacam-macam. Misalnya saja karena takut menjadi zona merah. Padahal jika mengetahui jumlah kasus secara jelas, akan mudah dalam intervensi.

Di Wisma Atlet Kemayoran terdapat 5.551 orang yang dirawat. Jumlah ini sudah 75 persen dari kapasitas tempat tidur di rumah sakit darurat Covid-19 tersebut. Padahal petugas telah menambahkan lebih dari 1.400 tempat tidur. “Kalau belum ditambah kapasitas terhuninya sampai 95 persen,” ujar Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI dr Tugas Ratmono, kemarin.

Menurutnya, peningkatan ini sudah diprediksi sejak sebelum Lebaran. Untuk itu petugas di Wisma Atlet Kemayoran mengantisipasi lonjakan dengan menambah jumlah tempat tidur. Namun, dia mengkhawatirkan jika pasien terus membeludak. Hingga kemarin masih sisa 1.883 tempat tidur saja. Jika pertambahan pasien harian mencapai 500 orang saja, rumah sakit tersebut hanya bisa bertahan selama empat hari hingga akhirnya tempat tidur pasien penuh. Wisma Atlet Kemayoran memang digunakan untuk pasien yang bergejala ringan hingga sedang saja.

Memang pemerintah DKI Jakarta menyiapkan satu tower lagi di Wisma Atlet Pademangan dan satu rusun di daerah Clincing. Namun, hingga berita ini ditulis, tempat tersebut belum bisa digunakan. Tugas menjelaskan bahwa di Wisma Atlet Kemayoran lebih banyak dihuni oleh pasien dengan klaster keluarga. Bahkan ibu rumah tangga banyak dirawat. “Ada pasien yang tidak tahu tertular dari mana. Kalau tidak pernah ke mana-mana, mungkin ada keluarga yang mobilitas,” ujarnya.

Bagaimana dengan tenaga kesehatan di Wisma Atlet Kemayoran? Tugas menegaskan bahwa tak ada masalah dengan nakes. Sebab dia telah meminta tambahan 100 dokter dan 400 perawat dari PPSDM Kemenkes.

Selama ini ada lima tim yang bekerja dalam sehari. Mereka berja dalam tiga shift berdurasi 8 jam. “Masih terkendali meski ada lonjakan tinggi,” kata Tugas.

Selain itu, mereka yang bertugas sudah dibekali dengan orientasi. Beberapa perawat dan dokter juga diberikan ketrampilang untuk merawat pasien berat di IGD maupun ICU. Sebab, di Wisma Atlet terkadang ada pasien dengan kondisi berat.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny Harry membeberkan bahwa kenaikan kasus ini merupakan dampak libur panjang. Pada masa libur panjang ini ada mobilitas manusia yang merupakan sarana penularan Covid-19. “Kami mengamati dashboard monitoring ada penurunan kepatuhan protokol kesehatan,” katanya pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, masyarakat sudah paham pengetahuan akan prokes. Untuk itu perlu peran pemda dalam mengawasi. Tujuannya agar prokes tak hanya dipahami tapi dijalankan juga.

Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M) efektif dalam membatasi penularan Covid-19. Ini menurut Sonny bukan hanya opini saja, tapi juga berdasar kajian ilmiah. “Begitu kesadaran prokesnya turun, kasus akan naik,” ungkapnya.

Keluarga menurutnya harus menjadi benteng dari penularan kasus. Sayang, sekarang kasus keluarga banyak terjadi. Ini menurutnya karena banyak yang tidak menerapkan prokes pada saat kumpul keluarga. Menganggap anggota keluarga tak ada yang berpeluang membawa virus Covid-19. “Harusnya jika bertemu keluarga terutama dengan mereka yang tidak serumah, harus menerapkan prokes,” bebernya.

Dia meminta agar masyarakat tak lagi jadi objek dalam penanganan Covid-19. Artinya masyarakat harus memiliki peran dalam penurunan kasus.

Kemarin juga dilakukan rapat dengar pendapat antara Komisi VII DPR RI dengan konsorsium riset dan inovasi Covid-19. Termasuk dengan Terawan Agus Putranto yang mengembangkan vaksin Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here