Home TANGERANG HUB Mikrolockdown, Pemda Harus Tegas

Mikrolockdown, Pemda Harus Tegas

0
SHARE

JAKARTA-Secara nasional, kasus yang terkonfirmasi Covid-19 meningkat dari sebelumnya 8.161 menjadi 9.944 kasus. Penyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat diikuti DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di sisi lain, penelitian vaksin dalam negeri juga tengah digenjot.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan terkait Covid-19 Siti Nadia Tarmizi juga mengatakan pentingnya komitmen dari pemerintah daerah (pemda) dalam penanganan Covid-19. Pemda bisa melaksanakan PPKM Mikro dengan serius sesuai aturan. “Testing dan tracing harus diperluas juga. Pelaksanaan mikrolockdown harus tegas,” bebernya. Jika daerah berzona merah dan berpotensi penularan komunitas maka harus segera ambil tindakan.
Ini perlu diawasi juga. “Keluar masuk warga harus termonitor,” ucapnya.

Dia menyayangkan masih ada pemda yang tidak melaporkan kasus secara realtime. Alasannya bermacam-macam. Misalnya saja karena takut menjadi zona merah. Padahal jika mengetahui jumlah kasus secara jelas, akan mudah dalam intervensi.

Di Wisma Atlet Kemayoran terdapat 5.551 orang yang dirawat. Jumlah ini sudah 75 persen dari kapasitas tempat tidur di rumah sakit darurat Covid-19 tersebut. Padahal petugas telah menambahkan lebih dari 1.400 tempat tidur. “Kalau belum ditambah kapasitas terhuninya sampai 95 persen,” ujar Koordinator RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran Mayjen TNI dr Tugas Ratmono, kemarin.

Menurutnya, peningkatan ini sudah diprediksi sejak sebelum Lebaran. Untuk itu petugas di Wisma Atlet Kemayoran mengantisipasi lonjakan dengan menambah jumlah tempat tidur. Namun, dia mengkhawatirkan jika pasien terus membeludak. Hingga kemarin masih sisa 1.883 tempat tidur saja. Jika pertambahan pasien harian mencapai 500 orang saja, rumah sakit tersebut hanya bisa bertahan selama empat hari hingga akhirnya tempat tidur pasien penuh. Wisma Atlet Kemayoran memang digunakan untuk pasien yang bergejala ringan hingga sedang saja.

Memang pemerintah DKI Jakarta menyiapkan satu tower lagi di Wisma Atlet Pademangan dan satu rusun di daerah Clincing. Namun, hingga berita ini ditulis, tempat tersebut belum bisa digunakan. Tugas menjelaskan bahwa di Wisma Atlet Kemayoran lebih banyak dihuni oleh pasien dengan klaster keluarga. Bahkan ibu rumah tangga banyak dirawat. “Ada pasien yang tidak tahu tertular dari mana. Kalau tidak pernah ke mana-mana, mungkin ada keluarga yang mobilitas,” ujarnya.

Bagaimana dengan tenaga kesehatan di Wisma Atlet Kemayoran? Tugas menegaskan bahwa tak ada masalah dengan nakes. Sebab dia telah meminta tambahan 100 dokter dan 400 perawat dari PPSDM Kemenkes.

Selama ini ada lima tim yang bekerja dalam sehari. Mereka berja dalam tiga shift berdurasi 8 jam. “Masih terkendali meski ada lonjakan tinggi,” kata Tugas.

Selain itu, mereka yang bertugas sudah dibekali dengan orientasi. Beberapa perawat dan dokter juga diberikan ketrampilang untuk merawat pasien berat di IGD maupun ICU. Sebab, di Wisma Atlet terkadang ada pasien dengan kondisi berat.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Sonny Harry membeberkan bahwa kenaikan kasus ini merupakan dampak libur panjang. Pada masa libur panjang ini ada mobilitas manusia yang merupakan sarana penularan Covid-19. “Kami mengamati dashboard monitoring ada penurunan kepatuhan protokol kesehatan,” katanya pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, masyarakat sudah paham pengetahuan akan prokes. Untuk itu perlu peran pemda dalam mengawasi. Tujuannya agar prokes tak hanya dipahami tapi dijalankan juga.

Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M) efektif dalam membatasi penularan Covid-19. Ini menurut Sonny bukan hanya opini saja, tapi juga berdasar kajian ilmiah. “Begitu kesadaran prokesnya turun, kasus akan naik,” ungkapnya.

Keluarga menurutnya harus menjadi benteng dari penularan kasus. Sayang, sekarang kasus keluarga banyak terjadi. Ini menurutnya karena banyak yang tidak menerapkan prokes pada saat kumpul keluarga. Menganggap anggota keluarga tak ada yang berpeluang membawa virus Covid-19. “Harusnya jika bertemu keluarga terutama dengan mereka yang tidak serumah, harus menerapkan prokes,” bebernya.

Dia meminta agar masyarakat tak lagi jadi objek dalam penanganan Covid-19. Artinya masyarakat harus memiliki peran dalam penurunan kasus.

Kemarin juga dilakukan rapat dengar pendapat antara Komisi VII DPR RI dengan konsorsium riset dan inovasi Covid-19. Termasuk dengan Terawan Agus Putranto yang mengembangkan vaksin Nusantara.

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Ismunandar menjelaskan bahwa vaksin Merah Putih yang dikembangkan Lembaga Molekuler Eijkman akan melakukan uji praklinis pada November nanti. Selanjutnya uji klinis bisa dilakukan pada tahun depan. Bio Farma pun sudah digandeng untuk nanti memproduksi vaksin tersebut.

“Menunggu kesiapan Bio Farma dan mitra lain untuk menggunakan vaksin berbasis mamalia,” ungkapnya. Selama ini Bio Farma baru memiliki teknologi produksi vaksin yang berbasis sel ragi.

Vaksin yang berbasis inactivated virus yang dikembangkan Universitas Airlangga juga sudah memiliki kemajuan. Dia memperkirakan clinical loadnya akan dilakukan Agustus nanti. Proses ini dilanjutkan dengan uji klinis tahap I hingga 3. Selain itu ada LIPI,Universitas Indonesia, ITB, dan UGM yang turut mengembangkan vaksin.

Pada kesempatan yang sama, Komisi VII juga mengundang Terawan. Mantan Menkes itu mengaku heran kenapa pihaknya tidak diperbolehkan uji klinis tahap 3. “Saya tidak menggunakan anggaran negara. Hanya membutuhkan political will,” ungkapnya.

Dia lantas meminta dukungan Komisi VII untuk mendukung legalitas uji klinis tahap 3. Dia menyatakan yakin untuk melakukan uji klinis tahap 3 ini. Ketika mendapatkan halangan, dia mengaku sakit hati. “Ada kendala untuk uji klinis tahap 3 saja tidak boleh. Itu yang menurut saya melikai hati dan saya ingin tetap bertahan,” ujarnya.

Terpisah, Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Prof Herawati Sudoyo mengungkapkan, pemberian vaksin Covid-19 jadi solusi tepat untuk mengurangi keparahan kasus Covid-19. Termasuk, melindungi dari penularan mutasi Covid-19.

Dia mengungkapkan, hingga kini, belum ada penelitian yang menunjukkan adanya vaksin yang tidak efektif dalam menangkal mutasi virus Covid-19. Meski, ada penurunan efikasi.
”Namun hal itu tidak mengurangi makna perlindungan yang diberikan vaksin Covid-19 itu sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, perlu dicermati pula bahwa sebagain besar produsen vaksin telah mencoba mencapai tingkat efikasi hingga 70 persen. Sehingga, dapat digunakan untuk memerangi mutasi baru virus SARS-CoV-2 ini.

Oleh sebab itu, ia meminta para ilmuwan untuk angkat bicara demi meluruskan kesimpangsiuran informasi mengenai vaksinasi. Hal ini juga dalam rangka mendukung upaya pemerintah untuk mempercepat proses vaksinasi Covid-19 saat ini.

”Kejadian ikutan pasca imunisasi misalnya. Hanya terjadi beberapa persen dari jutaan yang sudah divaksinasi,” tuturnya.

Selain itu, semua pihak juga harus gencar mensosialisasikan bahwa tak cukup hanya dengan vaksin untuk mengalahkan Covid-19. Masyarakat juga wajib mematuhi protocol kesehatan dengan tetap menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun serta air mengalir.

”Sekarang yang mulai longgar itu protokol kesehatan karena adanya vaksinasi. Harus kita perketat lagi karena adanya mutasi baru yang sudah bertransmisi lokal,” paparnya.

Di sisi lain, Juru Bicara Vaksinasi Bio Farma Bambang Heriyanto menyampaikan, hingga akhir 2021, produsen vaksin seperti Sinovac sudah berkomitmen untuk mengirimkan vaksin dalam bentuk bulk sejumlah 260 juta dosis.

Kemudian, dari jalur kerja sama multilateral atau fasilitas COVAX sudah datang ssekitra 8 juta dosis. Ada pula AstraZeneca dengan komitmen sebesar 50 juta dan Novavac 50 juta dosis.

Menurutnya, jumlah tersebut dapat mencukupi kebutuhan dosis vaksin hingga tercapai herd immunity. ”Apabila dari COVAX kita bisa mendapatkan komitmen hingga 20 persen dari jumlah penduduk, kita bisa mencukupi kebutuhan dosis vaksin untuk herd immunity,” pungkasnya. (jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here